Ads 468x60px

Minggu, 30 April 2017

Parenting Talkshow oleh Abah Ihsan: Bagaimana Menerapkan Metode Pengasih dan Penyayang pada Anak?


Bismillahirrahmanirrahim.

Jumat, 28 April 2017 aku mengikuti parenting talkshow yang diadakan sebuah komunitas muslimah. Pembicaranya adalah Abah Ihsan. Seingatku aku pernah mendengar nama beliau, langsung saja kudaftarkan diri. Ngomong-ngomong masalah parenting dulu aku paling'males' ikut seminar sejenis ini. Cukup anti lah. Tapi lama kelamaan Allah menyentuh hatiku dan berkata "Sudah saatnya belajar ilmu parenting". Berikut resume salah satu seminar parenting yang kuikuti.




Seorang karyawan yang baru memasuki sebuah perusahan tentu butuh yang namanya training atau minimal briefing. Yap, sebelum melakukan sesuatu setiap manusia membutuhkan pembelajaran atau "briefing" begitupun saat akan mendidik anak. Butuh pembelajaran. Butuh belajar. Lantas mengapa harus belajar?

Pertama, merupakan perintah Allah. Jelas tertuang dalam ayat pertama yang diturunkan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril; Iqro! Bacalah! Allah menyuruh hambaNya untuk membaca, untuk belajar.


Kedua, agar tak tersesat. Ibarat kita hendak menuju sebuah tempat, tentu kita butuh peta yang sudah kita pahami terlebih dahulu supaya sampai tujuan dan meminimalisir potensi tersesat. Kalaupun tersesat, bisa kembali lagi ke peta. Begitupun saat mendidik anak. 



Di zaman dahulu, beberapan puluh tahun silam, dunia masih lebih aman untuk anak-anak. Aman dari media dan lingkungan yang bisa "mengotori" anak. Bandingkan dengan zaman sekarang? Beragam channel TV menyiarkan program kurang  mendidik atau bahkan cenderung mengajarkan pada perilaku negatif. Tak jarang muncul berita anak melakukan tindak kriminal dan kekerasan akibat pengaruh media dan lingkungan. Apakah orangtua masih bisa merasa tenang-tenang saja?



Jangan pernah merasa sudah pintar. Jangan pernah merasa sudah cukup belajar sebab sejatinya belajar adalah kegiatan seumur hidup. Contohlah sebuah perusahaan yang "terlena", enggan belajar dan mengganggap dirinya perusahaan paling unggul. Pada suatu waktu muncul perusahaan sejenis dengan inovasi lebih mutakhir akibatnya perusahaan pertama bangkrut. Sebagaimana yang tutur seorang praktisi pendidikan, John Dewey. 

Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.


Orang yang malas belajar adalah orang yang berpotensi lepas dari kebaikan.Orang yang lepas dari kebaikan adalah orang yang berpotensi melakukan kemaksiatan.


Percayalah, tak ada yang sia-sia ketika kita rajin ikut ta'lim, rajin ikut pengajian, menjalankan yang wajib dan yang sunah. Sekalipun ada yang mengganggap 

Padahal rajin ngaji, tapi kok...


Untunglah orang tersebut rajin ngaji, kalau tidak, mungkin akan lebih dekat dengan maksiat, atau kelakuannya lebih parah dari yang sekarang.

Kembali lagi ke mendidik anak. Anak dihadirkan oleh Allah SWT sebagai anugerah dan penyejuk kalbu. Jika hal tersebut tak berjalan demikian, maka salah orangtuanya. Sebab orangtualah yang berperan utama dalam mendidik anaknya, terlepas anaknya tinggal jauh darinya (misal, orangtua bekerja jauh atau anak sekolah jauh). Ingat, anak adalah amanah!

Menjadi orangtua dan suami/istri yang PENGASIH itu mudah, cukup berikan apa-apa yang dibutuhkan anak/suami/istri. Yang sulit ialah menjadi orangtua dan suami/istri yang PENYAYANG. Ambillah sebuah kasus, seorang istri yang tidak bisa mengendarai mobil dan tidak pernah mempelajarinya sebelumnya. Kemudian ia meminjam mobil suaminya untuk dikendarai, apakah sang suami akan memberikan?

Sembilan puluh sembilan persen mungkin TIDAK dengan alasan karena takut kecelakaan atau membahayakan istri dan orang lain di perjalanan. Sebab ia tahu sang istri BELUM PERNAH BELAJAR, belum punya SIM. Lantas, mengapa suami mempercayakan pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya pada sang istri? Padahal sang istri tidak pernah masuk sekolah pendidikan anak, tidak punya surat lulus mendidik anak. Mengapa?

Seharusnya para suami tak hanya"menuntut" istri dalam mendidik anak melainkan bersama-sama bealjar mendidik anak sehingga kewajiban mendidik anak bukan hanya kewajiban istri sebagai ibu melainkan juga suami sebagai ayah.

Adakah yang saat sedang ta'aruf/penjajakan mengenal calon pasangan hidup menanyakan dua hal berikut:

Bagaimana kamu dibesarkan oleh orangtuamu? Bagaimana menurutmu keterlibatan suami pada pengasuhan dan pendidikan anak di rumah?


Bagi yang belum berta'aruf disarankan untuk menanyakan kedua pertanyaan di atas. Mengapa? Karena bagaimana ia dibesarkan oleh orangtuanya akan berpengaruh pada pila asuhnya pada anak-anaknya kelak. Mereka yang dibesarkan dengan kekerasan bukan tak mungkin akan melakukan hal yang sama pada anak-anaknya kelak. Dan bagaimana pandangannya terhadap keterlibatan diriya pada pengasuhan anak pun demikian. Oleh karenanya didiklah anak-anak kita sebagaimana kita ingin ia mendidik cucu-cucu kita kelak.

Dalam mendidik anak juga hendaklah mengikuti sunah Rasul. Misalnya, Rasul menyuruh para orangtua mengajarkan anaknya sholat di usia 7 tahun dan memukulnya pada usia 10 tahun jika tak mau sholat. Bukan berarti tak boleh mengenalkan anak pada sholat di usia sebelumnya tapi ingatlah sunah Rasul itu pasti diperintahkan karena ada alasan syari di baliknya. Lantas mengapa Rasulullah menyuruh memukul anak? Tentu Rasullah bukan hendak mengajarkan kekerasan, ini hanyalah sebuah penegasan bahwasanya orangtua memiliki waktu yang cukup banyak yakni 3 tahun untuk mendidik anak tentang sholat sehingga anak merasa sholat adalah kebutuhan yang tidak akan ditinggalkannya.

Di era kini banyak orangtua menjadi "pemalak" anak, menuntut anak melakukan kebaikan ini dan itu atau melakukan ibadah ini dan itu padahal seharusnya orangtua menanamkan "software" terlebih dahulu pada anak. Contoh, mengenalkan anak pada sholat, perkenalkan terlebih dahulu sejarah perintah awal sholat.

Jangan sampai kita sebagai orangtua (kelak) menyuruh anak melakukan ibadah wajib atau kebaikan lainnya agar kita terhindar dari hisab yang buruk. Atau menyuruh anak menghafal Al-Qur'an padahal kita tidak, agar kita mendapat mahkota di syurga. Perhatikan niatnya! Perbaiki niatnya, semata-mata untuk kebaikan anak di dunia dan terutama di akhirat kelak.

Tak jarang kita jumpai anak-anak dengan perilaku kurang baik, hal tersebut seharusna dikembalikan pada orangtuanya. Karena setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), orangtuanyalah yang berpengaruh pada pembentukan karakternya. Orangtua pengasih memberikan waktu untuk anak. Orangtua penyayang memberikan cinta untuk anak.

"Saya ibu rumah tangga, setiap hari selalu dekat dengan anak.." tutur seorang ibu

Ingatlah, bersama dengan anak tidak sama dengan dekat dengan anak. Jangan dulu berbangga hati menjadi fulltime mom jika Anda tidak bisa membersamai anak, hanya raganya saja yang dekat. Bersama dengan anak artinya membersamai dirinya dalam belajar, mengajaknya mengobrol sehingga orangtua dijadikan tempat curhat pertama anak.

Ini penting, orangtua harus jadi tempat curhat pertama anak, agar anak tak salah tempat. Maka jadilah orangtua yang penuh rasa aman dan nyaman. Ajaklah anak mengobrol setiap hari. Tak perlu hal-hal berat, cukup dimulai dengan yang ringan sehingga anak tak merasa tertekan setiap kali mengobrol dengan kita.

Sebagai penutup, salah satu tanda-tanda har Kiamat adalah banyak budak wanita yang melahirkan majikannya. Dengan kata lain, banyak anak yang membangkang atau durhaka pada orangtuanya sendiri. Naudzubillahimindzalik. Semoga kita dan anak-anak kita tidak termasuk di dalamnya. Jangan enggan untuk teru belajar dan belajar, menjadi orangtua yang PENGASIH dan PENYAYANG.

Demikianlah resune yang bisa aku tuliskan diserta beberapa tambahan dariku. Menurut Abah Ihsan sendiri beliau biasanya memberikan materi parenting selama dua hari mulai pukul 07.30-18.00, kalau kali ini hanya dua jam karena keterbatasan waktu. 😂

0 comments:

Posting Komentar

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!