Manusia adalah makhluk yang penuh ironi. Kita merawat kendaraan dengan ketelitian luar biasa, tetapi tubuh kita, satu-satunya rumah yang benar-benar kita tinggali, dibiarkan bekerja tanpa jeda, diabaikan, bahkan dieksploitasi. Kita menganggapnya sebagai mesin yang tak terbatas, hingga suatu hari tubuh mulai memberontak: kelelahan yang tak kunjung hilang, penyakit yang diam-diam tumbuh, atau sekadar kehilangan semangat hidup yang dulu terasa begitu alami. Sehat Setengah Hati adalah sebuah refleksi tajam bagi diri sendiri, tentang bagaimana kita memperlakukan tubuh, mengupas lapisan-lapisan paradoks manusia yang sadar akan pentingnya kesehatan, tetapi tetap menunda untuk bertindak, seolah-olah waktu dan daya tahan tubuh adalah sumber daya yang tak akan habis. Dengan menggunakan lensa Health Belief Model, buku ini mengajak kita menyelami bagaimana keyakinan dan persepsi membentuk pola hidup kita. Dari rasa kebal semu terhadap penyakit (perceived susceptibility), kecenderungan menyepelekan ancaman kesehatan (perceived severity), hingga ilusi bahwa perubahan itu sulit dan penuh hambatan (perceived barriers), kita sering kali menjadi korban dari cara pikir kita sendiri. Namun, di antara itu semua, ada potensi pemahaman yang lebih dalam tentang manfaat hidup sehat (perceived benefits) dan keberanian untuk bertindak (cues to action) yang dapat mengubah jalan hidup kita. Tidak ada manusia yang benar-benar tak peduli pada kesehatannya, yang ada hanyalah mereka yang terlalu lama terjebak dalam kebiasaan menunda.
Lebih dari sekadar kritik sosial, Sehat Setengah Hati adalah ajakan bagi kita untuk kembali mencintai tubuh dengan kesadaran penuh—bukan dengan ketakutan akan penyakit, tetapi dengan rasa syukur karena diberi kesempatan untuk menjaga kehidupan. Ia mengingatkan bahwa sehat bukan sekadar kondisi fisik, tetapi juga kebebasan untuk bermimpi, bergerak, dan menikmati hidup tanpa batasan. Sehat bukanlah sesuatu yang harus kita perjuangkan ketika telah jatuh sakit, tetapi sesuatu yang perlu kita rawat sejak awal, sebagai bentuk penghormatan kepada satu-satunya rumah yang tak bisa kita tinggalkan: tubuh kita sendiri.
Tiga paragraf di atas adalah blurb buku "Sehat Setengah Hati" karya dr. Ray Wagiu Basrowi. Sekarang yuk kita simak highlighted points yang aku catat dari buku yang abru saja aku tamatkan ini.
- Manusia lupa bahwa tubuh bukanlah sekadar alat, melainkan rumah bagi jiwa. Ketika rumah itu runtuh, tidak ada tempat lain untuk berlindung.
- Menurut WHO, gaya hidup sementara (kurang gerak) bisa meningkatkan risiko kematian dini hingga 20-30%.
- Health Belief Model (HBM) adalah sebuah konsep keilmuan untik memahami motivasi hidup sehat manusia dan alasan mereka mengabaikan kesehatan berdasarkan keyakinan dan pemaknaan, bukan fakta.
- Komponen HBM antara lain
- Perceived Susceptibility (Persepsi Kerentanan)
- Perceived Severity (Persepsi Keparahan)
- Perceived Benefits (Persepsi Manfaat)
- Perceived Barriers (Persepsi Hambatan)
- Ada lagi poin Cues tk Action (Pemicu Aksi) & Self Efficacy (Efikasi Diri/mengukir keyakinan seseorang terhadap kemampuannya agar berhasil melakukan tindakan yang diperlukan).
- Pada tentang 2018-2020, sekitar 4% penduduk Indonesia mengeluarkan pembiayaan kesehatan katastropik, yaitu pengeluaran kesehatan yang melebihi 25% dari total konsumsi rumah tangga (Laporan Pemantauan Global Cakupan Kesehatan Semesta 2023).
- Confirmation bias terjadi ketika kita cenderung mencari informasi yang mendukung hambatan kita daripada mencoba menantangnya.
- Otak cenderung menyukai kepastian dan menghindari ketidakpastian yang disebut cognitive closure.
- Konsep Dasein dalam konteks HBM berarti melihat bagaimana seseorang hadir secara autentik dalam menyadari & merespon dorongan-dorongan untuk menjadi sehat.
- Seorang filsuf William James oernah mengatakan "Kepercayaan diri adalah kunci untuk keberhasilan.". Bukan hanya berpikir positif tapi memiliki keyakinan realistet terhadap kemampuan kita dalam mengatasi hambatan.
- Filsuf Prancis Albert Camus, menjelaskan tentang abuairditas kehidupan manusia seringkali terjebak dan rutinitas & kebiasaan yang, meskipun merusak, memberikan rasa aman karena sudah mengenalnya.
- Marx belendapat bahwa dam masyarakat kapitalis, individu seringkali masuk dam kondisi merasa terpisah dari produk kegemaran mereka dan diri mereka sendiri.
- Dalam ilmu filsagat, kondisj COVID19 mencerminkan ketidakpastian manusia
- Dan dam filsafat eksistensialisme ketidakoaatuakn semacam itu sering disebut sengaja bentuk kecemasan.
- Data dari WHO menunjukkan sebanyak 70% ibu yang merasa percaya diri dengan kemampuan mereka u tim menyusui lebih mungkin berhasil melakukan ASJ eksklusif selama enam bulan.
- Dari sudut pandang filosofis pencegahan stunting adalah selayaknya menanam pohon; manfaatnya tidak langsung terlihat namun butuh proses dan waktu.
- Data dari survei Kementerian Kesehatan menunjukkan sebanyak 70% keluarga mulai memahami pentingnya gizi seimbang setelah mengikuti program edukasi di Posyandu.


0 komentar: