Pendidikan Dini Kecakapan Diri: Solusi Pembangunan Karakter Pada Jenjang Pendidikan Dasar (Dipresentasikan di Bali, Desember 2014)



PAUD Tarak di Kabuapten Fakfak, Papua (sumber : Indonesia Mengajar)

Pendidikan Dini Kecakapan Diri: Solusi Pembangunan Karakter Pada Jenjang Pendidikan Dasar
oleh : Evi Syahida

“Setiap anak tidak terdidik adalah dosa orang terdidik.” (Anonim)
Siapapun yang membaca kutipan diatas mungkin akan tercengang dan bertanya-tanya maksudnya. Kutipan di atas secara tidak langsung menyatakan bahwasanya setiap anak Indonesia wajib mendapatkan pendidikan yang layak, sebagaimana yang diungkapkan dalam UUD 1945. Sejatinya sejak awal pembentukannya, bangsa ini sudah memahami betul hakikat urgensi pendidikan bagi warga negaranya.



Indonesia menerapkan tiga tahapan pendidikan yakni pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/Mts), pendidikan menengah (SMA/MA) dan pendidikan tinggi (PTN). Pendidikan dasar merupakan tahapan yang sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan seorang individu. Pendidikan dasar bagaikan fondasi sedangkan individu diibaratkan sebuah bangunan. Jika fondasi sebuah bangunan itu baik, maka bangunan itu akan mampu berdiri kokoh. Begitupun dengan individu. Jika pendidikan dasar diberikan dengan baik maka ia akan mampu menyerap ilmu pada jenjang pendidikan berikutnya dan meningkatkan kualitas dirinya.
Makna Pembangunan Karakter
Secara etimologis, kata karakter bisa berarti tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, atau watak (Tim Redaksi Tesaurus, 2008: 229). Sedangkan secara terminologis, makna karakter dikemukakan oleh Thomas Lickona. Menurutnya karakter adalah “A reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way.” Selanjutnya ia menambahkan, “Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior” (Lickona, 1991: 51).
Pendidikan karakter menurut, Ryan dan Bohlin, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good) (Lickona, 1991: 51).
Pembangunan karakter adalah kondisi dimana individu memiliki karakter dalam dirinya yang terbentuk dan kasat mata terlihat orang lain. Pembangunan karakter bukanlah hal yang mudah dan tidak serta merta dapat terjadi secara instan. Kesadaran pemerintah Indonesia terhadap pentingnya pembangunan karakter dibuktikan dengan diterapkannya pendidikan karakter pada beberapa kampus dalam negeri sebagai pemodelan. Sementara itu pada tingkan pendidikan menengah marak diaplikasikannya Kantin Kejujuran yakni kantin tanpa penjual sehingga mengandalkan kejujuran para pembelinya. Selanjutnya bagaimana dengan pendidikan karakter di jenjang pendidikan dasar? Seberapa pentingnya kah?
Studi Kasus Bullying Sekolah Dasar di Padang
Pembangunan karakter amat penting diterapkan pada siswa di berbagai jenjang pendidikan. Beragam permasalahan yang muncul pada pendidikan dasar salah satunya disebabkan kurangnya pembangunan karakter pada diri anak didik di jenjang pendidikan dasar.
Kita tentu tak lupa dengan sebuah fenomena ‘besar’ yang ‘menjatuhkan’ nama baik pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan dasar.  Berbagai sosial media tak luput dengan pemberitaan tersebut. Fenomena ini terjadi di sebuah sekolah dasar di kota Padang, Sumatera Barat. Seorang siswi mengalami tindak bullying oleh teman-teman sekelasnya yang notabene laki-laki dikarenakan hal sepele.
Kasus ini pun terangkat lantaran maraknya media sosial yang mengangkat berita ini. Sayangnya kasus ini hanya diselesaikan dengan satu kata maaf. Mengucapkan maaf lalu selesai. Musyawarah memang dibenarkan dalam menyelesaikan masalah. Namun untuk kasus kali ini berbeda karena harus ada imbas jera pada pelaku yakni para siswa yang melakukan tindak bullying.
Hal itu merupakan implikasi dari kurangnya pembangunan karakter pada jenjang pendidikan dasar. Hal itu juga merupakan ‘pukulan’ besar bagi pendidikan dasar di Indonesia. Lantas maukah kita melihat fenomena-fenomena semacam terulang kembali? Tentu saja tidak. Lantas bagaimana mengimplementasikan urgensi pembangunan karakter tersebut pada mereka?
Pendidikan Dini Kecakapan Diri
Urgensi pembangunan karakter dalam hal ini menitikberatkan pada kecerdasan religi, kecerdasan moral dan kecerdasan sosial. Kecerdasan akhlak berkaitan dengan hubungan vertikal antara individu dengan Tuhannya. Kecerdasan moral berkaitan dengan sikap  dan sifat yang dimiliki individu. Sedangkan kecerdasan sosial berkaitan dengan interaksi individu dengan individu lainnya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Dini Kecakapan Diri (PDKD) adalah salah satu solusinya. Kecakapan diri atau dalam bahasa asing life skill adalah kemampuan diri individu dalam bertahan hidup dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Tak dapat disangkal, manusia adalah makhluk sosial. Manusia senantiasa membutuhkan bantuan manusia lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun manusia juga hendaknya dapat hidup mandiri. Dalam hal ini manusia tidak seharunya amat bergantung pada orang lain. Untuk dapat hidup mandiri tentunya manusia harus dibekali kemampuan hidup atau yang kerap disebut kecakapan diri.
PDKD pada tulisan ini memfokuskan diri pada tujuan, konten kegiatan dan peluang keberlanjutannya. Tujuan PDKD adalah meningkatkan kecapakan diri peserta didik dan melatihan kemampuan entrepreneur pada diri peserta didik. PDKD mengajarkan siswa untuk memanfaatkan potensi dirinya serta menjadi seorang entrepreneur cilik. Sebagai contoh, siswa dengan potensi melukis dapat menjual jasanya tersebut.
PDKD dintegrasikan pada mata pelajaran namun pelaksanaannya tidak mengganggu pelaksanaan pembelajaran di kelas. Pelaksanaannya seminggu sekali. Pada mulanya dilakukan identifikasi potensi siswa lalu mereka dikelompokkan beradasarkan potensinya. Contoh pengelompokan itu antara lain siswa yang berpotensi menulis, melukis dan berkerajinan tangan. Setiap minggunya siswa dilatih untuk menghasilkan satu karya oleh guru pembimbing.

Sayangnya tidak sedikit pihak yang meragukan kecakapan diri seorang siswa pada jenjang pendidikan dasar. Mereka dianggap sebagai anak-anak yang hanya bertugas belajar, belajar dan belajar di sekolah. Padahal kecakapan diri tidak hanya diperlukan pada orang dewasa melainkan juga anak-anak. Bahkan pendidikan kecakapan diri hendaknya dimulai sejak anak-anak agar mereka terbiasa hidup mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Tentu saja pendidikan yang dilakukan dengan cara yang menarik namun tetap edukatif, menyesuaikan dengan kondisi psikologis siswa pada usia tersebut.
Melalui PDKD diharapkan karakter siswa dapat terbangun antara lain daya juang, kemandirian dan keteguhan.
Referensi         :
Marzuki, M. Murdiono, dan Samsuri. Pembinaan Karakter Siswa Berbasis Pendidikan Agama Di Sekolah Dasar Dan Sekolah Menengah Pertama Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta, 2008.

Tim Penulis Mitra Forum Pendidikan. Oase Pendidikan di Indonesia. Tanoto Foundation: Jakarta, 2014.

0 komentar: