Ads 468x60px

Rabu, 07 November 2012

"...yang baik menurutmu, belum tentu baik bagi Allah...." #RealStory


 

Bismillah, ingin berbagi sedikit kisah sebagai refleksi yang disadur dari kisah nyata. Semoga bermanfaat :D

Di sebuah sekolah di Jakarta, ada seorang siswi sebut saja X. Guru-guru mengenalnya sebagai anak yang cerdas dan aktif berorganisasi. Seluruh penjuru sekolah; adik kelas, kk kelas, teman seangkatan, guru2, satpam, staf TU, pedagang kantin, pustakawan, dan lain lain mengenalnya. Dalam bidang akademik ia pun kerap menduduki ranking teratas di angkatannya. X begitu menyukai suatu mata pelajaran. Ia pun kerap mengikuti berbagai olimpiade terutama di bidang pelajaran eksak yang disukainya dan perlombaan lainnya.
Maka begitu ia mendapat kesempatan mengikuti PMDK, ia memilih jurusan mata pelajaran yang disukainya. Ia optimis, meski bayang-bayang pesimis berdiri tepat di belakangnya.

Tepat sehari sebelum pengumuman penerimaan mahasiswa baru jalur PMDK, sebuah surat diterimanya. Sebuah surat yang membuatnya bertanya-tanya, apa maksudnya?
Ternyata itu adalah surat tentang revitalisasi PMDK menjadi SNMPTN undangan. Sesuai perintah gurunya, ia kembali mendaftar ulang.
Hari yang dinanti pun tiba, sebuah kalimat diterimanya. Ada sakit yang menelusup ke rongga dadanya. Ada air mata yang mengalir deras di balik bingkai kacamatanya. Pijakan itu mulai merapuh.

"Sabar, Sayang, masih ada tes tertulis. 
Ayah dan ibu selalu mendukung kamu."

Tes demi tes pun diikuti, masih berteguh pendirian dengan jurusan mata pelajaran yang disukainya. Ya, apapun yang terjadi ia akan tetap memilihnya. Sekalipun kenyataan paling pahit mungkin saja menimpanya..

Sungguh Allah begitu mengujinya bertubi-tubi. Tak satupun tes itu membuahkan hasil positif. Entah sudah berapa volume air yang mengalir dari kedua mata coklatnya. Di saat itu pula, sang ibunda yang
senantiasa membersamainya.

Teman-teman, guru-guru dan seluruh penghuni sekolah yang mengenalnya selalu menanyakan perkembangan studinya. "Jadi kuliah dimana?" sebuah pertanyaan yang selalu memunculkan elegi di hatinya.

"Allah masih ingin aku berjuang lebih keras." begitu selalu dijawabnya.
Di sekolah ia menjadi bahan perbincangan oleh adik-adik kelasnya.
"Masa sih seorang Kak X yang pintar banget ga keterima?"
"Kak X aja ga keterima, apalagi aku ya taun depan?"
"Ah aku ga percaya Kak X ga ktrima Undangan. Pasti ada yang salah deh sistemnya."
X hanya bisa menabahkan diri lalu kesedihan disembunyikannya di balik keceriannya.
"Al Baqarah ayat 216, yang baik untukmu belum tentu baik bagi Allah."
"Katanya wanita tangguh, wanita tangguh, nggak boleh nangis!"

Kalimat-kalimat itu seolah menjadi penguat batinnya yang kian menghimpit.
Hari itu hari pengumuman tes ujian masuk ke jurusan dan univ itu. Tes terakhir. Namun lagi-lagi X harus menelan pil pahit itu bulat-bulat.

"Aku gagal, Bu, aku gagal!"

Mungkin saat itu adalah titik terendah dan titik terberat dalam jalur hidup seorang X. Dalam hati ia merasa semua yang diraihnya selama ini; nilai-nilai yang memuaskan di rapor, piala-piala yang berjejer rapi, berlembar-lembar sertifikat prestasi seolah tak ada artinya sama sekali. Ya, X hanya manusia biasa yang pasti pernah mengalami ketidakberdayaan.


Selang sehari kemudian ia mencoba bangkit kembali. Hari itu adalah hari tes terakhir yang akan diikuti. Semata-mata ia mengikuti tes ini hanya karena tidak ingin melihat air mata ibunda terjatuh untuk ke sekian kalinya.


Memang tak mudah bangkit kembali dalam waktu singkat, tapi ia harus! Sebab itulah ia mengerjakan tes terakhir itu dengan setengah hati.

"Bu, kalau ga keterima nggak apa2 ya? Aku bisa belajar sambil nyari uang kok. Aku bisa jualan kue alhamdulillah aku dapat order di Detos. Aku juga bisa ngajar."
tukasnya suatu kali.

Ibu hanya menjawab dengan senyuman.
Hari pengumuman pun tiba, ia dinyatakan lolos seleksi di jurusan tersebut. Jurusan yang sama dengan yang diinginkannya dulu tapi dengan sebuah kata awalan.

Sebenarnya X tidak ingin mengambil kesempatan itu tapi sebelum ia mengungkapkan keinginannya, sang ibunda berkata:

"Terima ya, Sayang. Itu ga beda jauh dengan yang kamu inginkan kok. Ibu mohon."
Rasanya X tak tega untuk berkata selain "Iya, Bu." ia tersenyum sambil menahan air mata.

Semula ia bertekad mencoba keinginannya yang dulu. Namun ternyata ia terlanjur nyaman dengan kampusnya, khususnya fakultasnya yang kini.

Suasananya..penghuninya..budayanya yang begitu menjaga dan terjaga.. Subhanallah..
Kini genap setahun sudah. Ia memang pernah berpikir untuk menjadi bagian dari mereka, dahulu. Tapi kini ia sudah membunuh pikiran itu, sampai kapanpun ia tak akan pernah menjadi bagian dari mereka. Tapi Allah berkehendak lain.. Masih banyak kisah yang dilaluinya dengan tempat yang dahulu keinginannya pernah bercokol.

Kini genap setahun sudah..
Dua pelajaran penting yang direngkuhnya. Bahwa yang baik menurutnya belum tentu baik bagi Allah, begitupun sebaliknya. Bahwa Allah selalu meletakkan hambaNya di tempat yang tepat. Bersyukurlah kalian yang berhasil mensinergiskan keinginan kalian dnegan keinginan ALLAH..

Dahulu.. Ia tahu sang ibunda jauh merasa lebih sakit melihat anaknya terjatuh berulang kali setiap kali ada kesempatan untuk bangkit. Jatuh, bangkit, jatuh, bangkit dan seterusnya. Ia tahu itu.. Namun kini putri sang ibunda sudah bangkit. Meski kerap arwah keinginanya menghampiri. Meski kerap serpihan kenangan itu memerihkan matanya... Tapi Allah sudah menakdirkannya berada disini.


Sekian cerita hikmah kali ini. Semoga ada ibroh yang dapat dipetik, aamiin ^^

3 comments:

  1. Vis, ini cerita nyatanya visya...
    ya Allah,, berderu-deru, terharu baca kisahnya..
    semoga si X tetep senang dgn kampusnya yg sekarang, yang menjadi masa depannya. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah.. Terimakasih ya..

      Hapus
    2. Iya sama-sama vis... Ceritanya menyentuh.

      Hapus

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!