Ads 468x60px

Sabtu, 15 Desember 2012

Kisah Domba dan Pemuda

from google.com
Pada suatu masa, hiduplah seorang pemuda perantau. Dari ujung utara ke ujung selatan sudah habis dijelajahinya. Banyak pengalaman hidup yang telah diperolehnya. Banyak hal yang telah dicobanya, tak peduli itu baik ataupun buruk, hingga suatu hari ia tiba di sebuah desa yang begitu sepi. Tempat pertama yang dikunjunginya adalah padang rumput yang begitu hijau dan segar.

Rabu, 07 November 2012

Mengingatnya adalah Hal Terindah dalam Hidup(ku)

source : google.com

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..."
Mulutku bergetar menyebut kalimatullah tersebut. Sebuah berita menghentak dadaku. Sesosok pahlawan itu telah pergi menghadap ke haribaanNya.
Rasanya baru kemarin..
Beliau berdiri tegak di depanku, mengajarkan tentang keindahan bahasa kami, bahasa Indonesia.
Rasanya baru kemarin..
Kulihat beliau tergeletak tak berdaya, kala rasa sakit itu menyelimuti tubuhnya.
"Doain ibu ya, Vi." begitu ucapnya. 


"...yang baik menurutmu, belum tentu baik bagi Allah...." #RealStory


 

Bismillah, ingin berbagi sedikit kisah sebagai refleksi yang disadur dari kisah nyata. Semoga bermanfaat :D

Selamat Datang di Semester 3, (calon) Bu Guru ^^



Sunday, September 30, 2012 at 7:51am ·
Assalammu'alaikum, heii, shohabi shohabiyah! Long time no see, lama pula aku nggak nulis di notes ya? Dulu mah pas masih jadi siswa, aku sering cerita tentang pengalaman-pengalamanku, but life must go on and maybe go higher, right? Oke deh, hari ini meskipun diisi beberapa agenda minggu tapi aku sempatkan untuk menulis. Dibaca ya :)

1st and Ist-Math


Sunday, August 12, 2012 at 10:13pm ·
Tulisan mendadak di malam hari. Judulnya agak-agak gimana gitu tapi semoga bermanfaat ^^

Minggu, 02 September 2012

Fisika, Islam dan Al-Qur’an

 
source:Google

Mengapa sesorang har
us memiliki ilmu? Jawabannya tak lain salah satunya karena Allah akan meninggikan derajat orang-orang berilmu beberapa derajat dan Allah mudahkan ia masuk surga. Namun ilmu yang dimaksud di sini tentu saja yang bersifat positif. Orang yang berilmu cenderung kualitas ibadahnya lebih baik karena dia tahu ‘ilmu’ nya beribadah.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Ramadhanku Tanpamu..


"Kak Visya!" segerombolan malaikat-malaikat kecil itu berhamburan ke sisiku.
Diciumnya tanganku bergantian. Lalu ditariknya lenganku, mendekat ke sebuah matras yang tak terpakai. Tampaklah seorang malaikat kecilku lainnya tertidur pulas.
Baru saja aku duduk bersama ketiga malaikat kecil lainnya, ia pun terbangun, mengerjapkan mata lalu duduk.
"Halo, Siti!" sapaku.
Ia tak menyahut, tampak wajahnya masih lemas.
"Kak Visya, ayo main belajar-belajaran."
"Ayo, keluarin bukunya ya!"
Keempat malaikat kecilku mengeluarkan bukunya masing-masing. Kuawali dengan angka-angka di buku mereka, disertai gambar-gambar. Mereka tampak antusias, terutama saat mewarnai. Ya, mereka memang paling gemar mewarnai.

Minggu, 05 Agustus 2012

Ada Apa dengan Kubus?

sumber : google.com

Bismillahirrahmanirrahim..

Hei, para pembaca, masih ingat dengan postinganku sebelumnya? Itu lho, tentang BOLA. Hayoo, coba diingat-ingat!

Well, sekarang aku ingin membahas tentang KUBUS. Pertanyaannya adalah.. #jengjeng

"Mengapa untuk volume dan luas kubus tidak memiliki hubungan yang sama dengan volume dan luas bola?"

Artinya, jika volume kubus diturunkan, hasilnya bukan luas kubus.

Berikut pendapat salah seorang teman.

...Lalu mengapa, kubus misalnya, tdk dapat langsung di integralkan dari luas ke volume dgn komponen sisinya? (sebagaimana pembuktianmu)

itu karena koordinatnya berbeda. Luas kubus 6s^2 dan volumenya s^3 sebenarnya berkoordinat x,y dan z. S disitu bukan menyatakan koordinat melainkan satuan panjang dari x, y dan z.

Berbeda dgn bola yang memiliki koordinat teta, psi, dan r. Disini r merupakan sebuah koordinat bagi bola. Luas bola 4.phi.r^2 merupakan integral permukaan dari d(psi) dari batas nol sampai phi dan d(teta) dari batas nol sampai 2 phi dengan transformasi jakobi r^2 sin phi.

Untuk volumenya hanya tinggal mengintegralkan

terhadap dr dari batas bawah nol dan batas atas r.
Sehingga volumenya bisa dituliskan integral batas 0 sampai r, 4 phi r^3 terhadap dr....

 Ada lagi pendapat yang lain..

Coming soon..

 

Sabtu, 04 Agustus 2012

Ada Apa dengan Volume dan Luas Bola?

Bismillahirrahmanirrahim..
Di posting kali ini, aku akan membahas hubungan antara volume dan luas bola(apakah  pacaran? Atau pernikahan? :D)

Berhubung tinta spidol hitamnya habis dan spidol birunya mengering T.T jadi ditulis di buku aja yaa..

sumber : dokumen pribadi penulis



Tahukah kalian Hukum Archimedes?
“Jika benda dimasukkan ke dalam cairan, baik sebagian atau seluruhnya, akan mendapatkan gaya ke atas sebesar berat cairan yang dipindahkan benda itu”.
Teori Archimedes--yang didapatnya melalui percobaan--lainnya menyatakan :

Luas Permukaan Bola : Luas Permukaan Tabung = 2 : 3



sehingga didapat :

sumber : dokumen pribadi penulis

Huaaa.. Lupa ditambahkan "dr" di belakang fungsi yang akan diintegralkan.
Lalu sesuai dengan konsep integral- diferensial di atas, luas bola diintegralkan sehungga didapatkan volume bola.

sumber : dokumen pribadi penulis

Sebenarnya banyak bertebaran penjabaran dan pembuktian rumus volume dan luas bola, baik di internet maupun literature. Namun, dari kesemuanya, aku tidak memaparkan semuanya.

Oh ya, ada satu pertanyaan besar:
Apa yang mempengaruhi rumus volume/luas sebuah bentuk/ruang itu seharusnya diintegralkan/diturunkan? Apakah volume semua benda 3 dimensi dapat diperoleh dengan mengintegralkan luasnya? Bagaimana dengan kubus?
Luas kubus = 6 x s x s
Jika diintegralkan berdasarkan luas, didapat:
Volume kubus : 2 x s x s x

Hipotesis sementara :
korelasi antara volume dan luas dengan integral-diferensial hanya berlaku pada benda putar (bola termasuk benda putar). Kemungkinan besar ada kaitannya dengan kalkulus. Sekali lagi, ini baru hipotesis. Aku sedang menganalisanya terlebih dahulu sebelum memberikan kesimpulan.
Ayo, silakan yang mau berkomentar atau menjawab pertanyaan di akhir posting ini.. Mari berdiskusi
^^

Bab I Analisi Real--Himpunan dan Fungsi

sumber : dokumen pribadi (Juli 2012)

Analisis Real bab I



Bismillahirrahmanirrahim..

Sedikit share tentang materi Analisis Real yang kelak akan kuperdalam di semester 3. Materinya didapat dari buku-buku elektronik yang kudownload. Baru sekedar materi aja, belum sampai ke soal. Bab pertama tentang himpunan dan fungsi.

Tentu saat duduk di bangku SMP dan SMA kita pernah mempelajari bab Himpunan dan Fungsi bukan? Secaara definitf, himpunan adalah kumpulan elemen yang memiliki ciri yang sama sehingga dapat didefinisikan dengan jelas, sedangkan fungsi adalah pemetaan setiap anggota sebuah himpunan (dinamakan sebagai domain) kepada anggota himpunan yang lain (dinamakan sebagai kodomain) (Wikipedia).

Di bab 1 ini, Insya Allah masih jauh lebih mudah dari bab sebelumnya. Disini maish membahasa segala hal mengenai fungsi dan himpunan beserta simbol-simbolnya, yah sekedar review pelajaran di bangku sekolah.

Contoh : simbol komplemen relatif antar dua himpunan (\), komplemen relatif antara suatu himpunan dengan semestanya (c atas)--gimana ini nulisnya -__- dan lain-lain.

Karena saya jugas masih tahap belajar, sok atuh monggo dikomen salah-salahnya, hhe :D

Minggu, 29 Juli 2012

Pendidikan Karakter dalam Jiwa Pendidik

Pendidikan karakter kembali marak diperbincangkan dalam dunia kependidikan Indonesia. Sudah banyak literatur yang membahasanya, mulai A hingga Z. Sayangnya, belum banyak orang yang mengerti apa dan bagaimana pendidikan tersebut. Hal itu diimbangi dengan kasus-kasus dalam ranah pendidikan yang berkaitan dengan minimnya karakter. Contohnya kasus pencontekan massal dalam UN, yang bahkan didukung sendiri oleh gurunya.

Berikut disajikan wawancara eksklusif bersama Kepala Departemen Pendidikan, BEM Universitas Negeri Jakarta 2012/2013, Sarah Saskia, dengan tema ‘Pendidikan Karakter dalam Jiwa Pendidik’

Kamis, 19 Juli 2012

Membentuk Generasi Pendidik Berkarakter Matematika

"Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini.)”

-Galileo Galilei-

sumber : google.com

Apa yang terbesit dalam benak siswa begitu mendengar kata ‘Matematika’? Bagaimana pula reaksi mereka jika diminta mengerjakan salah satu soal ‘bahasa Tuhan’ tersebut? Mungkin hanya ada dua respon yang muncul; respon positif dan respon negatif. Respon positif cenderung menanggapinya dengan sukacita, seolah baru saja menemukan ‘makanan’ baru. Mereka inilah notabene mengganggap Matematika sebagai teman sejati. Sementara itu, respon negatif cenderung menolak dengan berbagai alasan. Kalaupun harus mengerjakan, mereka akan melakukannya dengan setengah hati. Mereka inilah yang notabene menganggap Matematika sebagai musuh abadi.

Carl Frederich Gauss, ilmuwan yang dijuluki The Queen of Mathematics, berpendapat “Matematika adalah ratu ilmu pengetahuan..” Memang tak dapat dipungkiri, segala hal di dunia ini senantiasa berkaitan dengan Matematika. Dari direktur hingga tukang sayur, dari pemerintah hingga tukang sampah,  mengaplikasikan Matematika dalam hidupnya. Begitupun dengan ilmu pengetahuan lainnya yang selalu memuat unsur Matematika. Dari kenyataan-kenyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Matematika adalah landasan fundametal dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sedikit menyimpang dari dunia Matematika, beralih menuju pendidikan, suatu unsur yang tak bisa dielakkan dalam tonggak pembangunan bangsa. Ingin mengukur keberhasilan suatu bangsa? Lihat saja dari pendidikannya. Pendidik merupakan elemen terpenting dalam dunia pendidikan, selain peserta didik dan fasilitas pendidikan. Secara harfiah, pendidik yang notabene disebut guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU RI NO 14 th. 2005). Bukanlah sesuatu yang mudah dan bukan pula sesuatu yang sulit dalam membentuk pendidik yang baik. Karakter yang baik meupakan kata kunci dalam membentuk pribadi pendidik yang baik. Banyak dijumpai literatur yang mengungkapkan segala ihwal mengenai pendidikan karakter. Berbagai talkshow pun digelar. Tak lain dan tak bukan demi menanamkan pendidikan karakter yang baik.

Masih berkorelasi antara karakter pendidik yang baik dan Matematika, setidaknya seorang pendidik yang baik haruslah yang berkarakter Matematika. Mungkin sebagian besar pembaca akan bertanya-tanya, seperti apa pendidik berkarakter Matematika? Apakah yang harus pandai dalam Matematika? Tentu bukan. Seperti yang telah dipaparkan di atas, Matematika adalah landasan fundamental, artinya seorang pendidik harus memiliki karakter positif yang kuat dan mengakar. Selain itu sesuai dengan Matematika yang terdapat dalam bidang apapun, karakter seorang pendidik yang baik adalah yang disesuaikan kondisi—dengan masih menanamkan nilai-nilai kebaikan. Artinya, ia mampu menempatkan diri sesuai kondisi. Dengan menerapkan kedua poin tersebut, niscaya akan tercipta para pendidik berkarakter Matematika, terlepas dari disiplin ilmu yang digelutinya.

Niat yang lurus dan usaha yang berkesinambungan menjadi kunci utama penciptaan karakter Matematika dalam diri pendidik. Usaha yang berkesinambungan tak akan didapat dilakukan tanpa adanya niat yang lurus. Namun, niat yang lurus tanpa usaha berkesinambungan hanya akan berjalan lamban. Oleh karenanya, keduanya harus berjalan beriringan. Dengan konse karakter Matematika yang dicanangkan, diharapkan pendidik tidak hanya mampu menghasilkan anak didik yang cerdas, melainkan juga bermoral. Tentu dapat dibayangkan jika tonggak peradaban bangsa Indonesia dipegang oleh generasi cerdas dan bermoral. Niscaya bangsa ini akan menjadi bangsa yang makmur dan terdepan.

Hidup Matematika! Hidup Pendidik Indonesia!

-Ditulis untuk mengikuti lomba blog Sampoerna School of Education 2012 dengan tema 'Menjadi Pendidik'-

Nanti Kalau Kamu Jadi Guru

Jagoan-jagoan kecilku :)


April 2012


  Sore itu seperti biasa aku melakukan rutinitas di sebuah TPA di daerah Depok sebagai pengajar. Aku tiba disana pukul 14.25. Ternyata sudah ada beberapa anak yang datang padahal pengajian baru dimulai pukul 14.30. Setelah bersalaman dengan Bu Kokom (pembina TPA) dan ibu-ibu yang mengantar anaknya, aku mempersiapkan diri untuk mengajar.

 Satu per satu anak menghampiriku. Aku mulai mengajari mereka membaca iqro dan Al-Qur'an. Semakin lama semakin banyak anak yang datang sementara baru ada aku dan Bu Kokom sebagai pengajar. Biasanya ada 2-3 pengajar yang datang setiap harinya. Syukurlah tak lama salah seorang kakak pengajar, Kak Leni, datang.

  Jumlah anak yang hadir hari itu tak sebanyak biasanya. Tapi tetap saja suasana begitu ramai oleh keceriaan mereka.

  "Kakak, aku bawa buku pelajaran, nanti belajar ya?" ujar Opi, si imut yang sensitif.

  "Oke. Kamu bawa buku apa aja, Dek?"

  "Agama, Matematika, aku bawa semuanya!"

  "Wah bagus. Gimana bahasa Inggrisnya kemarin udah bisa?"

  "Udah dong! Dapet 100"

  "Subhanallah! Matematika gimana?"

  "Hemm, dapet 80."

  "Pintar!"

  Adzan ashar berkumandang, berbondong2 anak2 itu mengambil air wudhu lalu shalat berjamaah. Usai shalat, kelas dipisah antara yang SD dan TK. Kelas SD dipisah kembali menjadi dua kelas. Seperti biasanya aku dapat kelas A untuk mengajarkan hafalan.Sementara itu Kak Leni berada di kelas B untuk mengajakrkan tajwid.

  Di kelas ini hanya ada siswa laki-laki, tak seorang pun siswi perempuan yang masuk. Wah tantangan nih, pikirku. Benar saja selama hafalan, mereka sibuk 'mengaplikasikan' jurus2 terbaru, bahkan ada yang sempat berantem sungguhan. Jujur saja, sebagai orang baru di dunia seperti ini, aku sempat merasa begitu ketakutan.

 "Hayo, yang marah yang kalah, yang ngalah yang menang. Mau menang atau kalah?" rayuku yang sebenarnya panik.

Meski masih menampakkan raut wajah kesal, mereka pun menurut. Kedua siswa laki-laki itu duduk manis begitu kusuruh membaca Al-Qur'an supaya pikiran mereka tenang. Akhirnya aku pun dapat bernafas lega. Saatnya kembali fokus pada siswa lainnya yang sedang menyetor hafalan.

 Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 saatnya anak-anak pulang. Satu per satu dari mereka meninggalkan TPA, tiba-tiba aku teringat Opi. Sudah pulangkah ia? Tak jadikah belajar denganku?

  Seketika aku mendengar suara tangis keras dari teras. Ternyata Opi yang menangis keras seraya menggamit lengan sang Ibu. Hei, ada apa denganmu, Dek?

  Rupanya Opi sedang ngambek karena ia merasa sang ibu tidak lagi peduli padanya.

 "Mama sekarang sibuknya sama adek bayi doang. Opi nggak dipeduliin." matanya nanar.

 Sang ibu pun memeluk Opi dengan penuh kasih sayang.

 "Opi sayang, Mama nggak pernah nyuekin Opi. Mama sayang banget sama Opi. Cuma kondisinya sekarang berbeda. Opi udah punya adik, Opi udah jadi kakak." rayu Bu Kokom.

 "Opi harus sayang sama adik ya, sayang Mama juga." Bu Kokom masih sibuk merayu sementara aku dan Kak Leni hanya mengamati. Maklum masih amatiran.

 "Visya, aku pamit duluan ya. Aku takut ketinggalan kereta." pamit Kak Leni tiba-tiba."Salam ya buat Bu Kokom."

 "Oh, iya, Kak, hati-hati."

 Tinggallah aku sendiri yang mengamati Opi yang masih terus menangis di samping ibunya.

  Setengah jam kemudian Bu Kokom berhasil menasihati Opi."Opi, Opi nggak boleh manja ya, Sayang. Belajar yang rajin biar nanti kalo udah gede, jadi guru kayak Kak Visya ya?"

  Opi hanya mengangguk.

                     # # #


  Di tengah perjalanan mengantarkanku menuju tempat menunggu bis, beliau banyak bercerita tentang sejarah hidupnya yang begitu menginspirasi.

  "Ngajar itu bukan sekedar ngajar baca iqro trus pulang, tapi kita juga kudu paham sama keadaan itu anak. Nah, nanti kalo jadi guru kamu pasti gitu tuh."

  "Kita harus paham misal itu anak lagi ngambek, ada masalah."

  Aku mengangguk pelan. Kalimat itu seolah menjadi pengingatku hari ini dan kelak. Sebuah motivasi yang luar biasa dari seorang wanita yang luar biasa.

"Belajar jadi ibu juga."

Aku terperangah. "Masih jauh, Bu." gumamku yang ternyata didengarnya.

"Jangan salah lho, jadi ibu itu harus dipersiapkan dari sekarang."

Aku hanya tertawa renyah menanggapi. Iya juga sih, batinku.

                          # # #


  Meski baru beberapa bulan mengenal Bu Kokom, seolah aku sudah lama mengenal beliau. Banyak hal yang beliau bagi kepadaku, termasuk sejarah pembangunan TPA yang diberi nama TPA Annur tersebut. Bu Kokom membangun TPA itu bukan tanpa hambatan, banyak fitnah di sekitarnya. Bahkan hampir saja ditutupnya TPA itu karena kondisi tubuhnya yang rentan.

  Teringat dalam benakku, setahun silam aku bercita-cita membangun sebuah sekolah informal dengan seseorang. Entah orang itu masih mengingatnya atau tidak. Tapi yang jelas aku akan mewujudkannya sendiri, membangun sebuah TPA dengan tetes peluhku sendiri. Aku seolah membayangkan kondisi ku beberapa tahun lagi yang sepertinya tak jauh berbeda dgn beliau, seorang wanita yang lemah fisik tapi bermental  tangguh. Seorang wanita yang mengabdikan hidupnya demi TPA nya, demi pendidikan, demi anak2. Ya, semoga saja.

@Istana Biruku

~teringat mereka, malaikat2 kecilku~

-Ditulis untuk mengikuti lomba blog Sampoerna School of Education 2012 dengan tema 'Menjadi Pendidik'-

 

Murid Kecilku yang Tangguh

Kamis, 19 April 2012

Mujahidah-mujahidah cilikku :D

  Jumat sore itu aku tengah bertilawah di masjid fakultas saat sesosok malaikat kecil tiba-tiba saja memelukku lalu duduk di pangkuanku. Malaikat kecil itu bernama Syifa.

  "Kakak, ayo ngaji!" ucapnya, bermanja-manja denganku.

  Tak lama, disusul beberapa malaikat-malaikat kecilku lainnya. Mereka menyalamiku satu per satu. Hari itu jadwal TPA seperti biasanya.Selain mengajar di TPA Annur, aku juga mengajar di TPA MUA di masjid fakultasku

  Oh ya, perkenalkan, mereka adalah murid-murid kecilku di TPA MUA. Ada Zaki yang jahil tapi penyayang, Siti yang imut, Syifa si hitam manis, Wulan yang bawel tapi lucu, Icha si pendiam tapi rajin dan Dai si caper tapi kocak.

 Pengajian hari itu diawali dengan membaca al fatihah dan doa sebelum belajar. Dilanjutkan dengan membaca iqro satu per satu. Icha sudah bersiap dengan iqronya duduk di depanku tapi Syifa mencegahnya.

  "Kan aku duluan tadi."

  Terpaksa aku melerai dengan mendahulukan Syifa yang memang sudah buat 'janji' denganku.

  Selain aku, ada juga Kak Fitri dan Kak Pushe yang menjadi pengajar sore itu. Setelah setiap anak sudah membaca iqro, saatnya belajar. Belajar yang dimaksud di sini bukanlah mempelajari materi, melainkan menggambar, mewarnai ataupun menonton video. Maklum saja, usia mereka masih terbilang cukup dini.

 "Kak Visya, gambarin ini." Icha memintaku menggambarkannya seorang putri Salju, tokoh favoritku.

  Usai menggambar, aku menghampiri Syifa. "Syifa kok diam aja? Mau mewarnai juga?"

  Syifa menggeleng.

  "Berhitung? Atau menulis?"

  Lagi-lagi ia menggeleng lalu menghampiri Zaki yang sedang asyik mewarnai.

  Siti sibuk mewarnai ditemani Kak Pushe, Wulan ditemani Kak Fitri. Aku memutuskan untuk menemani Icha. Lama-lama seperti biasa aku malah ikut-ikutan mewarnai.

  Tiba-tiba Siti muncul, dengan wajah 'marah', ia mengambil crayon Icha sambil menatap Icha dengan tatapan ini-punyaku-mau-apa-kamu, padahal itu krayon Icha. Icha yang sibuk pun cuek-cuek saja.

  "Siti, pinjma krayonnya."

  Siti menyembunyikan krayon Icha di belakang punggungnya.

  "Siti.."rengek Icha.

  Aku ambil tindakan. "Siti sayang, Icha pinjem krayonnya yaa."

  Akhirnya gadis kecil itu melempar krayon Icha. Icha pun kembali mewarnainya. Sementara Siti berlari keluar.

  "Siti!" panggilku. Ia tak menyahut. Terkadang aku memang sulit menangani Siti jika ia sudah seperti itu. Terpaksa Kak Fitri atau Kak Pushe ambil tindakan.

  Tak lama Siti pun kembali. Ia menatapku dan Icha. Tiba-tiba ia melemparkan botol minuman kosong tepat mengenai mata Icha. Alhasil gadis kecil itu menangis.

  "Ya Allah, Siti!"

  Zaki langsung memegangi tangan Siti dengan erat. Kak Fitri berusaha menjauhkan Siti dari Icha. Sementara itu aku berusaha menenagkan Icha yang menangis. Kupeluk tubuh kecilnya. Kuhapus butiran kristal bening yang mengalir dari matanya.

  "Sst.. Icha nggak boleh nangis ya. Icha kuat kok.." ucapku dalam pelukan.

  Icha tetap menangis.

 "Kamu kuat kok, Dek.."

  Tiba-tiba aku merasakan sesuatu hangat melewati cekungan pipiku.

  "Kok kakak nangis, Kak?" Icha memperhatikan mataku yang basah.

  Aku menyentuh pipiku. Ada butiran air yang mengalir.

  "Nggak kok, Dek." kilahku. "Minum, Dek." aku menyodorkan minum ke Icha yang langsung ditegaknya.

  Kak Fitri muncul dengan Siti di pangkuannya.

  "Ayo, Siti, minta maaf sama Icha."

  "Icha, maafin Siti yaa." Kak Fitri mengulurkn tangan Siti tapi Siti tak mau.

  "Ayo, Icha juga ya." ucapku. Icha langsung mengulurkn tangannya tapi Siti sama sekali tak menanggapinya.

  Dipaksa berkali-kali hasilnya tetap nihil. Aku tak mengerti apa yang terjadi pada Siti.

  Aku menangis bukan karena cengeng, meski banyak berkata aku demikian. Aku menangis karena aku terharu dengan sosok Icha yang begitu pemaaf. Disakiti, menangis sejenak lalu memaafkan.

  Teman, barangkali itulah pelajaran besar yang bisa kupetik dari sosok kecil yang tangguh itu.Ketika kita merasa terlukai, kita boleh meluapkannya dengan menangis tapi lalu maafkanlah. Tapi itu bukan berarti orang lain bisa melukai kita sebebas mungkin. Jika kita melukai perasaan orang lain, bayangkan jika hal itu menimpa kita!

  Bagaimanapun tingkah dan sifat mereka, aku tetap mencintai mereka karenaMu ya Allah. Terimakasih telah menguatkanku dan mengajariku arti memaafkan, Dek.

-Ditulis untuk mengikuti lomba blog Sampoerna School of Education 2012 dengan tema 'Menjadi Pendidik'-

 

Minggu, 17 Juni 2012

Cerpen Marie Curie Part II


The previous story here..

 Beberapa bulan kemudian Bronya berhasil meraih predikat sebagai mahasiswi di Sorbonne. Sementara sang adik ,yang juga lulus di waktu yang sama lewat akselerasi, sibuk mengumpulkan uang dengan bekerja. Mulai dari penjaga toko hingga baby sitter pun dilakoninya demi mencapai cita-citanya berkuliah di Sorbonne. Meski begitu ia tak pernah lupa belajar, bahkan ia kerap meminta sang kakak mengiriminya buku-buku kuliah yang sudah tidak dipakainya.

Malam itu Marie baru saja selesai berkutat dengan buku-bukunya. Kebetulan hari itu ia libur bekerja.

Krek!

Setelah seharian penuh berada di kamar, iapun keluar. Tampak sang ayah sedang mengutak-atik sebuah alat.

"Papa, aku baru saja menamatkan buku yang diberikan Kak Bronya. Di dalamnya bercerita tentang unsur-unsur Kimia yang ada di bumi." ceritanya panjang lebar.

Belum sempat ia melanjutkan ceritanya, tiba-tiba saja tubuh gagah sang ayah ambruk.

"Papa?!" jeritnya terkejut.

 

Minggu, 03 Juni 2012

Si Wanita Tangguh, Marie Curie (versi cerpen ala Visya Al Biruni) part I

“Papa, sedang apa?” tanya seorang gadis kecil pada Ayahnya yang tengah berkutat dengan setumpuk buku di ruang kerjanya.
Gadis itu melingkarkan tangannya di pundak sang Ayah dengan manjanya. Dengan penuh kasih sayang, sang Ayah mengangkat tubuh putrinya lalu mendudukkannya di pangkuannya.  Belum sempat sang Ayah menjawb pertanyannya, gadis itu kembali mencecar. “Papa,  Sorbonne itu seperti apa?
Pertanyaan  itu mengalir begitu saja dari mulut gadis berusia 8 tahun. Di usianya saat itu ia sudah duduk di bangku kelas 5 SD. Ya, Maria Sklowdoska adalah seorang anak yang cerdas.  Sebagai anak dari sepasang guru SMA, Maria sangat beruntung. Orangtuanya begitu memperhatikan pendidikannya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, orangtuanya menyekolahkannya di sekolah lokal.
“Sorbonne itu kota yang indah.” Jawab sang ayah singkat.
“Suatu hari nanti aku ingin pergi kesana. Aku ingin belajar disana.” Sungguh sebuah kalimat luar biasa jika dituturkan oleh gadis seusianya.
Kebahagiaan berturut-turut meliputi  dirinya juga kedua kakaknya, Bronya dan Zoshia. Namun perlahan-lahan kebahagiaan itu berguguran seiring berjalannya waktu. Kakak tertuanya, Zoshi, terserang tipus. Sayang sekali karena penanganan yang begitu terlambat, Zoshia terpaksa menghembuskan nafas terakhir  di tempat tidurnya. Bronya menjadi orang yang paling terpuruk atas kematian sang kakak.
Dua tahun sejak kematian Zoshi, sang ibu terserang penyakit TBC. Di saat yang bersamaan sang ayah dipecat dari profesinya sebagai guru di sebuah SMA. Jelas hal itu membuat finansial mereka melemah. Ketiadaan biaya membuat sang ibu mendapat penanganan yang minim. Dunia sungguh kejam, kedua kalinya Maria kehilangan anggota keluarganya. Kali ini adalah sang ibu yang paling dekat dengannya.

Rabu, 23 Mei 2012

Goretan Jelang Rehat

Ingat banget, kalo dulu zamannya sekolah hampir setiap minggu seorang Visya bikin catatan backpacking. Tapi sejak kuliah? Hiks, jadi berkurang.
Well, kontraversi mengenai hobi backpacking-ku emang ada. Entah bermaksud peduli atau care atau menjudge, tapi ambil sisi positifnya aja. Akhwat Backpacker, why not? Selama bisa menjaga diri, selama di jalan pokoknya harus dzikiran, tilawahan atau sejenisnya. Jangan diem aja, ntar dikira patung nyangsang, hhe .
Eits, tapi jangan salah kira, aku juga nggak betah banget berlama-lama di luar rumah!

Kamis, 19 April 2012

Backpacking's Story A la Visya_Edisi 11 Januari 2011

    • Rabu, 11 Januari 2011

      Jadi ingat laginya grup band indie, 11 Januari, tapi 11 Januari ku kali ini berbeda.
      Oke, pagi itu hari terakhirku UAS. Well ga usah diceritain kali yah, gimana2 nya, intinya udah selesai UAS, alhamdulillah :D
      Eits, tapi bagi seorang Visya, UAS selesai, ga berarti liburan, jengjengjeng, back to organization.. Hari itu ada jadwal rapat sie HPD Muktamar MUA (pemilihan ketua Rohis fakultas FMIPA UNJ). Ga tau kenapa ya, setiap aku masuk kepanitiaan apa gitu, pasti disuruh kerja pertama. Contohnya pas Baksos FMIPA, aku jadi sie acara trus katanya 'kalo sie acara belom gerak, kita belum bisa gerak juga nih.'


    • Dan sekarang aku di sie HPD juga gitu, alhmdulillah yah -__-
      Rapat HPD selesai, lanjut rapat ketua dan korwat (koordinaor akhwat) tiap jurusan. Akupun datang tanpa Pak Ketu.
      Oke, sebenarnya ada hal inti yang pengen aku ceritakan....

Murid Kecilku yang Tangguh..

Jumat sore itu aku tengah bertilawah saat sesosok malaikat kecil tiba-tiba saja memelukku lalu duduk di pangkuanku. Malaikat kecil itu bernama Syifa.
"Kakak, ayo ngaji!" ucapnya, bermanja-manja denganku.
Tak lama, disusul beberapa malaikat-malaikat kecilku lainnya. Mereka menyalamiku satu per satu. Hari itu jadwal TPA seperti biasanya.
Oh ya, perkenalkan, mereka adalah murid-murid kecilku di TPA MUA. Ada Zaki yang jahil tapi penyayang, Siti yang imut, Syifa si hitam manis, Wulan yang bawel tapi lucu, Icha si pendiam tapi rajin dan Dai si caper tapi kocak.
Pengajian hari itu diawali dengan membaca al fatihah dan doa sebelum belajar. Dilanjutkan dengan membaca iqro satu per satu. Icha sudah bersiap dengan iqronya duduk di depanku tapi Syifa mencegahnya.

Rihlah Bersama Mujahi-Mujahidah XXII

Setelah menentukan tanggal rihlah jauh2 hari.. Setelah sempat gonta ganti tanggal.. Akhirnya ditetapkn rihlah ROHIS angktn XXII diadakan tgl 28 Jan

28 Jan
seperti biasa tempat janjian kita adalah di Darsal (masjid Darussalam dkt sekolah). Aku datang jam 07.25. Ah jadi ingat memori2 ROHIS yg bnyk terukur dsini..

"Nanti Kalo Kamu Jadi Guru..."

Sore itu seperti biasa aku melakukan rutinitas di sebuah TPA di daerah Depok. Saat aku datang pukul 14.25, ternyata sudah ada beberapa anak yang datang. Padahal pengajian baru dimulai pukul 14.30. Setelah bersalaman dengan Bu Kokom (pembina TPA) dan ibu-ibu yang mengantar anaknya, aku mempersiapkan diri untuk mengajar. Satu per satu anak menghampiriku. Aku mulai mengajari mereka mengaji. Semakin lama semakin
banyak anak yang datang sementara baru ada aku dan
Bu Kokom sebagai pengajar. Bu Kokom asyik berbincang dengan para ibu mengenai anak-anak
mereka. Syukurlah tak lama salah seorang kakak pengajar datang.
Jumlah anak yang hadir hari itu tak sebanyak biasanya. Tapi tetap saja suasana begitu ramai oleh keceriaan
mereka.
"Kakak, aku bawa buku pelajaran, nanti
belajar yah?" ujar Opi, si imut yang cengeng.
"Oke. Kamu bawa buku apa aja, Dek?"
"Agama, Matematika, aku bawa semuanya!"
"wah bagus. Gimana bahasa Inggrisnya kemarin udah
bisa?"
"Udah dong! Dapet 100"
"Subhanallah.. Mtk gimana?"
"Hemm dapet 80."
"Pinter!"
Adzan ashar berkumandang, berbondong2 anak2 itu mengambil air wudhu lalu shalat berjamaah. Usai shalat, kelas dipisah antara yang SD dan TK. yang SD dipisah kembali jadi yang sudah al quran dan masih iqro. Seperti biasanya aku dapat kelas iqro untuk mengajarkan hafalan.


OMG, semuanya anak laki2, yang perempuan tak ada yang masuk. Wah tantangan nih, pikirku. Benar saja selama hafalan, mereka sibuk 'mengaplikasikan' jurus2 terbaru, bahkan ada yang sempat berantem beneran.


Rabu, 18 April 2012

Sedikit Coretan Untuk Ibuku dan (calon) Ibu..

Oh, ibuku.. Engkaulah wanita.. Yang kucinta di dalam hidupku..
"Suatu hari saat kau menjadi seorang Ibu..
Jadilah ibu yang shalihah dan shalihkan anak-anakmu..
Dengan iman, ilmu dan akidah..
mengayomi anak-anakmu.."
~nasihat untuk calon ibu~

Menjadi ibu adalah menjadi guru yang hebat..
Karena lewat ibu, kita belajar kesabaran..
Lewat Ibu, kita belajar memaafkan..
Lewat Ibu, kita belajar mengikhlaskan yang lalu dan yang pergi..
Lewat Ibu, kita belajar segalanya..

Ingatkah..
Di balik lelaki hebat, ada wanita tangguh yang selalu mendoakannya..
Dan..
Di balik wanita tangguh, ada lelaki yang pernah menyakitinya (ini kata temanku, gimana menurut kalian?)

Mendidik seorang lelaki berarti mendidik seorang saja.. Tetapi mendidik seorang wanita berarti mendidik satu generasi.. Itu kata Bung Hatta..

Untuk para calon ibu..
Apa saja yang sudah disiapkan?
Untuk para jundi/ah mu kelak?
Mari menshalihahkan diri..
Untuk yang sudah menjadi Ibu, khususnya ibuku..
Terimakasih atas 9 bulan mengandungku..
Terimakasih atas 17 tahun 355 hari ini..
Yang bahkan aku belum bisa membalasnya..

*Tulisan ini kupersembahkan untuk ibuku yang tengah terbaring menikmati sakitnya.. Syafakillah, umi.. Uhibbukifillah.. x'(*
Istana Biruku
~10 hari jelang hari H~
22:40

Why Math, Why Phy

Bismillahirrahmanirrahim..
'Kalau dituruti, badan ini maunya tidur saja. Jadi nggak bergerak-gerak.' kata Eyang Dosen.
So, daripada terus tidur, mending nulis aja.. Semoga bermanfaat..

Matematika, siapa yang tak mengenalnya? Minimal sejak duduk di kelas 1 ilmu dasar perhitungan tersebut sudah kita dapatkan. Fisika, siapa pula anak SMP yang tak mengenalnya? Minimal saat duduk di bangku kelas VIII. Matematika-Fisika, apakah kalian melihat hubungan di antara keduanya?

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!