Ads 468x60px

Kamis, 14 April 2016

Lika Liku Sang Mapres (3): Karya dan Prestasi Tak Sebatas di Panggung (Mawapres)


Bismillahirrahmanirrahim..
Baca cerita sebelumnya disini:

Lika-Liku Sang Mapres (1): Aku Ingin Jadi Mapres, Tapi....


Pertengahan Maret 2014
Beberapa minggu sebelum grandfinal mawapres aku sudah berkenalan dengan mapres fakultas lainnya. Kemudian kami mengadakan kumpul perdana yang kuinisiatifi.

Mereka adalah..jengjeng.. Kak Hendri dari FBS, Aida dari FIP, Riska dari FIS, Akbar dari FIK, Dania dari FE, Yulio dari FT dan aku dari FMIPA. Oh ya ada juga mapres D3 FIS Aul dan Krisa serta mapres D3 FE yaitu Nyimas. Wuiih mereka orang yang seru, menyenangakan dan juga kocak-kocak..apalagi kak Hendri, wkwk.

Di pertemuan kedua kami bahas tentang mosi pidato yang akan muncul. Di pertemuan ketiga kami masih asyik membahas mosi, tiba-tiba Yulio mengajak kami ke asramanya. Katanya disana lagi ada English Class. Oke capcus.
Wuiih seru deh kelasnya, banyak belajar dari sana. Alhamdulillah!



Oh ya di bulan ini juga ada salah satu rangkaian seleksi mawapres yaitu Tes Psikologi yang diadakan di kampus D UNJ. Wuiih aslii ini first time banget aku kesini dan aku rasa mungkin juga fisrt time buat yang lain, hehe. Di ruangan hanya ada kami bersembilan. Alhamdulillah berjalan lancar. Yang seru itupas tes ngerjain penjumlahan. Selembar kertas gede isinya angka semua dan harus dijumlahkan ke samping dan ke bawah. Beuh.. lier lier dah tuh! Haha.
 

April 2014
Hari yang dinantikan nyaris tiba. H minus 1 kami mengadakan gladi resik di aula maftuchah.

“Besok kalian harus sudah hadir disini pukul 07.00.” kata kak Fadli, ketua panitia sekaligus Mawapres UNJ 2013.

Siap, Kak!
Bismillah untuk esok hari ya Allah..

Keesokan harinya..
Hari ini adalah hari yang istimewa bagiku dan ingin kujadikan pula sebagai hari istimewa untuk kedua orangtuaku. Berhubung ayahku kerja jadi ibukulah yanh menemaniku. Ibu harus jadi saksi perjuanganku di kampus salah satunya melalui grandfinal mawapres ini.
Setibanya di kampus aku berusaha merileksasi diriku sedemikian hingga apalagi aku tahu urutan majuku yang PERTAMA!

Setelah dibuka oleh pak PR3, singkat cerita dimulailah sesi presentasi dengan juri Pak Anggoro (Dosen Fisika) dan Pak Ivan (Dosen Bahasa Inggris). Bismillah.. Kumulai presentasi KOMON-ku.

Saat presentasi kulihat di tribun atas teman-temanku dari FMIPA tampak membentangkan spanduk bertuliskan dukungan untukku juga fotoku. Duh malunya~ Ada juga Bu Fatihah dan Pak Rusdy di bagian depan. Aku tidak akan mengecewakan mereka!

Selesailah sesi presentasi, sempat tergagap saat menjawab pertanyaan dewan juri but i have done my best!

"Visya nya satu, pendukungnya banyak! Visya nya satu pendukungnya banyak!"

Yel-yel yang selalu menggema tiap kali namaku disebut oleh MC. Duh antara terharu dan tersipu malu, hehehe.

Beberapa menit setelah presentasi aku masuk ke ruang wawancara psikologis. Yap di grandfinal ini ada 3 tahap seleksi yaitu presentasi, wawancara dan mosi.

Di ruang wawancara tampak ibu dosen yang juga kutemui saat tes psikologi dan baru aku tau beliau bernama Bu Ririn, dosen dari Psikologi UNJ. Hmm pembawannya ramah dan lembut sekali ibu yang satu ini. Tak ada yang menyangka bahwa ajang mawapres ini adalah awal kedekatanku dengan beliau di waktu-waktu berikutnya.

Bu Ririn memintaku menceritakan diriku dan kulakukan. Tentang motivasiku mengikuti mawapres, tentang masa laluku dan lain-lain. Aahh berasa lega abis curhat hehe.

Sekembalinya aku ke aula tak kulihat ibuku ternyata ibuku sakit dan memilih beristirahat di masjid ditemani teman-temanku. Ya Allah. maafkan aku Bu :(

Setelah menemui ibu di masjid dan memastikan beliau aman disana aku kembali ke aula. Saat sesi istirahat kuhampiri teman-temanku di tribun atas dan lagi-lagi mereka meneriakkan yelyel. Masya Allah! :D

Eh Bu Fatihah ikutan gabung dengan kami di belakang. Kami pun narsis ria bersama. Alhamdulillah.

Btw di antara 8 mawapres lainnya aku paling deket sama Krisa dan Nyimas. Krisa asalnya dari Medan, Nyimas sama-sama Jaksel kita sering cerita bareng dan punya mimpi yang sama walau belum tau ke depannya seperti apa.

Btw lagi karya tulisnya keren-keren deh.
Kak Hendri menggagas kafe bahasa. Danis menggagas sistem syariah. Riska membahas tentang anak buruh migran. Yulio mengagas metode belajar bahasa inggris. Yang lainnya aku lupa, maafkeun ._.

Pasca jam istirahat selanjutnya setiap mawapres maju ke panggung, mengambil mosi dan memaparkan apa yang diketahuinya tentang mosi itu dan solusi permasalahannya. You know what aku dapat apa? Jokowi!

"PDI plans to bring up Jokowi as President. What do you think about that?"

OMG udah mana aku ga terlalu melek soal politik dan yaa kujawab sebisaku wkwk ._.
Yang paling aku ingat adalah mosi yang didapat kak Henpai yaitu CABE CABEAN dan TERONG TERONGAN. Ya Allah aneh beudh dah.. haha. Dan kak Henpai memberi solusi PARE PAREAN tapi aku lupa kepanjangannya apa -___-

Singkat cerita selesai juga seleksi hari itu. Tinggal nunggu pengumuman.. Dagdigdug.. Honestly ada harapan (cukup) besar dalam benakku untuk menduduki peringkat 1.
Dan.. disampaikanlah oleh Pak Ivan 3 besar mawapres UNJ 2014 adalah..

Hatiku mulai dagdigdug.. Biidznillah!

"Juara 3 jenjang strata 1 adalah.. Riskawati dari FIS."

Degup jantungku semakin cepat..

"Juara 2 jenjang strata  1 adalah.. Restu Aida dari FIP.."

Kian cepat dan cepat. Ditambah lagi yel-yel dari teman-temanku makin menggema.

"Da..juara 1 jenjang strata 1 adalah.. Hendri Ripai dari FBS.."

Seketika aku tertegun. Nafasku seperti tercekat. Air mukaku berubah menjadi sedih.

Waktu itu yang kurasakan adalah kecewa.. dengan diriku sendiri.. Tapi aku berusaha tegar sambil menatap ibuku yang mulai membaik.

Kami semua maju ke atas panggung ubtuk berfoto bersama. Teman-teman berbaris menyalami kami semua.


"Udah ga usah sedih. Namanya juga kompetisi." kata ibu tapi seketika bukir air mata membasahi pipiku.

Kupeluk ibu dengan kuat. Teman-teman perempuanku turut menabahkanku. Aku tidak tahu mengapa aku sedemikian sedihnya. Mungkin aku terlalu berekspektasi atau entahlah yang jelas aku kecewa dengan diriku yang tidak bisa membuat ayah ibuku bangga disini meski aku tau mereka pasti selalu bilang.

"Kami selalu bangga padamu."

Aku juga merasa sudah mengecewakan teman-temanku di MIPA, Bu Fatihah dan Pak Rusdi meski mereka bilang.

"Visya hebat. Kami semua bangga sama kamu!"
Ya Rabb.. Maafkan hambamu yang dhaif ini T_T

Tangisku mulai mereda, aku dan teman-teman MIPA berfoto bersama. Aku berusaha sekuat hati untuk tersenyum.  Aku bukannya tidak bahagia dengan kemenangan teman-temanku.. aku hanha kecewa dengan diriku..

Esok hari begitu bangun tidur diriku masih diliputi kekecewaan. Ternyata tak mudah untuk ku bangkit :( tapi semua berubah ketika pagi itu sebuah telpon kuangkat.

"Assalammu'alaikum Visya ini Bu Ririn. Bagaimana kabarmu hari ini?"

Bu Ririn. Bu Ririn yang mendengar curhatanku sepanjang setengah jam kemarin.

"Wa'alaikumsalam wr wb alhamdulilllah baik, Bu."

"Ibu lihat kemarin kamu sedih. Jangan sedih lagi ya. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kemarin itu saat sesi diskusi pemenang 3 besar ibu memperjuangkan kamu untuk masuk 3 besar. Ibu yakin kamu pantas mendapatkannya. Ibu dengarkan cerita-ceritamu dan sisi psikologismu juga baik. Meskipun ibu baru mengenalmu kemarin. Tapi Allah berkehendak lain. Maafkan ibu ya."

Lagi. Air mataku menetes. Kali ini bukan karena rasa kecewa lagi tapi rasa haru. Aku merasa mendapatkan kekuatan lebih dari Allah melalui Bu Ririn. Aku terdiam sesaat.
"Taun depan maju lagi ya. Ibu yakin kamu bisa!"

"Ya Allah ibu ndak perlu minta maaf. Saya berterimakasih sekali. Maafkan saya juga ya, Bu."

"Taun depan maju lagi ya, Vis." katanya lagi.

"Hmm saya belum tau, Bu. Jikalau tidak, insya Allah ada adik-adik saya yang jauh lebih baik, Bu." ucapku tanpa bermaksud mengecewakan siapapun.

Setelah mengucap salam, panggilan pun diakhiri.

Ya Allah..  aku harus segera bangkit! Aku ga boleh terpuruk dalam waktu lama! Aku harus bangkit! Banyak pelajaran dan pengalaman yang kudapatkan melalui proses panjang seleksi mawapres ini. Dan yang tak kalah penting aku punya keluarga baru. keluarga yang ga melulu ngomongin akademik tapi juga saling care kondisi pribadi masing-masing. Betapa beruntungnya aku. Terimakasih ya Allah.

Terimakasih untuk ayah, ibu, dan seluruh teman dan pihak yang sudah mendujungku mulo dari awal seleksi prodi, jurusan, fakultas hingga universitas :'')

Inilah mereka di balik perjuanganku yang selalu membersamai 😘



Sekian cerita perjuanganku mengikuti seleksi mawapres. Sebenarnya kenyataannya jauh lebih panjang dari ceritaku tapi semoga menginspirasi. Terutama untuk adik-adik yang akan mengikutinya di taun ini dan taun depan.
Banyak orang menjalani proses tapi tak menuliskannya maka kucoba tuliskan apa yang telah kualami sebagai pembelajaran dan semoga mengandung hikmah di dalamnya.

Siapkanlah diri kalian, buat diri kalian pantas untuk diberi amanah mawapres. Tapi ingat, luruskanlah dulu niat kalian. Untuk mengetahui kapasitas diri dan menjadi contoh pemuda inspiratif penuh karya.

Menjadi seorang mahasiswa berprestasi adalah sebuah amanah yang Allah titipkan melalui diri ini agar terus belajar dan belajar, juga menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Semua karya dan kontribusi tak hanya terhenti di panggung mawapres tapi terus berlanjut, di dalam maupun di luar kampus. Berkarya untuk agama, bangsa dan negara!

Salam Inspirasi!
@visyabiru

NB: Bagi yang mau sharing-sharing terutama soal kemawapresan boleh banget :)


Selengkapnya cerita mapresku:
Lika-Liku Sang Mapres (1): Aku Ingin Jadi Mapres, Tapi....
Lika Liku Sang Mapres (2): The Result Won’t Lie The Effort Itself!
Lika Liku Sang Mapres (3): Karya dan Prestasi Tak Sebatas di Panggung (Mawapres)

2 comments:

  1. Kisahnya menginspirasi kak, saya juga pernah mengalami pristiwa demikian tapi lebih menyakitkan lagi, butuh waktu berbulan2 buat move on.. hehe..
    Terus menginspirasi kak

    BalasHapus
  2. Well, makasih kak visya berbagi pengalamannya. Kebetulan saya juga punya mimpi jadi mawapres. Doain ya kak
    Mampir juga kak di blog saya www.roaetunnabiya.wordpress.com

    BalasHapus

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!