Tampilkan postingan dengan label zero waste. Tampilkan semua postingan

Blackmores Peduli ‘Tukar Botol’ Wujud Jaga Kelestarian Laut Indonesia yang Berkelanjutan




Pandemi pastinya memberikan dampak yang kurang menyenangkan bagi banyak orang, tapi aku yakin ada hikmah positif atau dampak positif lainnya. Karena akupun merasakan keduanya. Salah satu dampak positif yang aku rasakan dengan kehadiran pandemi adalah aku mulai lebih aware soal isu persampahan dan lingkungan. 

Boiler Biomassa Berbahan Bakar Sekam Padi Inovasi Danone Specialized Nutrition Indonesia untuk Mitigasi Perubahan Iklim dan Ciptakan Sirkularitas Produk Pertanian

 


Sejak duduk di bangku kuliah, aku mulai terjun ke dunia energi baru dan terbarukan. Apakah maksudnya aku adalah mahasiswi jurusan tersebut? Sayang sekali jawabannya bukan, hehe.

Aku adalah mahasiswi pendidikan Matematika, Fakultas MIPA yang kebetulan punya ketertarikan soal sains sampai akhirnya mulai menulis esai dan paper yang berkaitan dengan energi baru terbarukan. Mulai dari energis surya, panas bumi hingga biogas dan biomasa.

Saat itu aku tidak terlalu aware dengan dampak positif ke lingkungan yang ditimbulkan dari kehadiran energi tersebut. Salah satunya mengurangi jejak karbon di bumi. Seperti yang kita tahu, singkatnya, jejak karbon menghasilkan gas rumah kaca yang berbahaya bagi para penghuni bumi. 

Sampai tiba hari ini aku semakin menyadari...

3 Rekomendasi Layanan Produk Refill Untuk Gaya Hidup Lebih Ramah Lingkungan

 



Ada beragam praktik yang bisa kita lakukan dalam menjalani gaya hidup ramah lingkungan atau minim sampah. Berbagai aspek dan sektor dalam kehidupan kita sangat bisa menjadi tempat praktik tersebut, mulai dari rumah tangga, sekolah, kantor dan lainnya. Di sektor rumah tangga kita bisa menggunakan bahan alami ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan produk rumah tangga. Sebagian lainnya memilih menggunakan jasa refill. 

Setidaknya ada  dua sistem belanja yaitu layanan pengantaran delivery dan layanan kunjungan. Aku akan bahas berdasarkan pengalaman dan pengetahuanku. 

Pengalaman & Pembelajaran Mengikuti Kelas Belajar Zero Waste



Awal Mulanya...

Zero waste atau hidup minim sampah. Pertama kali mengenal istilah itu di tahun 2017, tepatnya ketika mulai berkecimpung dalam salah satu komunitas ibu yang memang memiliki valu tersebut. Tapi apalah dayaku, sedikitpun belum tersentuh untuk mengenal lebih dalam apalagi sampai mempraktikkannya. Paling-paling hanya sampai memakai tas kain dan membawa tumblr ketika bepergian. Itupun tak selalu, lebh banyak lupanya. 

Inisiatif Minim Sampah yang Aku Lakukan dalam Setiap Kegiatan



Hidup minim sampah bukan soal teori saja, tapi lebih penting adalah praktiknya. Eits bukan praktik yang harus sudah sempurna apalagi jika baru kemarin belajar minim sampah. Yang terpenting berproses dan berprogres. 

Inisiatif minim sampah bisa kita lakukan dalam berbagai kegiatan sehari-hari baik di dalam maupun di luar ruamh. Berikut ini beberapa kegiatan yang aku lakukan juga inisiatif minim sampah di dalamnya. 

Caraku #BijakMembuang Limbah B3 dan Medis


Memang, dalam kehidupan sehari-hari nyaris tidak mungkin kita tidak menghasilkan sisa konsumsi maupun limbah. Menerapkan gaya hidup zero waste living juga bukan berarti nihil sisa konsumsi atau limbah sama sekali. Namun bagaimana kita berusaha mengurangi, mencegah hingga mengelola dengan bijak.


Bicara soal limbah, limbah B3 dan medis, terlebih sejak pandemi, menjadi limbah yang volumenya semakin besar diproduksi.

Upayaku Mengelola Sisa Konsumsi Organik di Rumah

 



Untuk ketiga kalinya di blog ini aku membahas seputar topik foodwaste, sebuah topik yang rasa-rasanya di setiap rumah berpotensi memproduksinya. Tapi khusus di postingan ini aku akan menggunakan istilah sisa konsumsi organik, jadi tidak terbatas pada sampah makanan (matang) saja tapi juga bisa dari beragam kulit buah, kulit sayuran, sisa potongan sayuran dan sejenisnya.

Yakin deh, siapa sih rumah tangga yang ngga menghasilkan sisa konsumsi organik tersebut? Sekalipun rumah seorang sultan, hohoho.

Upayaku Cegah Sisa Konsumsi di Rumah Tangga dan Bisnis

 


Cegah agar meminimalisasi kegiatan pilah yang membuat lelah.


Itulah kalimat yang cukup ngena buatku saat memasuki materi ketiga dari Kelas Belajar Zero Waste. Ahh iya memang dalam segala hal, mencegah lebih baik daripada mengobati, ya.

Pengalaman Melakukan Trash Audit Selama Sepekan

 


Hidup minim sampah dan bijak kelola sampah, bukan sebuah trend tapi sebuah kesadaran dan tumbuh dari rasa tanggung jawab atas sisa konsumsi yang kita hasilkan, karena kita MENGHARGAI KEHIDUPAN dan berusaha selalu MEMANUSIAKAN MANUSIA.


Itulah kutipan yang aku dapatkan saat perkuliahan Belajar Zero Waste di materi kedua. Materi kedua di Kelas Belajar Zero Waste adalah Trash Audit yang disampaikan oleh mas Aang Hudaya. 

Mau Dibawa Kemana Sisa Konsumsi (Kita)?

 



"Buang saja ke kali. Ikat yang kencang."

Begitulah kurang lebih jawaban yang aku dapatkan ketika awal-awal tinggal di kampung ini dan mengalami kebingungan perihal membuang sampah.


Mendengar jawaban itu aku menelan bulat-bulat saja. Itu, tiga tahun yang lalu..


Hijrah Sampah: Bijak Kelola Sampah Mulai dari Rumah


bijak kelola sampah


Sejak kecil aku hidup dengan doktrin "buanglah sampah pada tempatnya". Tempat yang dimaksud tentu saja tempat sampah dan TPS atau TPA (tempat pembuang akhir). Keluargaku tinggal di Jakarta sejak aku lahir, biasanya kami dan warga lainnya membuang sampah ke tempat pembuangan sampah yang ada. 

Mulai dari sampah kering hingga sampah basah seperti sisa makanan bercnapur menjadi satu dalam gerobak-gerobak di pinggir jalan yang kemudian disatukan dalam truk pengangkut besar yang entah akan dibawa kemana.

Setiap bulannya, warga hanya dikenakan biaya Rp10,000. Harga yang semakin aku dewasa, aku sadari terlalu rendah. Sepuluh ribu rupiah untuk berkilo-kilogram sampah yang dihasilkan setiap rumah!


Mengenal Hidup Minim Sampah (Zero Waste)
Zero waste atau hidup minim sampah. Menurut Zero Waste ID, gaya hidup minim sampah (zero waste) adalah sebuah fiosofi yang dijadikan gaya hidup untuk mendorong siklus hidup sumber daya agar bisa dipakai kembali dengan tujuan meminimalisasi sampah berakhir ke landfill (tempat pembuangan akhir).

Aku sendiri mengenal istilah zero waste di tahun 2017 sejak bergabung dalam komunitas Ibu Profesional tahun 2017 lalu. Bahkan di komunitas Ibu Profesional regional Jakarta, ada rumah belajar green organik yang fokus membahas isu-isu dan melakukan praktik pelestarian lingkungan yang bisa dilakukan khususnya oleh ibu dan keluarga.

Di antara ratusan anggota Ibu Profesional, bisa dibilang aku adalah anggota dengan "pergerakan yang lambat". Bagaimana memilah sampah, mengompos dan lain sebagainya, aku tidak paham atau lebih tepatnya belum tertarik mengatahui dan mempraktikkannya. Terlebih saat itu aku baru melahirkan anak pertamaku ditambah menjalani hidup berpindah-pindah (nomaden). Meskipun aku tahu, bagi beberapa orang itu bukanlah alasan. 

Aku tahu sampah popok sekali pakai, plastik kresek, sedotan plastik dan lain sebagainya tidak baik untuk bumi tapi aku terus memakainya.... Aku abai tentang isu ini, aku terlalu abai..

Padahal melihat data yang pernah dikeluarkan, Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah setiap harinya! Bahkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per 2020 menyatakan timbunan sampah nasional mencapai 67,8 ton!

Tersadar dari Miskonsepsi Membakar Sampah

Setelah menikah, aku tinggal di Kabupaten Bogor yang notabene bukan kota besar. Sejak pertama kali mendiami wilayah ini, tidak ada petugas sampah disini sehingga warga memilih membakar sampahnya. Dan keluarga kami termasuk yang melakukannya. Saat itu aku seolah tidak merasa "berdosa" karena merasa kami tidak membuang sampah melainkan membakarnya.

Masih lebih baik membakar sampah, tidak berakhir di TPA, pikirku kala itu.

Hingga akhirnya aku tersadar, apa yang kami lakukan tidak lebih baik daripada membuang sampah ke TPA! Sampah yang kami bakar memang secara kasat mata akan menghilang atau setidaknya menyisakan abu saja tapi asapnya terus membumbung ke udara. Asap pembakaran sampah mengandung beberapa polutan seperti arsen, air raksa, merkuri, karbondioksida, karbonmonoksida, nitrogenoksida dan lain sebagainya. Itulah yang menjadi penyumbang kerusakan laporan ozon di bumi  yang punya efek domino.


Bahkan data dari bilang bahwa asap pembakaran 350 kali lebih berbahaya dibandingkan asap rokok! Mengetahui fakta ini, jujur aku sangat shock! Gas beracun pada asap kebakaran ternyata juga dapat memicu kanker, kerusakan hati dan ginjal, mudah lelah hingga iritasi kulit. Selama ini setiap kali orang-orang di wilayah ini termasuk kami dnegan entengnya membakar sampah. Anak-anakpun seringkali menyaksikan. Bukankah ini sama saja mendorong mereka ke dalam jurang bahaya kesehatan?

Aku tahu ini salah, tapi saat itu, jujur aku seperti tak punya pilihan. Tak tahu harus berbuat apa....


Tragedi Leuwigajah dan Kesadaran Bijak Kelola Sampah
Ada saja jalan dari-Nya untuk membuatku tersadar soal isu pengelolaan sampah ini. Suatu hari di tahun 2020, aku menemukan kisah di balik peristiwa TPS Leuwigajah yang dulu hanya kudengar sekilas dan tak cukup menyentuh nuraniku.

TPA Leuwigajah adalah tempat pembuangan  akhir sampah yang ada di Kota Cimahi. Gunungan sampah menjulang setinggi 60 meter dan selebar 200 meter itu, entah kapan akan berkurang atau bahkan menghilang. Hingga akhirnya sampah-sampah ini "mengamuk" dan memakan korban. 

leuwigajah
TPS Leuwigajah sebelum tragedi
(sumber: Humas Kota Bandung)


Saat itu, 21 Februari 2005, hujan terus mengguyur wilayah Cimahi. Tiba-tiba terdengar ledakan keras dari gunungan sampah, diikuti dengan longsoran sampah yang langsung menyapu Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. Tercatat 157 jiwa melayang, tentu saja mereka adalah para warga di sekitar TPA yang sebagian besar menggantungkan hidup di TPA.  

Pada peristiwa TPS Leuwigajah terjadi ledakan sampah akibat timbunan gas metana (CH4) dari sampah organik yang terbuka bahkan tertutup rapat, ditambah hujan yang terus turun. Sampah-sampah organik ini juga tercampuraduk dengan sampah anorganik bahkan hingga benda berbahaya seperti beling. Semua karena tidak adanya proses pemilahan dan pengelolaan sampah dengan bijak.

Enam belas tahun sudah peristiwa tersebut berlalu, tapi siapapun yang mendengarnya, terutama mereka yang sudah emmilki kesadaran terhadap sampah, tentu akan terenyuh dibuatnya. Termasuk aku, pertama kali mengetahui lebih dalam tragedi TPA Leuwigajah membuatku semakin sadar pentingnya pengelolaan sampah dengan bijak. Tragedi TPA Leuwigajah menjadi sejarah dalam isu lingkungan di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Tentu, tidak ada yang mengharapkannya terulang kembali, tidak juga kita, bukan?

Waste4change Solusi Bijak Kelola Sampah
Di bulan Maret 2020 saat itu aku sedang berselancar di sosial media dan menemukan sebuah postingan tentang Waste4change. Jiwa kepoku muncul, aku pun mencaritahu lebih dalam. Ternyata Waste4Change adalah sebuah lembaga pengelolaan sampah untuk didaur ulang yang sudah berdiri sejak tahun 2014 di bawah naungan PT WasteforChange Alam Indonesia. 

Waste4change hadir dengan misi mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA dan visi sebagai pemimpin dalam pengelolaan sampah yang bertanggungjawab dengan berlandaskan pada kolaborasi dan teknologi menuju penerapan ekonomi melingkar (circular economy) dan Indonesia Bebas Sampah. Integritas, solutif, bertanggungjawab, kolaboratif dan peduli merupakan nilai-nilai yang selalu dipegang oleh Waste4change.

Perjalananku memilah sampah pun dimulai per Maret 2020. Aku mulai memilah menjadi beberapa kategori:
  1. kemasan tetrapak
  2. metal & beling
  3. botol plastik soft/hard bekas kemasan apapun 
  4. elektronik waste
  5. sampah tekstil
  6. sampah lainnya

Nomor 1-3 aku kirimkan ke Waste4change. Nomor 4 aku kirimkan ke pengelola sampah elektronik. Nomor 5 aku simpan untuk dibuat isi bantal/guling ataupun keset kaki.

Yang masih menjadi pikiran salah satunya adalah minyak jelantah. Sebenarnya aku pernah mendapatkan info pengelola jelantah tapi umumnya berada di luar kota. 



Mengapa mengirimkan sampah ke Waste4change? Jawaban utamanya karena di sekitar rumah kami belum ada bank sampah. Dan Waste4change hadir sebagai solusi permasalahan penanganan sampah untuk keluarga kami.

Sayangnya sejak awal mengirimkan, aku tidak pernah mendokumentasikan. Berikut beberapa sampah terpilah yang berhasil terfoto.

Tak hanya aku, sebagai seorang ibu, aku juga mengajak suami dan anakku bersama memilah sampah. 

"Icham, mulai sekarang kita kurangi sampah yang dibakar yuk. Sampah-sampah susu kemasan Icham, dikumpul saja. Nanti bunda kasih ke Om untuk dibuat sesuatu."

"Setiap selesai minum susu (kemasan), Bunda minta tolong Icham taruh sampahnya di wadah sana, boleh?"

Begitulah aku senantiasa sounding ke anakku, Icham. Beruntungnya di memahami, walaupun ada momen tertentu dia lupa atau enggan menaruh di wadah.

Apakah saat itu aku sudah berhenti membakar sampah? Jujur, jawabannya, belum. Tapi setidaknya volume sampah yang kami bakar jauh berkurang karena kehadiran waste4change ini.

Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, Waste4change adalah lembaga pengelola sampah. Namun ternyata setelah aku caritahu lebih lanjut, Waste4change lebih dari itu. Waste4change sebagai solusi baik personal maupun perusahaan mengelola sampah mereka dengan bijak. Ada dua layanan utama yang ditawarkan oleh Waste4change antara lain:
  • Company Waste Management yang terdiri dari waste collection service, extended producer responsibility, solid waste management research, community development dan training.
  • Personal Waste Management yaitu recycle with us. Recycle with us memiliki beberapa program baik secara mandiri oleh Waste4Change maupun dengan para mitra.




Layanan Waste4change  tersedia di 10 kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Semarang, Sidoarjo Surabaya dan Medan. Waste4change  berkomitmen menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang bijak dan bertanggungjawab. Hingga hari ini sudah ada 198 klien, 175 proyek dan 5.404.041 kg sampah terkelola.

Program yang selama ini aku ikuti dari Waste4change adalah Send Your Waste dimana masyarakat bisa mengirimkan sampahnya ke Waste4change pusat maupun ke bank sampah yang bekerjasama dengan Waste4change.
Apa saja jenis sampah yang diterima?
Berikut jenis sampah yang diterima beserta contohnya.






Apa yang harus dilakukan pada sampah sebelum mengirimkannya?
Sebelum mengirimkan sampah, kamu harus memperhatikan hal berikut.





Bagaimana cara mengikuti program Send Your Waste?
1Buka website Waste4change. Klik Layanan - Individu - Recycle With Us


2. Pilih 'Send Your Waste' di bagian bawah halaman



3. Pilih basecamp yang kamu tuju. Sebagai informasi, selama pandemi, Waste4Change hanya membuka dua tujuan pengiriman.


4. Apabila kamu belum pernah membuat akun, masukkan nomor handphone yang ingin kamu daftarkan, diikuti password.



5. Beri alamat pengiriman, alamat pengirim dan sematkan kode label
6. Tentukan jenis ekspedisi, jenis sampah dan deskripsi sampah yang kamu kirimkan.
7. Sampahmu siap dikirimkan melalui ekspedisi/kurir. Jangan lupa untuk mengemasnya sesuai panduan dari pengelola ya.



Insentif poin diberikan hanya untuk program kolaborasi dengan mitra/brand. Kehadiran Waste4Change membuat tidak ada lagi sampah yang tercampur, semuanya sudah terpilah dan siap didaur ulang secara bertanggungjawab.


Hadirnya Bank Sampah Terdekat Jadi Solusi Selanjutnya
Rezeki, bukan sekadar materi (finansial). Bukan sekadar bertemu orang-orang sevisi misi. Rezeki juga bisa berupa solusi atas masalah duniawi yang dihadapi. Meskipun seduniawi-duniawinya, sebaiknya tetap berkaitan dengan ukhrawi.

Bertemu dengan Waste4change adalah solusi sekaligus rezeki bagiku. Jika saja tidak atau belum bertemu dengan Waste4change, mungkin hingga detik ini atau setidaknya sepanjang 2020 aku belum mulai memilah sampah. Sampai kemudian suami mengabarkan bahwa bank sampah di kantornya baru saja dibuka. Beliaupun segera mendaftarkan diri di bulan Januari 2021. Sungguh aku merasa begitu bahagia, terlebih mereka menerima sampah minyak jelantah, seolah menjadi jawaban atas permasalahanku tempo hari.

Per Februari 2021 akupun menambah lagi kategorisasi pilah sampah dari rumah yaitu kategori minyak jelantah dan karton/kardus/duplex. Setelah mengumpulkan dan memilah selama 2 bulan, di bulan April untuk kali pertama aku menyetorkan hasil pilah sampah dari rumah ke bank sampah terdekat, Bank Sampah Spirit namanya.


Selain minyak jelantah, aku juga menyetorkan bekas kemasan tetrapak dan beragam jenis karton serta kertas. Karena baru berdiri, bank sampah ini belum menerima banyak jenis sampah.

Petugas bank sampah menyambut kami dengan begitu hangat. Pertama-tama setiap jenis sampah yang aku setorkan, ditimbang terlebih dahuli termasuk minyak jelantah. Untuk tetrapak, minimal setor adalah 1 kilogram sedangkan untuk jenis sampah lainnya, sepengetahuanku, tidak ada berat minimal.



Kemudian, hasil setoran kami dicatat dalam buku tabungan bank sampah. Nantinya total setoran kami setiap enam bulan sekali akan diakumulasi dan sebagaimana konsep bank, akan menghasilkan rupiah. meski sejujurnya,  rupiah hanyalah bonus. Bertemu dengan tempat penampungan pilah sampah dari rumah dan bisa menyetorkannya sudah merupakan kebahagiaan bagiku. Karena sampahku, tanggungjawabku...

buku tabungan bank sampah


Memilah Sampah dari Rumah
Sampahku tanggungjawabku. Memilah sampah dari rumah adalah salah satu praktik dari hidup minimalis yang sedang kami jalani. Karena dari rumah semua bermula, pembelajaran, kebersamaan dan kebiasaan.

Ada orang-orang yang memilih mengantarkan sampah terpilih mereka ke lembaga daur ulang. Ada pula yang memilih mengirimkan sebagian dan mengolahnya mandiri sebagian.

Tidak ada yang paling superior di antara keduanya. Karena keduanya sama, sama-sama punya kesadaran menjaga bumi dan kegelisahan terhadap sampah. Keluarga kami saat ini belum bisa mengelola sendiri sehingga memilih untuk mengirimkannya. 

Kehadiran Waste4change dan Bank Sampah Spirit menjadi salah satu cara bijakku kelola sampah.  Bijak kelola sampah artinya menyadari apa yang kita konsumsi berasal dari bumi dan dikembalikan ke bumi dengan "cara yang baik" seperti recycling, upcycling, menanam kembali, hingga mengompos. 
Bijak kelola sampah juga harus dibarengi dengan bijak berkonsumsi, artinya menyadari setiap konsumsi yang kita lakukan didasari atas kebutuhan dan anggaran, secukupnya dan tersertifikasi.

Bijak kelola sampah versi keluarga kami antara lain:
Meminimalisasi (Refuse, Reduce & Reuse)
Meskipun kini mulai dan makin bermunculan pihak-pihak pengelola daur ulang sampah,  punya tempat menyalurkan sampah tapi bagiku refuse masih lebih baik. Refuse, artinya meminimalisasi sebisa mungkin produksi sampah rumah tangga. Meminimalisasi juga berkaitan dengan mengurangi (reduce) dan menggunakan kembali (reuse). Beberapa praktik minimalisasi produksi sampah yang aku lakukan antara lain:
  • Pakai Sampai Habis, yaitu menggunakan segala produk habis pakai sampai benar-benar habis alih-alih membeli yang lainnya sementara yang lama masih ada. Misal, memakai produk facecare sampai habis, baru membeli yang baru. Pernah aku tuliskan juga ceritaku pakai sampai habis disini,
  • Pakai Sampai Rusak, yaitu memakai barang-barang yang kita miliki sampai benar-benar rusak. Jika rusak, alih-alih langsung membeli yang baru, selama bisa diperbaiki, kenapa tidak? Misalnya memakai handphone yang ada sampai benar-benar rusak atau tidak lagi sesuai kebutuhan
  • Pakai yang Ada, yaitu memakai apa yang ada alih-alih membeli yang baru. Misal, menggunakan kardus bekas untuk tempat kaos kaki.
  • Bijak Berkonsumsi, yaitu mengkonsumsi maupun berbelanja sesuai kebutuhan dan secukupnya. 
  • Habiskan Makananmu, yaitu menghabiskan setiap makanan yang sudah kita ambil di piring. Sebagai langkah pencegahannya, bisa dengan mengambil porsi sedikit alih-alih impulsif langsung mengambil banyak. Ini juga berkaitan dengan makan secukupnya dan berhenti sebelum kenyang. Pernah aku tuliskan ceritaku habiskan makanan disini.
Refuse, reduce dan reuse merupakan tahap awal bijak terhadap produksi sampah sebelum ke tahap rot dan regrow.
Memilah 
Sebisa mungkin hindari atau kurangi volume sampah yang  berakhir di TPS/TPA maupun yang dibakar. Diawali dengan membuat kategorisasi sampah. Per Februari 2021 aku menambah pos pilah sampah d rumah menjadi enam pos pemilahan sampah antara lain:
  1. sampah kertas & karton
  2. sampah plastik multilayer 
  3. sampah tetrapak
  4. sampah botol plastik kemasan/plastik keras 
  5. minyak jelantah
  6. electronic waste (karena produksi nya sangat jarang jadi biasanya aku simpan di kaleng dulu)
  7. Sengaja aku buat detail begini jadi tinggal mengepak ketika waktunya menyalurkan. Kalau dirasa terlalu spesifik, kalian bisa coba dua kategori dulu: organik & anorganik.

Perlahan kami mulai mengurangi volume sampah yang berakhir di pembakaran. Kategorisasi pemilahan sampah juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi. 

Menyalurkan

Sampah sudah terpilah. Jangan lupa untuk mencuci dan mengeringkannya sebelum disalurkan ke pihak pengelola sampah guna meminimalisasi timbunan kuman dan bakteri. Aku punya tiga tempat penyaluran sampah yaitu:
  • waste4change, dikirimkan setiap sebulan sekali menggunakan ekspedisi
  • bank sampah, diantar mandiri setiap dua pekan sekali 
  • ewasteRJ, dikirimkan jika dirasa sudah cukup banyak

Mengedukasi
April 2020 lalu aku bersama beberapa teman di komunitas membuat buku anak bertema pelestarian lingkungan & Ramadan berjudul Ramadan Untuk Bumi. Buku itu menjadi sarana edukasiku ke masyarakat, dari usia anak-anak hingga dewasa.
Buku Ramadan Untuk Bumi ditulis olehku dan teman-teman komunitas


Selain itu aku juga rutin membuat konten edukasi lingkungan/hidup minimalis di akun personal Instagram-ku @visyabiru_. Aku juga menginisiasi komunitas para ibu pegiat hidup minimalis dimana Salah satu value minimalism adalah sadar lingkungan. Secara berkala kami membuat konten edukasi melalui Instagram @minimalistmoms.id dan blog minimalistmomsid.blogspot.com

Mengompos dan Menanam Kembali (ROT & Regrow)

Mengompos yaitu kegiatan mengolah sampah organik menjadi pupuk cair yang bermanfaat bagi kesuburan tanah dan tanaman. Dengan mengompos, apa yang kita ambil dari tanah, dikembalikan dengan baik ke tanah. Sedangkan menanam kembali merupakan proses menanam mudah menggunakan salah satu bagian dari bahan pangan. Mengompos dan menanam kembali adalah pengelolaan khusus sampah organik yang bisa dibilang paling efektif.

Semoga aku bisa sesegera mungkin mulai mengompos serta menanam (kembali).

Mengapa bijak kelola sampah?
Memilih untuk bijak kelola sampah bagiku bukanlah tanpa alasan. Setidaknya ada beberapa alasan yang menguatkanku untuk mulai bijak kelola sampah dari rumah antara lain:
  • mengurangi jejak karbon yang berbahaya bagi bumi dan manusia
  • faktanya 20% sampah masih bisa didaur ulang
  • diperkirakan pada 2025 volume sampah di Indonesia meningkatkan menjadi 70,8 ton. Dengan bijak kelola sampah, niscaya kita bisa meminimalisasi angka ini.


Penutup
Di dunia ini, tidak ada sampah yang benar-benar akan hilang. Mereka hanya akan berubah bentuk. Apa-apa yang kta sebut sampah pada dasarnya punya kehidupan kedua. Tinggal apakah kita bersedia mengantarkan mereka menuju kehidupan kedua: berakhir di TPA atau menyalurkan ke pengelolaan sampah?

Mengantarkan ke pihak pengelola sampah tentulah menjadi pilihan bijak, bila kita belum bisa mengelolanya secara mandiri. Namun kehadiran pihak-pihak pengelola jangan sampai membuat kita jadi bermudah-mudah "nyampah". Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Bukanlah meminimalisasi lebih baik daripada mendaur ulang?

Pada akhirnya aku sampai pada fase ini. Hijrah sampah, aku menyebutnya, sebuah fase kesadaran dan perpindahan dari kebiasaan membuang sampah ke TPA dan membakarnya menuju pemilahan dan pengelolaan sampah secara bijak. Langkah keluarga kami dalam mengelola sampah memang masih tergolong kecil dan sederhana. Tapi semoga yang kecil dan sederhana ini bisa konsisten, syukur-syukur bisa memotivasi yang lainnya dan bisa meng-upgrade kami untuk melakukan langkah yang lebih besar.

Info selengkapnya seputar Waste4change:
Instagram: @waste4change
Website: waste4change.com

Referensi: 
IDN Times
Zero Waste ID
Humas Bandung 
CNN Indonesia