Review Buku Minimalisme Seni Menyederhanakan Hidup

Sejak semakin menekuni hidup minimalis empat tahun terakhir, buku-buku yang aku baca tak jauh tentang minimalis itu sendiri. Aku biasa menyebutnya nilai-nilai hidup minimalis dengan istilsh minimalism, sebuah istilah dalam bahasa Inggris. Hingga akhirnya terpikirkan, apakah dalam bahasa Indonesia artinya Minimalisme?

0 komentar:

Pengalaman Melakukan Trash Audit Selama Sepekan

 


Hidup minim sampah dan bijak kelola sampah, bukan sebuah trend tapi sebuah kesadaran dan tumbuh dari rasa tanggung jawab atas sisa konsumsi yang kita hasilkan, karena kita MENGHARGAI KEHIDUPAN dan berusaha selalu MEMANUSIAKAN MANUSIA.


Itulah kutipan yang aku dapatkan saat perkuliahan Belajar Zero Waste di materi kedua. Materi kedua di Kelas Belajar Zero Waste adalah Trash Audit yang disampaikan oleh mas Aang Hudaya. 

0 komentar:

Kontribusi Saratoga Bersama SMK Ora Et Labora Cetak Lulusan Terampil dan Siap Kerja

 


Semasa SMA dulu ingat banget paling anti masuk vokasi. Bukan, bukan karena underestimate SMA vokasi alias SMK tapi karena terlalu ingin masuk jurusan Matematika murni di perkuliahan nanti. Tapi memang sih dulu sempet mikir kalo SMK pasti ujungnya kerja...

7 komentar:

Mau Dibawa Kemana Sisa Konsumsi (Kita)?

 



"Buang saja ke kali. Ikat yang kencang."

Begitulah kurang lebih jawaban yang aku dapatkan ketika awal-awal tinggal di kampung ini dan mengalami kebingungan perihal membuang sampah.


Mendengar jawaban itu aku menelan bulat-bulat saja. Itu, tiga tahun yang lalu..


0 komentar:

Pentingnya Memantau Tumbuh Kembang Anak di Masa New Normal

 


Sebagai orang tua dengan anak balita, aku tahu dan sepakat bahwa perkembangan fungsi kognitif anak berada dalam masa puncak pada usia 2 tahun dan terus berkembang hingga usia 5 tahun. Karenanya nutrisi, stimulasi dan afeksi yang cukup sangatlah penting. Terlebih saat ini kita sedang dihadapi dengan tantangan Covid19. Pemantauan tumbuh kembang dan kesehatan anak pada masa ini sangat penting, mengapa? 

0 komentar:

We DO Virtual Concert & Fan Meet Persembahan PrudentialXSuperM Untuk Bangkitkan Semangat dan Kesehatan Fisik

 



Siapa disini yang suka dance dan nyanyi? Kayaknya sebagian besar orang suka nyanyi yaak, at least di kamar mandi, hihi. Di sisi lain, ternyata, akses pengguna konsultasi kesehatan jiwa naik hingga 80% pada fase awal pandemi 1 lho. Ini artinya masyarakat semakin aware pentingnya asuransi kesehatan. Trus apa hubungan ya, dance dan kesehatan?

1 komentar:

Review Buku Going Offline, Saatnya Senyapkan Gadget

 


Di salah satu grup minimalis yang aku ikuti, cukup banyak yang melontarkan pertanyaan "bagaimana mengurangi screen time?" hingga "bagaimana lepas dari sosial media?". Aku pribadi yang menganut prinsip minimalis juga orang yang menjadikan media sosial sebagai media informasi, branding juga mencari cuan.

9 komentar:

Pentingnya Tidur Berkualitas Untuk Kesehatan dan Produktivitas

 


Malam itu, Abrisham yang saat itu berusia 4 bulan terkena demam. Suhu tubuhnya sekitar 38 derajat celcius. Sepanjang sore sampai malam maunya menyusu saja. Memang, kemarin dia baru saja selesai vaksinasi. Sebagai ibu baru, aku sempat dilanda cemas tapi berusaha mengendalikan diri bahwa ini "hanya" efek vaksin yang segera berlalu.

Malam harinya ia tidak bisa tidur tenang. Terus saja menggumam. Dia baru bisa sedikit tenang jika digendong. Maka sepanang malam aku dan suami bergantian menggendong, plus aku menyusuinya.

Itulah momen kedua kalinya aku hanya tidur beberapa jam, tepatnya 2 jam, dalam hidupku. Momen pertama ketika mengalami kontrakan jelang kelahiran anak. Jangan tanya mataku seperti apa, mata panda!

Pagi harinya aku merasa begitu mengantuk dan lelah. Mau ngapa-ngapain rasanya lemas dan tidak bersemangat. Beruntung demam Abrisham sudah berangsur menurun. Kini giliran bundanya yang lunglai.

Tidur. Satu kata, banyak manfaat. Maksudnya penting banget bagi setiap orang apalagi buibuk macam kita ya😂. Bukan sekadar soal kuantitasnya tapi juga kualitasnya. Alhamdulillah sebagai orang yang "pelor" (re: nempel langsung molor) alias mudah tidur dimanapun itu, aku nyaris ngga pernah ngerasain susah tidur. Yaa kecuali di dua momen yang kuceritakan di atas.😂 

Tapi ternyata di luar sana banyak yang mengalami susah tidur nyenyak hingga insomnia! Padahal tidur berpengaruh banget terhadap produktivitas dan kesehatan seseorang. Kurang tidur berkualitas = kurang segar = mengantuk saat jam aktif & kesehatan terganggu = pekerjaan terbengkalai. :(

Kuantitas dan Kualitas Tidur, Mana yang Utama?

Jumat, 18 Juni 2021 lalu aku mengikuti webinar bersama Ibu Ibu Doyan Nulis. Webinar ini memabahs bagaimana  tidur berkualitas bisa berpengaruh pada kesehatan dan produktivitas. Narasumber yang hadir ada dr. Ingrid.


Di awal webinar, dr Ingrid memberikan banyak pencerahan soal tidur berkualitas. Beliau mengatakan, kebanyakan orang dewasa membutuhkan 7 – 9 jam tidur di malam hari. Tetapi kebutuhan kuantitas tidur setiap individu bisa saja berbeda. Ada yang butuh 6 jam, ada pula yang butuh 10-11 jam tidur di malam hari.

Sleep quality refers to how well you sleep.

Aku pribadi sepakat dengan kalimat di atas. Ya, kualitas todr menunjukkan seberapa baik kita tidur. "Ciri: dari tidur yang berkualitas misalnya dapat tertidur dalam waktu 30 menit atau kurang, tidur malam tanpa terbangun di tengah malam atau hanya terbangun 1 kali, & kembali dapat tidur dalam waktu 20 menit. Jadi bisa disimpulkan, kualitas tidur lebih penting daripada kuantitasnya. 




Mengapa sih kualitas tidur itu lebih penting ?

✓ Kualitas tidur lebih dominan dalam mempengaruhi kesehatan secara

keseluruhan daripada kuantitas tidur (US National Sleep Foundation) 

✓ Kualitas tidur menjadi indikator yang lebih baik dalam menilai mood dan 

kepuasan hidup dibandingkan kuantitas tidur (US National Sleep Foundation) 

Pengaruh Tidur Kurang (Berkualitas dan Kuantitas)

Tentu ada aksi, ada dampak yang menyertai. Tidur yang kurang atau bahkan tidak berkualitas serta kurang kuantitasnya setidaknya menyebabkan oleh beberapa hal berikut ini.

  • Working Memory, kurang kuantitas & kualitas tidur akan menurunkan fungsi kognitif & working memory atau kemampuan mengingat.
  • Kebiasaan Makan, kurang kuantitas & kualitas tidur meningkatkan selera makan junk food/ makanan yang tidak sehat.
  • Mood, kurang kuantitas & kualitas tidur membuat seseorang rentan mengalami mood swing dan frustasi.
  • Sistem Imun, kurang kuantitas & kualitas tidur akan menurunkan imunitas.
  • Kecelakaan, kurang kuantitas & kualitas tidur membuat semakin besar kemungkinan mengalami kecelakaan.
  • Kesehatan Kulit, kurang kuantitas & kualitas tidur membuatrentan mengalami penuaan dini.
  • Mudah Terserang Penyakit, kurang tidur dapat menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit. Hal ini berkaitan dengan sistem innate daya tahan tubuh. Pada saat tidur lelap, Interleukin-1, Tumor Necrosis Factor (TNF) dan Natural Killer Cells (NKC) akan tinggi di dalam darah dan menurun ketika bangun. 

Nah, jadi bisa disimpulkan bahwa tidur yang berkualitas dapat meningkatkan sistem daya tahan tubuh. 

Lantas, bagaimana kualitas tidur masyarakat Indonesia?

Prevalensi gangguan tidur di dunia: 

5 - 15%

31-75% berkembang menjadi masalah insomnia kronik

Oh ya aku belum bahas ya, Insomnia adalah ketidakmampuan dalam menjaga atau mempertahankan kuantitas dan kualitas tidur yang baik.

Sekitar 1 dari 3 orang di dunia kadang-kadang mengalami insomnia dalam derajat yang bervariasi. Menurut survei terhadap2.944 responden Indonesia usia 18 – 24 tahun, lebih dari 2/3 masyarakat Indonesia mengalami kurang tidur.

Penyebab Kurangnya Kualitas Tidur

Setelah kita tahu dampaknya, coba yuk kita telaah sebenarnya apa saja sih penyebab kurangnya kualitas tidur.

  1. Gangguan Fisik seperti sakit kepala, nyeri sendi, nyeri perut dan lain-lain.
  2. Isu Medis, seperti sleep apnea, dan lain-lain.
  3. Gangguan Psikologik/ Psikiatrik seperti stress, depresi, ansietas an lain-lain.
  4. Gangguan Lingkungan seperti lampu kamar terlalu terang, suara berisik, an lain-lain.
  5. Penuaan/ Faktor Usia, ½ lansia berumur 65 tahun atau lebih mengalami masalah tidur.
  6. Konsumsi Obat-obatan seperti obat hipertensi, antidepresi, obat mengandung kafein.
  7. Akibat Bekerja di Malam Hari karena aktivitasnya berlawanan dengan biological clock.

Ada juga penyebab genetik seperti narkolepsi. Penggunaan ponsel, rasa khawatir, dan stres juga berakibat mengganggu kebiasaan dan kualitas tidur masyarakat di Asia Pasifik (APAC) selama pandemi bisa menyebabkan Coronasomnia atau Covidsomnia.




Trus gimana cara memperbaiki kualitas tidur ini?

 Kita bisa lho memanfaatkan tanaman herbal di Indonesia yang kaya akan herbal ini.


Herbal Memperbaiki Kualitas Tidur

Melalui penjelasan dr. Ingrid aku baru tahu ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk memperbaiki kualitas tidur, antara lain dengan cara mengonsumsi herbal-herbal  tertentu. Hmm memang sih, ngga sedikit masyarakat Indonesia memanfaatkan tanaman herbal untuk beragam jenis penyakit. Terlebih di pedesaan. Eh, di perkotaan juga lho! Contohnya mengobati demam dan batuk dengan bawang merah ulek dicampur minyak kayu putih atau madu jahe hangat.

Berikut ini beberapa ekstrak tanaman obat untuk gangguan tidur. 

  • Valerian Lavender Hop Chamomile
  • Hawthorn St. John’s Wort Rosemary Passion Flower

Juur aku baru dengar kedua ekstrak tanaman obat di atas. Dimana bisa mencarinya ya?


Tentang Antangin Good Night

No worries! Ketiga bahan herbal di atas diramu dalam Antangin Good Night yang baik dikonsumsi untuk tidur berkualitas. Passion flower, valerian dan jahe dapat dikombinasikan untuk mendapatkan efek yang sinergistik dalam menginduksi tidur, total sleep time, memperbaiki kualitas tidur serta membantu mencegah dan mengatasi efek buruk akibat kurang tidur seperti masuk angin dan penurunan imunitas.



Produk Antangin Good Night diformulasikan Membantu meringankan gangguan sulit tidur, membantu meredakan gejala masuk angin dan menghangatkan badan. Antangin Old Night spat dikonsumsi 2-4 table sebelum tidur. Demikian disapaikan oleh apt. Drs. Victor S. Ringoringo, S.E., M.Sc, Chief Business Development and R&D PT. Deltomed Laboratories.



Kandungan Antangin Night antara lain:

  • Passion flower (passiflora incarnata)
  • Valerian (valeriana officinalis)
  • Ginger/jahe (zingiber officinale)
  • Myristica (myristica fragrans)
  • Sembung (blumea balsamifera)

Keunggulan Antangin good Night bisa kita temukan lewat quality, safety, efficacy. Produk ini sudah terdaftar BPOM, memenuhi CPOTB dan tersertifikasi ISO 9001:2015. Oh ya, CPOTB adalah petunjuk yang menyangkut aspek produksi dan pengendalian mutu obat tradisional yang meliputi seluruh rangkaian pembuatan obat tradisional yang bertujuan agar produk obat tradisional yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan penggunaan.

Antangin Good Night bisa Moms dapatkan di Deltomed Official Store yang ada di Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibi dan JD ID. Tersedia juga di offline store seperti apotek dan toko retail. Segala informasi terkait produk Antangin Good Night bisa Moms dapatkan di Instagram Antangin .

Yuk ciptakan produktivitas dengan tidur berkualitas, nutrisi seimbang dan latihan agar kita menjadi ibu bahagia, sehat dan produktif! 

Jadi Moms tim "pelor" atau insomnia nih? 🙈

0 komentar:

Cara Menjaga Kesehatan Mata Secara Alami







Mata yang sehat menjadikan awal yang sempurna dalam menjalani hari. Aku baru merasakannya ketika SMP aku mulai merasa penglihatanku tidak begitu jernih, terlebih ketika guru menuliskan sesuatu di papan tulis. Awalnya aku sempat denial bahwa aku mengalam rabun jauh. Tapi akhirnya aku menurut saat ayahku mengajakku memeriksakan mata di optik.

1 komentar:

Tips investasi Emas Bagi Pemula yang Mudah dan Lengkap




Sudah setahun terakhir aku menerjunkan diri pada dunia investasi. Mom investor atau bunda investo begitulah aku mengistilahkan para ibu yang terjun ke dunia investasi sepertiku. Mulai dari investasi reksadana hingga merembet kemama-mana. tentunya aspek keamanan diutamakan, yaitu terdaftar dan di awasi oleh OJK.

Namun jujur aku belum pernah mencoba investasi emas. Sehingga aku membutuhkan tips investasi emas bagi pemula.

0 komentar:

Mengenal Circular Fashion dan Donasi Pakaian dari Tukar Baju



Decluttering. Kapan kalian terakhir kali melakukan decluttering? Terjadwal ataukah insidental?

Decluttering menjadi istilah yang sering digunakan ketika kita beberes dan mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah. Bahkan sebenarnya decluttering bukan soal benda fisik saja tapi juga benda digital hingga pikiran dan perasaan lho! Yap, decluttering erat dengan melepaskan (letting go). Tentu bagi sebagian orang ini bukan hal yang mudah.

13 komentar:

Tips Merawat Mobil yang Tepat

 

source: Pixabay


Barang-barang yang hingga hari ini membersamai kehidupan kita literally memang miliki kita. Perlu adanya sense of belonging atau rasa memiliki. Nah, tapi sense of belonging itu bukan untuk membuat kelekatan hingga akhirnya tidak mau berpisah. Sense of belonging pada barang sebaiknya membuat kita bisa dan mau merawatnya dengan baik. Merawat barang juga sebagai bentuk pertanggungjawaban kita pada barang yang kita miliki di masa kelak.

0 komentar:

Manajemen Kebersihan Menstruasi Untuk Kesehatan Perempuan Indonesia

 

Kapan pertama kali Moms mengalami menstruasi?
Bagaimana rasanya?


Aku pribadi mengalaminya saat duduk di kelas 8 SMP. Saat ini berada di antara kebingungan juga ketakutan. Jujur saja, aku berada di keluarga yang kurang mengenal edukasi soal menstruasi pada anak perempuan. Walaupun begitu, saat itu ibu sigap membantuku.

0 komentar:

Review Novel Kekasih Semusim, Ketika Cinta dan Nasionalisme Bertemu

 



Dini Fitria. Nama itu aku tidak asing di telingaku. Aku pertama kali mengenal sosoknya saat menonton salah satu program di stasiun TV yang aku tonton. Senyum khasnya dan pembawannya membuktikan bahwa beliau sangat berpengalaman di dunia jurnalis.

Hingga akhirnya salah seorang bloger senior yang aku kenal, Teh Ani, mengundangku hadir ke acara yang diadakan beliau. Acaranya tidak jauh-jauh dari dunia kepenulisan. Qadarallah aku berhalangan hadir meski saat ingin, karena ada kejadian tidak terduga.

Di dunia digital seperti saat ini rasanya segalanya adalah sebuah keniscayaan. Singkat cerita aku bisa menjalin koneksi dengan Mbak Dini meski baru sekadar dunia maya. Lalu tempo hari di bulan April 2021 aku mengundang Mbak  Dini untuk berbagi dengan teman-tema @bukuberjalan.id  seputar penulisan fiksk. Disitu beliau cerita tentang calon novel terbarunya, Kekasih Semusim.

Ada kisah cintanya, ada sisi nasionalismenya juga.

"Wah terus benang merahnya dimana? Trus kenapa judulnya Kekasih Semusim?"

1 komentar:

Gaya Hidup Minim Sampah Makanan Mulai dari Membeli Hingga Konsumsi

 



Makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Itulah yang menjadi prinsipku selama ini. 

Terlepas dari teren saat ini dimana "pemakan" bisa menjadi profesi seperti food vlogger, foodblogger atau food reviewer, makanan bisa menjadi berkah namun juga bisa menjadi musibah terlebih jika kita tidak bisa mengendalikan diri.

27 komentar:

Empat Permainan Beragam Pembelajaran dan Keseruan di Paddle Pop Seaventure

 

Paddle Pop

Libur Lebaran bisa dibilang libur paling lama bagi para pekerja dan siswa serta mahasiswa. Sebagai keluarga perjalan, biasanya momen libur panjang termasuk libur Lebaran kami manfaatkan untuk traveling. Bukan traveling mewah tapi traveling sederhana; menggendong kariel dan balita, di seputar Indonesia.

Mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Sulawesi kami jelajahi di tiga kali Lebaran yang sudah kami lalui bersama sebagai keluarga kecil. Mulai dari berkunjung ke sanak saudara sampai menjelajahi alam.

Hingga akhirnya untuk kedua kalinya libur Lebaran harus #dirumahaja akibat hadirnya Covid 19. Jujur, aku masih parno ajak anak ke luar kota sekalipun diperbolehkan dengan syarat tes. Jangan ke luar kota, ke wisata satu kecamatan saja, kami sudah libur sejak Market 2020.

Di satu sisi Cham tipe anak bosan-an, harus ada aktivitas bermain sambil belajar "baru" yang dilakukan setiap harinya.

Sampai akhirnya Bunda menemukan solusinya!

0 komentar:

Hijrah Sampah: Bijak Kelola Sampah Mulai dari Rumah


bijak kelola sampah


Sejak kecil aku hidup dengan doktrin "buanglah sampah pada tempatnya". Tempat yang dimaksud tentu saja tempat sampah dan TPS atau TPA (tempat pembuang akhir). Keluargaku tinggal di Jakarta sejak aku lahir, biasanya kami dan warga lainnya membuang sampah ke tempat pembuangan sampah yang ada. 

Mulai dari sampah kering hingga sampah basah seperti sisa makanan bercnapur menjadi satu dalam gerobak-gerobak di pinggir jalan yang kemudian disatukan dalam truk pengangkut besar yang entah akan dibawa kemana.

Setiap bulannya, warga hanya dikenakan biaya Rp10,000. Harga yang semakin aku dewasa, aku sadari terlalu rendah. Sepuluh ribu rupiah untuk berkilo-kilogram sampah yang dihasilkan setiap rumah!


Mengenal Hidup Minim Sampah (Zero Waste)
Zero waste atau hidup minim sampah. Menurut Zero Waste ID, gaya hidup minim sampah (zero waste) adalah sebuah fiosofi yang dijadikan gaya hidup untuk mendorong siklus hidup sumber daya agar bisa dipakai kembali dengan tujuan meminimalisasi sampah berakhir ke landfill (tempat pembuangan akhir).

Aku sendiri mengenal istilah zero waste di tahun 2017 sejak bergabung dalam komunitas Ibu Profesional tahun 2017 lalu. Bahkan di komunitas Ibu Profesional regional Jakarta, ada rumah belajar green organik yang fokus membahas isu-isu dan melakukan praktik pelestarian lingkungan yang bisa dilakukan khususnya oleh ibu dan keluarga.

Di antara ratusan anggota Ibu Profesional, bisa dibilang aku adalah anggota dengan "pergerakan yang lambat". Bagaimana memilah sampah, mengompos dan lain sebagainya, aku tidak paham atau lebih tepatnya belum tertarik mengatahui dan mempraktikkannya. Terlebih saat itu aku baru melahirkan anak pertamaku ditambah menjalani hidup berpindah-pindah (nomaden). Meskipun aku tahu, bagi beberapa orang itu bukanlah alasan. 

Aku tahu sampah popok sekali pakai, plastik kresek, sedotan plastik dan lain sebagainya tidak baik untuk bumi tapi aku terus memakainya.... Aku abai tentang isu ini, aku terlalu abai..

Padahal melihat data yang pernah dikeluarkan, Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah setiap harinya! Bahkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per 2020 menyatakan timbunan sampah nasional mencapai 67,8 ton!

Tersadar dari Miskonsepsi Membakar Sampah

Setelah menikah, aku tinggal di Kabupaten Bogor yang notabene bukan kota besar. Sejak pertama kali mendiami wilayah ini, tidak ada petugas sampah disini sehingga warga memilih membakar sampahnya. Dan keluarga kami termasuk yang melakukannya. Saat itu aku seolah tidak merasa "berdosa" karena merasa kami tidak membuang sampah melainkan membakarnya.

Masih lebih baik membakar sampah, tidak berakhir di TPA, pikirku kala itu.

Hingga akhirnya aku tersadar, apa yang kami lakukan tidak lebih baik daripada membuang sampah ke TPA! Sampah yang kami bakar memang secara kasat mata akan menghilang atau setidaknya menyisakan abu saja tapi asapnya terus membumbung ke udara. Asap pembakaran sampah mengandung beberapa polutan seperti arsen, air raksa, merkuri, karbondioksida, karbonmonoksida, nitrogenoksida dan lain sebagainya. Itulah yang menjadi penyumbang kerusakan laporan ozon di bumi  yang punya efek domino.


Bahkan data dari bilang bahwa asap pembakaran 350 kali lebih berbahaya dibandingkan asap rokok! Mengetahui fakta ini, jujur aku sangat shock! Gas beracun pada asap kebakaran ternyata juga dapat memicu kanker, kerusakan hati dan ginjal, mudah lelah hingga iritasi kulit. Selama ini setiap kali orang-orang di wilayah ini termasuk kami dnegan entengnya membakar sampah. Anak-anakpun seringkali menyaksikan. Bukankah ini sama saja mendorong mereka ke dalam jurang bahaya kesehatan?

Aku tahu ini salah, tapi saat itu, jujur aku seperti tak punya pilihan. Tak tahu harus berbuat apa....


Tragedi Leuwigajah dan Kesadaran Bijak Kelola Sampah
Ada saja jalan dari-Nya untuk membuatku tersadar soal isu pengelolaan sampah ini. Suatu hari di tahun 2020, aku menemukan kisah di balik peristiwa TPS Leuwigajah yang dulu hanya kudengar sekilas dan tak cukup menyentuh nuraniku.

TPA Leuwigajah adalah tempat pembuangan  akhir sampah yang ada di Kota Cimahi. Gunungan sampah menjulang setinggi 60 meter dan selebar 200 meter itu, entah kapan akan berkurang atau bahkan menghilang. Hingga akhirnya sampah-sampah ini "mengamuk" dan memakan korban. 

leuwigajah
TPS Leuwigajah sebelum tragedi
(sumber: Humas Kota Bandung)


Saat itu, 21 Februari 2005, hujan terus mengguyur wilayah Cimahi. Tiba-tiba terdengar ledakan keras dari gunungan sampah, diikuti dengan longsoran sampah yang langsung menyapu Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. Tercatat 157 jiwa melayang, tentu saja mereka adalah para warga di sekitar TPA yang sebagian besar menggantungkan hidup di TPA.  

Pada peristiwa TPS Leuwigajah terjadi ledakan sampah akibat timbunan gas metana (CH4) dari sampah organik yang terbuka bahkan tertutup rapat, ditambah hujan yang terus turun. Sampah-sampah organik ini juga tercampuraduk dengan sampah anorganik bahkan hingga benda berbahaya seperti beling. Semua karena tidak adanya proses pemilahan dan pengelolaan sampah dengan bijak.

Enam belas tahun sudah peristiwa tersebut berlalu, tapi siapapun yang mendengarnya, terutama mereka yang sudah emmilki kesadaran terhadap sampah, tentu akan terenyuh dibuatnya. Termasuk aku, pertama kali mengetahui lebih dalam tragedi TPA Leuwigajah membuatku semakin sadar pentingnya pengelolaan sampah dengan bijak. Tragedi TPA Leuwigajah menjadi sejarah dalam isu lingkungan di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Tentu, tidak ada yang mengharapkannya terulang kembali, tidak juga kita, bukan?

Waste4change Solusi Bijak Kelola Sampah
Di bulan Maret 2020 saat itu aku sedang berselancar di sosial media dan menemukan sebuah postingan tentang Waste4change. Jiwa kepoku muncul, aku pun mencaritahu lebih dalam. Ternyata Waste4Change adalah sebuah lembaga pengelolaan sampah untuk didaur ulang yang sudah berdiri sejak tahun 2014 di bawah naungan PT WasteforChange Alam Indonesia. 

Waste4change hadir dengan misi mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA dan visi sebagai pemimpin dalam pengelolaan sampah yang bertanggungjawab dengan berlandaskan pada kolaborasi dan teknologi menuju penerapan ekonomi melingkar (circular economy) dan Indonesia Bebas Sampah. Integritas, solutif, bertanggungjawab, kolaboratif dan peduli merupakan nilai-nilai yang selalu dipegang oleh Waste4change.

Perjalananku memilah sampah pun dimulai per Maret 2020. Aku mulai memilah menjadi beberapa kategori:
  1. kemasan tetrapak
  2. metal & beling
  3. botol plastik soft/hard bekas kemasan apapun 
  4. elektronik waste
  5. sampah tekstil
  6. sampah lainnya

Nomor 1-3 aku kirimkan ke Waste4change. Nomor 4 aku kirimkan ke pengelola sampah elektronik. Nomor 5 aku simpan untuk dibuat isi bantal/guling ataupun keset kaki.

Yang masih menjadi pikiran salah satunya adalah minyak jelantah. Sebenarnya aku pernah mendapatkan info pengelola jelantah tapi umumnya berada di luar kota. 



Mengapa mengirimkan sampah ke Waste4change? Jawaban utamanya karena di sekitar rumah kami belum ada bank sampah. Dan Waste4change hadir sebagai solusi permasalahan penanganan sampah untuk keluarga kami.

Sayangnya sejak awal mengirimkan, aku tidak pernah mendokumentasikan. Berikut beberapa sampah terpilah yang berhasil terfoto.

Tak hanya aku, sebagai seorang ibu, aku juga mengajak suami dan anakku bersama memilah sampah. 

"Icham, mulai sekarang kita kurangi sampah yang dibakar yuk. Sampah-sampah susu kemasan Icham, dikumpul saja. Nanti bunda kasih ke Om untuk dibuat sesuatu."

"Setiap selesai minum susu (kemasan), Bunda minta tolong Icham taruh sampahnya di wadah sana, boleh?"

Begitulah aku senantiasa sounding ke anakku, Icham. Beruntungnya di memahami, walaupun ada momen tertentu dia lupa atau enggan menaruh di wadah.

Apakah saat itu aku sudah berhenti membakar sampah? Jujur, jawabannya, belum. Tapi setidaknya volume sampah yang kami bakar jauh berkurang karena kehadiran waste4change ini.

Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, Waste4change adalah lembaga pengelola sampah. Namun ternyata setelah aku caritahu lebih lanjut, Waste4change lebih dari itu. Waste4change sebagai solusi baik personal maupun perusahaan mengelola sampah mereka dengan bijak. Ada dua layanan utama yang ditawarkan oleh Waste4change antara lain:
  • Company Waste Management yang terdiri dari waste collection service, extended producer responsibility, solid waste management research, community development dan training.
  • Personal Waste Management yaitu recycle with us. Recycle with us memiliki beberapa program baik secara mandiri oleh Waste4Change maupun dengan para mitra.




Layanan Waste4change  tersedia di 10 kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Semarang, Sidoarjo Surabaya dan Medan. Waste4change  berkomitmen menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang bijak dan bertanggungjawab. Hingga hari ini sudah ada 198 klien, 175 proyek dan 5.404.041 kg sampah terkelola.

Program yang selama ini aku ikuti dari Waste4change adalah Send Your Waste dimana masyarakat bisa mengirimkan sampahnya ke Waste4change pusat maupun ke bank sampah yang bekerjasama dengan Waste4change.
Apa saja jenis sampah yang diterima?
Berikut jenis sampah yang diterima beserta contohnya.






Apa yang harus dilakukan pada sampah sebelum mengirimkannya?
Sebelum mengirimkan sampah, kamu harus memperhatikan hal berikut.





Bagaimana cara mengikuti program Send Your Waste?
1Buka website Waste4change. Klik Layanan - Individu - Recycle With Us


2. Pilih 'Send Your Waste' di bagian bawah halaman



3. Pilih basecamp yang kamu tuju. Sebagai informasi, selama pandemi, Waste4Change hanya membuka dua tujuan pengiriman.


4. Apabila kamu belum pernah membuat akun, masukkan nomor handphone yang ingin kamu daftarkan, diikuti password.



5. Beri alamat pengiriman, alamat pengirim dan sematkan kode label
6. Tentukan jenis ekspedisi, jenis sampah dan deskripsi sampah yang kamu kirimkan.
7. Sampahmu siap dikirimkan melalui ekspedisi/kurir. Jangan lupa untuk mengemasnya sesuai panduan dari pengelola ya.



Insentif poin diberikan hanya untuk program kolaborasi dengan mitra/brand. Kehadiran Waste4Change membuat tidak ada lagi sampah yang tercampur, semuanya sudah terpilah dan siap didaur ulang secara bertanggungjawab.


Hadirnya Bank Sampah Terdekat Jadi Solusi Selanjutnya
Rezeki, bukan sekadar materi (finansial). Bukan sekadar bertemu orang-orang sevisi misi. Rezeki juga bisa berupa solusi atas masalah duniawi yang dihadapi. Meskipun seduniawi-duniawinya, sebaiknya tetap berkaitan dengan ukhrawi.

Bertemu dengan Waste4change adalah solusi sekaligus rezeki bagiku. Jika saja tidak atau belum bertemu dengan Waste4change, mungkin hingga detik ini atau setidaknya sepanjang 2020 aku belum mulai memilah sampah. Sampai kemudian suami mengabarkan bahwa bank sampah di kantornya baru saja dibuka. Beliaupun segera mendaftarkan diri di bulan Januari 2021. Sungguh aku merasa begitu bahagia, terlebih mereka menerima sampah minyak jelantah, seolah menjadi jawaban atas permasalahanku tempo hari.

Per Februari 2021 akupun menambah lagi kategorisasi pilah sampah dari rumah yaitu kategori minyak jelantah dan karton/kardus/duplex. Setelah mengumpulkan dan memilah selama 2 bulan, di bulan April untuk kali pertama aku menyetorkan hasil pilah sampah dari rumah ke bank sampah terdekat, Bank Sampah Spirit namanya.


Selain minyak jelantah, aku juga menyetorkan bekas kemasan tetrapak dan beragam jenis karton serta kertas. Karena baru berdiri, bank sampah ini belum menerima banyak jenis sampah.

Petugas bank sampah menyambut kami dengan begitu hangat. Pertama-tama setiap jenis sampah yang aku setorkan, ditimbang terlebih dahuli termasuk minyak jelantah. Untuk tetrapak, minimal setor adalah 1 kilogram sedangkan untuk jenis sampah lainnya, sepengetahuanku, tidak ada berat minimal.



Kemudian, hasil setoran kami dicatat dalam buku tabungan bank sampah. Nantinya total setoran kami setiap enam bulan sekali akan diakumulasi dan sebagaimana konsep bank, akan menghasilkan rupiah. meski sejujurnya,  rupiah hanyalah bonus. Bertemu dengan tempat penampungan pilah sampah dari rumah dan bisa menyetorkannya sudah merupakan kebahagiaan bagiku. Karena sampahku, tanggungjawabku...

buku tabungan bank sampah


Memilah Sampah dari Rumah
Sampahku tanggungjawabku. Memilah sampah dari rumah adalah salah satu praktik dari hidup minimalis yang sedang kami jalani. Karena dari rumah semua bermula, pembelajaran, kebersamaan dan kebiasaan.

Ada orang-orang yang memilih mengantarkan sampah terpilih mereka ke lembaga daur ulang. Ada pula yang memilih mengirimkan sebagian dan mengolahnya mandiri sebagian.

Tidak ada yang paling superior di antara keduanya. Karena keduanya sama, sama-sama punya kesadaran menjaga bumi dan kegelisahan terhadap sampah. Keluarga kami saat ini belum bisa mengelola sendiri sehingga memilih untuk mengirimkannya. 

Kehadiran Waste4change dan Bank Sampah Spirit menjadi salah satu cara bijakku kelola sampah.  Bijak kelola sampah artinya menyadari apa yang kita konsumsi berasal dari bumi dan dikembalikan ke bumi dengan "cara yang baik" seperti recycling, upcycling, menanam kembali, hingga mengompos. 
Bijak kelola sampah juga harus dibarengi dengan bijak berkonsumsi, artinya menyadari setiap konsumsi yang kita lakukan didasari atas kebutuhan dan anggaran, secukupnya dan tersertifikasi.

Bijak kelola sampah versi keluarga kami antara lain:
Meminimalisasi (Refuse, Reduce & Reuse)
Meskipun kini mulai dan makin bermunculan pihak-pihak pengelola daur ulang sampah,  punya tempat menyalurkan sampah tapi bagiku refuse masih lebih baik. Refuse, artinya meminimalisasi sebisa mungkin produksi sampah rumah tangga. Meminimalisasi juga berkaitan dengan mengurangi (reduce) dan menggunakan kembali (reuse). Beberapa praktik minimalisasi produksi sampah yang aku lakukan antara lain:
  • Pakai Sampai Habis, yaitu menggunakan segala produk habis pakai sampai benar-benar habis alih-alih membeli yang lainnya sementara yang lama masih ada. Misal, memakai produk facecare sampai habis, baru membeli yang baru. Pernah aku tuliskan juga ceritaku pakai sampai habis disini,
  • Pakai Sampai Rusak, yaitu memakai barang-barang yang kita miliki sampai benar-benar rusak. Jika rusak, alih-alih langsung membeli yang baru, selama bisa diperbaiki, kenapa tidak? Misalnya memakai handphone yang ada sampai benar-benar rusak atau tidak lagi sesuai kebutuhan
  • Pakai yang Ada, yaitu memakai apa yang ada alih-alih membeli yang baru. Misal, menggunakan kardus bekas untuk tempat kaos kaki.
  • Bijak Berkonsumsi, yaitu mengkonsumsi maupun berbelanja sesuai kebutuhan dan secukupnya. 
  • Habiskan Makananmu, yaitu menghabiskan setiap makanan yang sudah kita ambil di piring. Sebagai langkah pencegahannya, bisa dengan mengambil porsi sedikit alih-alih impulsif langsung mengambil banyak. Ini juga berkaitan dengan makan secukupnya dan berhenti sebelum kenyang. Pernah aku tuliskan ceritaku habiskan makanan disini.
Refuse, reduce dan reuse merupakan tahap awal bijak terhadap produksi sampah sebelum ke tahap rot dan regrow.
Memilah 
Sebisa mungkin hindari atau kurangi volume sampah yang  berakhir di TPS/TPA maupun yang dibakar. Diawali dengan membuat kategorisasi sampah. Per Februari 2021 aku menambah pos pilah sampah d rumah menjadi enam pos pemilahan sampah antara lain:
  1. sampah kertas & karton
  2. sampah plastik multilayer 
  3. sampah tetrapak
  4. sampah botol plastik kemasan/plastik keras 
  5. minyak jelantah
  6. electronic waste (karena produksi nya sangat jarang jadi biasanya aku simpan di kaleng dulu)
  7. Sengaja aku buat detail begini jadi tinggal mengepak ketika waktunya menyalurkan. Kalau dirasa terlalu spesifik, kalian bisa coba dua kategori dulu: organik & anorganik.

Perlahan kami mulai mengurangi volume sampah yang berakhir di pembakaran. Kategorisasi pemilahan sampah juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi. 

Menyalurkan

Sampah sudah terpilah. Jangan lupa untuk mencuci dan mengeringkannya sebelum disalurkan ke pihak pengelola sampah guna meminimalisasi timbunan kuman dan bakteri. Aku punya tiga tempat penyaluran sampah yaitu:
  • waste4change, dikirimkan setiap sebulan sekali menggunakan ekspedisi
  • bank sampah, diantar mandiri setiap dua pekan sekali 
  • ewasteRJ, dikirimkan jika dirasa sudah cukup banyak

Mengedukasi
April 2020 lalu aku bersama beberapa teman di komunitas membuat buku anak bertema pelestarian lingkungan & Ramadan berjudul Ramadan Untuk Bumi. Buku itu menjadi sarana edukasiku ke masyarakat, dari usia anak-anak hingga dewasa.
Buku Ramadan Untuk Bumi ditulis olehku dan teman-teman komunitas


Selain itu aku juga rutin membuat konten edukasi lingkungan/hidup minimalis di akun personal Instagram-ku @visyabiru_. Aku juga menginisiasi komunitas para ibu pegiat hidup minimalis dimana Salah satu value minimalism adalah sadar lingkungan. Secara berkala kami membuat konten edukasi melalui Instagram @minimalistmoms.id dan blog minimalistmomsid.blogspot.com

Mengompos dan Menanam Kembali (ROT & Regrow)

Mengompos yaitu kegiatan mengolah sampah organik menjadi pupuk cair yang bermanfaat bagi kesuburan tanah dan tanaman. Dengan mengompos, apa yang kita ambil dari tanah, dikembalikan dengan baik ke tanah. Sedangkan menanam kembali merupakan proses menanam mudah menggunakan salah satu bagian dari bahan pangan. Mengompos dan menanam kembali adalah pengelolaan khusus sampah organik yang bisa dibilang paling efektif.

Semoga aku bisa sesegera mungkin mulai mengompos serta menanam (kembali).

Mengapa bijak kelola sampah?
Memilih untuk bijak kelola sampah bagiku bukanlah tanpa alasan. Setidaknya ada beberapa alasan yang menguatkanku untuk mulai bijak kelola sampah dari rumah antara lain:
  • mengurangi jejak karbon yang berbahaya bagi bumi dan manusia
  • faktanya 20% sampah masih bisa didaur ulang
  • diperkirakan pada 2025 volume sampah di Indonesia meningkatkan menjadi 70,8 ton. Dengan bijak kelola sampah, niscaya kita bisa meminimalisasi angka ini.


Penutup
Di dunia ini, tidak ada sampah yang benar-benar akan hilang. Mereka hanya akan berubah bentuk. Apa-apa yang kta sebut sampah pada dasarnya punya kehidupan kedua. Tinggal apakah kita bersedia mengantarkan mereka menuju kehidupan kedua: berakhir di TPA atau menyalurkan ke pengelolaan sampah?

Mengantarkan ke pihak pengelola sampah tentulah menjadi pilihan bijak, bila kita belum bisa mengelolanya secara mandiri. Namun kehadiran pihak-pihak pengelola jangan sampai membuat kita jadi bermudah-mudah "nyampah". Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Bukanlah meminimalisasi lebih baik daripada mendaur ulang?

Pada akhirnya aku sampai pada fase ini. Hijrah sampah, aku menyebutnya, sebuah fase kesadaran dan perpindahan dari kebiasaan membuang sampah ke TPA dan membakarnya menuju pemilahan dan pengelolaan sampah secara bijak. Langkah keluarga kami dalam mengelola sampah memang masih tergolong kecil dan sederhana. Tapi semoga yang kecil dan sederhana ini bisa konsisten, syukur-syukur bisa memotivasi yang lainnya dan bisa meng-upgrade kami untuk melakukan langkah yang lebih besar.

Info selengkapnya seputar Waste4change:
Instagram: @waste4change
Website: waste4change.com

Referensi: 
IDN Times
Zero Waste ID
Humas Bandung 
CNN Indonesia


27 komentar: