Pengalaman Melakukan Trash Audit Selama Sepekan

 


Hidup minim sampah dan bijak kelola sampah, bukan sebuah trend tapi sebuah kesadaran dan tumbuh dari rasa tanggung jawab atas sisa konsumsi yang kita hasilkan, karena kita MENGHARGAI KEHIDUPAN dan berusaha selalu MEMANUSIAKAN MANUSIA.


Itulah kutipan yang aku dapatkan saat perkuliahan Belajar Zero Waste di materi kedua. Materi kedua di Kelas Belajar Zero Waste adalah Trash Audit yang disampaikan oleh mas Aang Hudaya. 



Trash audit adalah kegiatan mencatat sisa konsumsi dan ajang evaluasi sisa konsumsi. Beberapa manfaat Trash Audit antara lain:

  1. mengetahui jumlah konsumsi organik, anorganik dan residu
  2. mengetahui asal muasal paling banyak maupun paling sedikit sisa konsumsi berasal
  3. memetakan strategi untuk minim sampah


Kegiatan Trash audit aku lakukan selama sepekan. Untuk alat yang digunakan sebenarnya direkomendasikan menggunakan timbangan digital sebagai indikator pengukuran jumlah sisa konsumsi setiap harinya. Namun, tak apalah sementara pakai yang ada. Aku pribadi menggunakan kantong kresek.

Jika biasanya, sisa konsumsi langsung aku masukkan ke tas kain ebsar sesuai kategorinya, kali ini selama sepekan kemarin aku masukkan ke kantong kresek yang sama. Tentunya setelah dicuci dan dikeringkan.

Dan berikut hasil dari Trash Audit keluarga VISYANDI.

Hari Ke-1: Senin, 19 Juli 2021

organik : potongan sayur

anorganik : tetrapak, karton kardus, plastik roti, plastik snack, kertas kortan, sedotan, foto tak terpakai

residu : -


Hari Ke-2: Selasa, 20 Juli 2021

organik : -

anorganik : plastik bening, tetrapak, plastik frozen food, 

residu : -


Hari Ke-3: Rabu,  21 Juli 2021

organik : kulit terong

anorganik : saset kopi, plastik bumbu, plastik es batu, saset bumbu, pouch plastik sabun cuci piring,

residu : selotip


Hari Ke-4: Kamis,  22 Juli 2021

organik : potongan akar kangkung

anorganik : tetrapak, kertas kemasan bumbu, plastik bumbu, plastik mie

residu : -


Hari Ke-5: Jumat,  23 Juli 2021

organik :

anorganik : plastik es krim, karton es krim, tetrapak, sedotan plastik

residu : -


Hari Ke-6: Sabtu,  24 Juli 2021

organik : sisa potongan kacang panjang

anorganik : saset kopi, saset tepung bumbu, PO plastik bumbu spaghetti, saset sosis siap makan

residu : -


Iya, hanya enam hari aku melakukan Trash audit dikarenakan sudah saatnya sampah dijemput jadi ngga sempat foto hari ketujuh, huhu. Pun untuk sampah organik masih belum bisa aku olah selain dengan diberikan ke ayam piaraan dan dibuang ke tanah belakang rumah :')

Target satu bulan ke depan, bismillah, semoga bisa mulai untuk mengkompos. Mohon doanya, buibuk manteman semua~

Setelah dicatat jenis sampah setiap harinya, selanjutnya aku akan mengevaluasi jenis dan asal sisa konsumsi terbanyak. Hmm kira-kira dari mana saja ya?


Jenis Sisa Konsumsi Terbanyak

Sisa konsumsi organik terbanyak adalah potongan kulit sayur dan buah yang merupakan konsumsi sehari namun sisanya belum bisa kami olah.

Sisa konsumsi anorganik terbanyak adalah tetrapak & sedotan karena pekan kemarin qadarallah wal Alhamdulillah ada rezeki sekardus susu kemasan. Ya walaupun lebih berpotensi nyampah dibanding kemasan besar, tetap disyukuri sebagai rezeki. :')

Untuk sisa residu Alhamdulillah minim, hanya beberapa selotip bekas ya walaupun belum benar-benar nol.

Target satu bulan berikutnya adalah kami bisa mulai bertahap mengkompos dengan metode paling sederhana dan paling memungkinkan dilakukan.

Asal Sisa Konsumsi

Ada beberapa asal sisa konsumsi, yang tentunya semuanya berasal dari luar antara lain:

  • pemberian, sifatnya barrier alias tidak bisa dicegah tapi harus dipilah dan kalau bisa diolah
  • pembelian online, menghasilkan sisa konsumsi kemasan. Tapi syukurnya sebisa mungkin aku selalu menitipkan pesan hijau kepas penjual untuk hanya memakai kertas bekas atau kardus satu lapis saja.
  • pembelian offline, ini berkaitan dengan sisa konsumsi organik dan sisa konsumsi anorganik berupa kemasan saset.

Semua sampah yang sudah terpilah lalu disalurkan ke bank sampah. Aku menggunakan jasa pick up dengan biaya sukarela. 

Demikian pengalaman keluarga VISYANDI melakukan Trash audit. 

0 komentar: