Review Buku Going Offline, Saatnya Senyapkan Gadget

 


Di salah satu grup minimalis yang aku ikuti, cukup banyak yang melontarkan pertanyaan "bagaimana mengurangi screen time?" hingga "bagaimana lepas dari sosial media?". Aku pribadi yang menganut prinsip minimalis juga orang yang menjadikan media sosial sebagai media informasi, branding juga mencari cuan.


Meski begitu aku akui, ada kalanya terlalu lama screen time membuat "mual" akhirnya detox. Ya detox nya ngga sampai harian sih, paling hanya setengah hari. Sudah harus "kembali".

Oh ya, screen time yang kumaksud tidak hanya membuka sosial media tapi juga aplikasi chat, ketik ini itu). Itulah mengapa juga aku ngga prefer baca buku lewat screen. Dunia digital yang berkembang pesat banget memang membuat setiap orang dengan mudahnya terhubung. Banyak manfaatnya tapi ngga sedikit juga akibat negatifnya. Salah satunya sumber distraksi, terutama sosial media. Contoh riilnya saja, lagi mengerjakan pekerjaan, tiba-tiba ponsel berbulu tanda notifikasi sosial media masuk. Penasaran, cek deh, eh keterusan!

Contoh riilnya lainnya lagi ketika sedang berkumpul bersama orang-orang di dunia nyata tapi sibuk pegang gadget. Lebih-lebih jika bukan urusan urgent. Kebersamaan akhirnya hanya jadi kamuflase~ #notetomyself.

Blurb
Melalui media sosial dan realitas virtual, kehidupan online membuat kita terus terhubung dan selalu aktif. Ponsel cerdas kita adalah benda pertama yang kita raih saat bangun tidur dan yang terakhir kita letakkan sebelum tidur. Layar kecil di tangan kita itu memberikan kenyamanan, persahabatan, dan rangsangan yang membuat kita terus-menerus tertarik dan bersemangat serta mengalihkan perhatian kita dari dunia nyata. Bersamanya, kita jarang merasa bosan atau punya waktu untuk hanya duduk diam dan melamun.

Meskipun memberi kita banyak manfaat, tidak seharusnya kehidupan online menghilangkan kita dari kesenangan hidup di sini saat ini dan berinteraksi dengan dunia fisik. Seharusnya, kehidupan onlinetidak membuat kita lupa bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang nyata dan menghargai keindahan lingkungan kita, serta tidak membuat kita tersesat dalam gangguan terus-menerus.

Buku ini mengundang kita untuk meletakkan gadget sesekali dan menemukan kembali kesenangan sederhana menghabiskan waktu secara offline. Waktu di mana kita dapat terhubung dengan hal-hal indah di sekitar kita—bukan dengan teks, video, emoji, tetapi dengan mata, telinga, sentuhan, perasaan, imajinasi, dan semua indra kita.

Going Offline adalah undangan untuk melakukan perjalanan yang membawa kita ke jantung kehidupan nyata itu sendiri—untuk menemukan dunia di luar dan bahkan untuk menemukan dunia di dalam, ke jantung tempat jati diri kita berada.

Kurang lebih itulah yang juga dipikirkan Mbak Desi Anwar hingga akhirnya menulis buku Going Offline, Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi tepat pada tahun baru 2020. Penulis mengajak pembaca untuk menaruh gadget yang dimiliki. Kegiatan tersebut tidak dalam waktu yang lama tapi rutin. Kedengarannya susah tapi penulis meyakinkan, sesungguhnya bisa dilatih sedikit demi sedikit.

Desi Anwar menawarkan kegiatan-kegiatan lain yang bisa dilakukan tanpa menggunakan gadget. Simple tapi bermakna seperti bercakap-cakap dengan orang lain secara langsung, membaca buku fisik, atau jalan-jalan di sekitar rumah dan mengamati alam.

Spesifikasi Buku

Judul: Going Offline, Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi 
Penulis: Desi Anwar
Jumlah Halaman : 260
 ISBN: 9786020637075 
Bahasa: Indonesia 
Berat: 0.18 kg 
Lebar: 13.5 cm 
Panjang: 20.0 cm 
Sampul: Soft Cover 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Harga Normal: Rp. 80,000 


Going Offline secara istilah artinya keluar jalur, maksudnya keluar dari dunia daring dan hadir di kehidupan nyata seutuhnya, kurang lebih demikian.

Sekilas Isi Buku
Ada dua bab dalam buku ini yang berisi beberapa tulisan. Tentunya semua ditulis berdasarkan pemahaman juga pengalaman beliau sehari-hari.

Bagian 1: Mengapresiasi Hidup dan Kehidupan
Ada 11 tulisan dalam bab pertama ini:
  1. Kemampuan mendengarkan
  2. Seni mengapresiasi
  3. Seni bercakap-cakap
  4. Jangan mengundangnya minum teh
  5. Jadilah yang hidup
  6. Jalan kaki sebagai terapi
  7. Membangkitkan kreativitas
  8. Keajaiban puisi
  9. Beragam dunia fiksi
  10. Kuas dan lukisan

Yang paling ngena di antara semua yang ngena pada bab ini adalah tentang bagaimana kegiatan jalan kaki punya banyak manfaat. Tidak hanya soal kesehatan fisik tapi juga "kesehatan" sosial.

Bab 2: Seni Kehidupan
Nah di bab 2 ini jumlah tulisannya lebih banyak, ada 28 judul tulisan antara lain:
  1. Arti teman dan relasi
  2. Mengelola waktu
  3. Menjadi diri sendiri
  4. Ganjaran kebosanan
  5. Mengejar kebahagiaan
  6. Pentingnya berkebiasaan baik
  7. Keajaiban alarm
  8. Mendengarkan tubuh
  9. Satu-satunya yang harus ditakuti adalah ketakutan itu sendiri
  10. Kota impian
  11. Diri anda bukanlah emosi anda
  12. Nilai segala sesuatu
  13. dan lain-lain.

Disini aku terkesan banget dengan tulisan mendengarkan tubuh. Alih-alih mengkonsumsi apa yang disuka, penulis mengajak kita memakan apa yang dibutuhkan tubuh dengan mendengarkan kebutuhan tubuh kita. Disertai contoh riil yang dialami orang sekitar penulis bagaimana akibat dari mengkonsumsi yang disuka padahal tidak dibutuhkan bahkan justru berbahaya!

Ada juga tulisan tentang belajar bukan saja ketika kita bersekolah formal tapi seumur hidup. Otak perlu distimulasi agar terus berfungsi dengan baik. Maka penting untuk teruskan mengasah otak dengan belajar. Contoh simple nya dengan membaca. Bisa juga dengan mengikuti kursus sederhana sesuai passion atau mengulang pelajaran terdahulu. Syukur-syukur setelahnya bisa memberikan nilai tambah bagi diri kita.

Pada tulisan tentang Manajemen Emosi, penulis menyentak kita bahwa kita tidak bisa mengontrol apa yang orang katakan atau lakukan pada diri kita. Kita sendirian yang bisa mengontrol respon atas perkataan/perbuatan orang lain. Jangan mau emosi kita dikendalikan oleh orang lain.

Keunggulan Buku
Jujur saja buku non fiksi berisi kumpulan tulisan singkat baik kisah kehidupan maupun model explanation lebih mudah kucerna. Selain itu aku ngga perlu takut lupa pembahasan sebelumnya. Bisa dibaca dalam sekali baca juga untukku yang waktu bacanya seeing terjeda selama bocah belum tidur, wkwk. Itu menurutku keunggulan pertama buku ini, secara subjektif.

Selanjutnya, di setiap awal tulisan diawali dengan quote yang lumayan buat konten cukup menggugah dan membuat penasaran. Pemilihan judulnya pun sukses bikin aku atraktif.

Demikian dua keunggulan utama. Selain tentunya kontennya yang bermanfaat, menggugah dan memotivasi bagiku pribadi dan rasa-rasanya bagi siapapun yang membacanya. Beberapa hikmah pasca membaca tulisan ini versiku antara lain:
  • Lebih membatasi screen time, meskipun ngga bisa straight banget mengingat melalui media sosial lah aku bekerja dan berkomunitas
  • Memperbanyak kegiatan jalan kaki
  • Terus belajar hal baru atau mengulang hal lama
  • Belajar mengontrol respon terhadap sesuatu agar tidak berdampak bad mood pada diri sendiri

Oh ya buku ini juga tersedia dalam versi Bahasa Inggris dan bentuk electronic book, sebuah solusi untuk kalian yang mulai mengurangi kepemilikan atau baca buku fisik. Kalau aku pribadi sih masih penganut baca buku fisik harus keras😅

Per 2021 ini buku ini cetak ulang dengan kaver baru. Aku pribadi lebih suka dengan kaver uang lama. Tapi apakah arti sebuah kaver, yang pemting isi di dalamnya, bukan?

Jadi, kamu sudah berusaha going offline? 

10 komentar:

  1. "Going offline" sebuah tawaran yang sangat menarik dan harus diikuti sesegera mungkin. Hidup dalam dunia nyata lebih konkrit ketimbang dunia online yang tidak nyata. Saya pengin sekali beli buku ini. Thanks atas ulasan dan rekomendasinya.

    BalasHapus
  2. Review ini cuma mencantumkan dua buah foto, padahal saya berharap lebih.
    Konsep editornya menaruh quote di setiap bab cukup unik, dan saya yakin ada keunikan-keunikan lain pada fisik layout buku yang belum tertera dalam review ini.

    Review ini mengingatkan saya kembali tentang sulitnya memotret buku dengan menarik.

    BalasHapus
  3. Bagus ini bukunya mbak. Banyak tema yang relate sama kehidupan sehari-hari

    BalasHapus
  4. bukunya Desi Anwar, harus punya nih saya

    banyak kaalimat positif yang sering dishare perempuan cantik ini, membuat saya semakin bisa memaknai hidup
    Dan pastinya buku "Going Offline" ini, harus dibaca pelan pelan,dan diterapkan agar hidup semakin bermakna

    BalasHapus
  5. Rekomendasi bukunya boleh juga, untuk pengingat agar tidak lama² dengan medsos, ingat ada dunia nyatamu

    BalasHapus
  6. Bab 2 tentang seni kehidupan itu menarik mba, jadi penasaran pengen banget baca.

    BalasHapus
  7. Aku selalu ada waktu senyap dari gadget setiap hari. Kerja di bidang digital tuh ada efek samping ke psikologis jadi harus menyeimbangkan diri :)

    BalasHapus
  8. Aku juga sering mual kalau kelamaan screen time mbak. Dan pusing juga, sekali-sekali detox gadget memang perlu ya.

    Dan bener banget sih ya, kita ini cenderung mengkonsumsi apa yang disuka dan bukan apa yang tubuh butuhkan. Reminder juga nih buat aku. Makasih ulasannya Mbak.

    BalasHapus
  9. Bagus juga nih bukunya mbak, liat isi bab nya saja saya jadi penasaran pingin baca bukunya. Apakah di ipunas sudah tersedia

    BalasHapus
  10. wah tertarik nih buat baca lengkapnya juga :) apalagi yg tentangg seni kehidupan hihi

    BalasHapus