Ads 468x60px

Selasa, 25 Juli 2017

Kisah di Balik Prestasi Terbaikku


Bismillahirrahmanirrahim..

Sabtu, 15 Juli 2017
Hari ini genap 38 minggu usia janin dalam kandunganku. Ah, tak terasa sekitar dua minggu lagi aku akan menghadapi medan jihad terbesar bagi seorang wanita; proses melahirkan. Dua minggu lagi aku akan menemui buah hati kami; baby A!



Kuhabiskan pagi itu dengan berjalan kaki ke pasar dan berbelanja bersama suamiku. Dilanjutkan dengan mencuci baju dan beberes kamar. Setelah semua beres, kami gunakan waktu mengobrol dengan si calon baby. Ya, kami gemar mengajaknya mengobrol.

"Sayang, lahirnya nanti weekend aja ya, pas ayah di Jakarta."

"Sayang, nanti cari jalan lahir sendiri ya. Nanti bunda bantu dorong."

Kalimat-kalimat di atas setiap hari kami ucapkan di atas perutku. Dulu, jauh sebelum hamil, bahkan mungkin jauh sebelum menikah aku mengganggap berbicara dengan janin di kandungan adalah sesuatu yang aneh. Apakah ia akan mengerti? Atau bahkan apakah ia mendengar?

Tapi sejak hamil, keyakinanku berubah. Janin adalah makhluk hidup. Ia dapat memahami meski tanpa suara. Asalkan (calon) orangtuanya tetap menjaga komunikasi dengannya. Yap, jangan salah kira baby di rahim tak perlu diajak bicara. Perlu, bahkan harus! Karenanyalah tiap hari aku gemar sekali mengajaknya bicara, mulai dari aku bangun tidur hingga tidur kembali.


Kembali ke kegiatan kami hari itu. Sore harinya sekitar pukul 16.30 WIB aku merasakan perutku berkontraksi per lima belas menit. Rasanya perut seperti dililit, bertambah-tambah ketika aku dalam posisi tidur. Ah, inikah yang disebut kontraksi palsu? 

FYI, menurut artikel yang kubaca, kontraksi palsuterjadi per 30-60 menit sekali. Ini biasa terjadi di trimester akhir kehamilan, bisa juga merupakan pertanda akan datangnya kontraksi asli.

Pukul 18.00 WIB jeda kontraksi semakin dekat per sepuluh menit sekali. Tapi masih kuanggap itu kontraksi palsu. 
"Gimana? Mau ke bidan aja?" tanya suamiku.
"Tunggu dulu deh."

Semakin malam jedanya kian mendekat per lima menit sekali. Akhirnya kami memutuskan pergi ke bidan sekitar pukul 22.30 WIB dengan masih menahan kontraksi.

Sesampainya di rumah bersalin, aku langsung masuk ruang bersalin dan tidur di atas ranjang. Bidan memeriksaku. Hmm ternyata benar apa yang kubaca, begini toh cara memeriksa dan mengetahui pembukaan berapa. Tak perlu kuberitahu bagaimana caranya ya.

Aku meringis sakit, beberapa kali bidan gagal memeriksa pembukaanku. 
"Pembukaan satu, Bu. Nanti kita cek lagi ya jam 02.30." katanya setelah berhasil memeriksa pembukaanku. "Kami serahkan ke ibu dan bapak, apakah akan menuggu disimi atau mau pulang dahulu?"

Teringatdalam benakku pekan lalu saat kontrol hamil, seorang ibu hendak melahirkan namun baru pembukaan 1. Apa ang terjadi? Bidan menyuruhnya pulang dahulu. Dan masih banyak lagi kasus 'masuh pembukaan awal, pulang dulu saja' yang kerap kutemui dan kubaca. Aku pribadi? Lebih baik menunggu disitu saja khawatir semakin lebar pembukaan, semakin sulitku bergerak. Maklum, pengalaman pertama.

FYI, ada sepuluh pembukaan dalam proses persalinan. Sebelum pembukaan lengkap (sampai ke-10) sang ibu tak diperbolehkan mengejan karena dapat meyebabkan pembengkakan pada jalan lahir.

Setelah memeriksa pembukaan, bidan memeriksa detak jantung janinku.
"Normal." katanya. Dilanjutkan memeriksa tensiku.

"Tensinya tinggi, Bu." ucap bidan setelah memeriksa tensi darahku. Raut wajahnya tak mengenakkan pertanda tensi darah yang tinggi tak baik untukku.

Pukul 03.00 WIB. Kontraksi kian kuat, darahpun mulai mengalir lewat jalan lahir. Aku jadi teringat kata seorang teman yang sudah melahirkan terlebih dahulu sebelum aku.
"Kontraksi itu rasanya seperti kamu mau BAB tapi harus ditahan."

Sejak itu aku selalu membayangkan rasanya. Dan.. saat ini aku sungguh merasakannya! Allahurabbi, beginikah yang kerap dikatakan dalam firmanNya bahwasanya seorang ibu yang melahirkan rasanya seperti dua puluh tulang dicabut secara bersamaan?

Tubuh manusia hanya dapat menanggung sampai 45 titik rasa sakit. Namun pada saat melahirkan, seorang ibu merasakan hingga 57 titik rasa sakit. Hal ini setara dengan 20 tulang retak secara bersamaan pada satu waktu.
Anonim
Aku pun kian sering berkemih, hal ini katanya dikarenakan bayi semakin turun dan menekan kandung kemih.
"Kok buang air mulu, yang?" suamiku bertanya-tanya.
"Kaena ruangannya AC kali." jawabku sekenanya.

Tapi melihat air yang keluar warnaya jernih dan agak berlendir, aku mulai khawatir. Akhirnya aku meminta suamiku memanggil bidan. Sekitar pukul 02.20 bidan datang dan memeriksa kembali. Lagi-lagi aku harus menahan nyerinya. Mungkin bidannya sampai bete melihatku susah diperiksa jumlah pembukaannya.

"Ayo, sayang, bismillah bisa ya. Demi dedek, demi anak kita." suamiku menguatkan. Aku berusaha tegar dengan menggenggam tangannya kuat-kuat walau sambil menahan sakit yang luar biasa.

"Pembukaan dua."
Allahurabbi, sudahtigajan baru pembukaan dua? Kapan pembukaan akan lengkap? Saking sakitnya aku sampai ingin segera saja lengkap pembukaan.

Lagi, tensiku dan denyut jantung bayi diperiksa setiap tiga jam namun masih saja tinggi. Ternyata memang tensi darah tinggi tak baik bagi ibu yang akan melahirkan. Apalagi kadar hemoglobinku sempat rendah saat cek darah sebulan sebelun melahirkan. Ya, aku memang ada riwayat anemia. Ini beresiko pendarahan persalinan.

But this is life. I take risks. For my baby only.

Waktu terus berjalan. Setiap kali rasa sakit itu datang, aku harus menarik nafas panjang lewat hidung dan melepaskannya lewat mulut. Makin lama seolah tak ada lagi jeda. Beruntung, suamiku terus menemani di sisiku. Rasanya aku tak kuasa ditinggalkannya barang sedetikpun.

Pukul 03.30 WIB, saat ia sedang sholat malam, gelombang cinta hadir kembali. Karena tak ada yang menguatkan, refleks aku berteriak seraya mengejan. Bidan segera datang.

"Bu, tiup, tiup, tiup. Jangan mengejan ya Bu, kasihan nanti bayinya di dalam stress."

Begitupun saat suamiku izin keluar ruang bersalin untuk menelpon mertuaku di kampung dan orangtuaku di rumah karena di ruangan tak ada sinyal. Aku pun kembali berteriak.

Ekspresi wajahku yang tadinya hannya berupa ringisan, seketika air mataku menetes.
"Ka..kak, to..long..ak..kuh.."ucapku terbata.

Kulihat mata suamiku tampak merah nanar bekas menangis. "Sabar, sayang, ini akan segera berlalu. Kamu kuat, kamu kuat!"

"Tolong..sampaikan..maafku..ke teman-temanku..lewat WA.. Tolong..panggilkan..ibu juga.." kataku dengan sisa tenaga.

Suamiku segera keluar, menghubungi ibuku dan mengirimkan pesan di beberapa grup WA ponselku.

Pukul 04.30
"Pembukaan empat, Bu."
Suamiku bergegas menunaikan shalat subuh.

Pukul 06.30, alhamdulillah pembukaan 8! Dua lagi ya Allah, batinku.
"Lihat, sayang, sedikit lagi. Sedikit lagi kita akan bertemu dedek."
"Ibu..mana?" aku terus mempertanyakan kehadiran ibu. Sekalipun suamiku, orang yang paling dekat denganku sudah berada di sisiku, tapi saat itu aku juga membutuhkan ibu. Teringat dalam benakku wajahnya, perjuangannya dan cintanya padaku. Terbayangkan bagaimana ia berusaha melahirkanku dua puluh tiga tahun tahun silam.

Setelah menunggu cukup lama, ibupun hadir di sisiku. Ia berusaha menguatkanku.
"Ibu..sakit..bu.." gumamku tak sadar.
"Istigfar..astagfirullahaladzim.."
"Kapan..ak..khu..boleh..ngeden.."
"Iya sebentar lagi yang. Sebentar lagi kamu bokeh ngeden, kita akan bertemu dedek. Bayangkan itu yang." selalu kalimat itu diucapkan suamiku, menguatkanku.
Bidan datang kembali. Ia mempersiapkan peralatan sambil menatap jam dinding.
"Sebentar lagi ngeden ya, Bu. Siapkan energinya. Makan dulu."

Ibu menyuapiku bubur kacang hijau yang dibawakan staf dapur umum. Sekuat tenaga aku berusaha mengunyah di tengah sakitku.

Pukul 07.35 WIB, bidan meminta ibuku keluar ruangan. Tensiku dicek lagi, alhamdulillah kali ini tensiku menurun. Masya Allah padahal sepanjang malam tensiku terus naik.

Bidan mulai mengatur posisiku, kedua kaki ditekuk dan membuka lebar, tangan dijepit di antara lutut dan paha. Ia juga mengajariku mengejan.
"Mengejan di pan***, JANGAN di perut ya, Bu. Mengejak HANYA saat kontraksi hadir."

Darinya aku tahu bahwa mengejan hanya boleh dilakukan ketika kontraksi sudah di titik puncak, karena jika tidak, sia-sia saja, bayi tidak akan bergerak keluar. 

Di saat-saat seperti ini entah mengapa justru kontraksi berjalan lebih lambat. Padahal aku membutuhkannya!

Ketika kontraksi hadir, aku menarik nafas panjang dan mulai mengejan. Tarik nafas pendek, mulai mengejan lagi. Bayiku mulai terdorong dan terlihat kepalanya.
"Tuh, Bu, sudah terlihat rambutnya. Kurang panjang ngedennya."

Sekali lagi, kontraksi hadir. Bayiku terdorong tapi karena nafasku tak panjang, ia kembali masuk ke dalam.
"Bu, kasihan bayinya, keluar masuk terus." kata sang bidan. "Coba deh, Pak, bapak lihat kan?"
"Iya, yang. Ayo, semangat, kamu bisa!"

Pukul 08.20 WIB. Empat puluh lima menit berlalu, bayiku belum juga keluar. Peluh membasahi tubuhku. Perasaanku mulai tak karuan, benar-benar khawatir terjadi apa-apa padanya. Aku nyaris.. kehabisan tenaga.. Air mataku menetes bercampur peluh.

Rasa takut mulai hadir. Disusul dengan rasa ragu. Mampukah aku melahirkannya dengan normal? Atau harus operasi saja?

Aku menarik nafas panjang sambil menutup mata. Kupandangi suamiku, ada secercah harapan di matanya.
"Aku memang ga bisa merasakan apa yang kamu rasakan tapi aku yakin kamu bisa. Kamu calon bunda yang hebat!"

"Ya Allah, aku mohon bantulah aku mengeluarkan bayiku. Lindungilah ia. Kuatkanlah aku ya Allah! Laa hawla wa la quwwata ila billah.." aku membatin masih dengan menangis.

Bidan kedua datang, ia mengajariku metode lain. Disuruhnya aku menghadap ke kiri. Terasa sekali ada yang menganjal di jalan lahir. Itu kepala anakku, ya Allah ia sudah hampir keluar! Tapi aku tak bisa membantunya! Rasanya perasaanku nyaris hancur...

Bidan memintaku berada di posisi itu selama 10 menit, sekalipun aku merasakan kontraksi, tapi sebelum mencapai 10 menit, aku dilarang mengejan. Suamiku berusaha memberiku dopping biskuit dan susu. Aku sudah sangat kelelahan. Setengah setengah aku memakannya.
"Sa..ya..su..dah..kontraksi.."
"Belum sepuluh menit, Bu."
Aku menarik leher baju suamiku erat-erat. Sempat kulihat sirat kecemasan juga terpancar di wajahnya tapi ia masih bisa mengontrolnya. 
"Yak, sudah. Silakan berbalik, telentang, tarik nafas panjang lalu mengejan kuat." perintah bidan.
"Bismillahirrahmanirrahim ya Allah bantu aku!" teriakku sekencang-kencangnya lalu mulai mengejan. Kutarik nafas pendek, lalu mengejan lagi.

Aku merasa kelelahan yang begitu hebat. Entahlah apakah bayiku sudah keluar atau masih di dalam. Aku hanya bisa menutup mataku yang masih tergenang air mata.

Tak lama kemudian terdengar tangis bayi. Allahuakbar itu suara bayiku, bayi kami! Diletakkannya ia dalam pelukanku segera untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Kutatap wajah suamiku, ia tampak terharu. Aku justru terdiam, seolah masih tak percaya. Kuelus tubuh hangat bayi kami yang masih terus menangis, mencari sumber makanannya..

Sudah tak kupedulikan rasa sakit yang harus kutanggung karena bidan sedang menjahit luka robekku. Yang terpenting bagiku saat itu bayiku sudah keluar dengan selamat. 

Ahad 16 Juli 2017 pukul 08.53 WIB. Aku berhasil melahirkannya secara normal dalam keadaan sehat. Alhamdulillahirabbil'aalamiin..

Alhamdulillah tak ada rasa parno ataupun cemas jelang persalinan. Aku hanya berusaha terus berpikir positif dan husnudzhon pada kuasa Allah melalui tubuhku dan janinku.

Peristiwa hari ini adalah momen terpenting dalam hidupku. Hari dimana Allah menunjukkan kuasanya atas apa yang sempat kusangsikan diri ini bisa lakukan..

Sembilan bulan dua minggu mengandung dengan susah payah, diliputi perasaan sakit, khawatir juga bahagia. Hari-hari bersama dirinya yang di dalam rahim.. 

Hari saat gelombang cinta mulai hadir, dan sang lifetime partner senantiasa di sisi menguatkanku. Meski ku tahu ia juga khawatir, tapi ia tahu bagaimana memanage agar khawatirnya tak nampak, agar ia mampu menenangkan istrinya.

Lagi lagi benarlah kata Allah bahwa seorang ibu yang melahirkan berada antara hidup dan matinya. Oleh sebab itulah Allah menghadiahkan gelar syahid pada wanita yang meninggal saat melahirkan serta syurga bagi orangtua yang kehilangan anaknya yang dilahirkannya.

Perjalanan masa kehamilan dan peristiwa persalinanku benar-benar menunjukan padaku bahwasanya manusia dicipakan awalnya dari setetes mani menjadi sebesar biji wijen tapi kemudian Allah kembangkan menjadi janin yang utuh. Ya, seperti tulah setiap dari kita bermula. Maha besar Allah atas segala ciptaanNya..

Mungkin perjuanganku belumlah ada apa-apanya, masih banyak ibu melahirkan lainnya yang perjuangannya jauh lebih berat daripada aku. Meski begitu, aku yakin setiap bayi memiliki cerita kelahirannya masing-masing. Ia berhak memilih, para ibunyalah yang membantu mewujudkannya.

Duhai wanita, berbangga hatilah engkau yang telah berhasil melalui masa kehamilan dan melahirkan buah hatimu. Disitulah Allah letakkan kemuliaan padamu..

Duhai lelaki, perlakukanlah wanita dengan hormat sebab dari rahimnya lah engkau terlahir..

Dahulu ketika banyak orang bertanya padaku apa prestasi terbaikku, kadang kujawab medali emas di event A atau best paper di event B. Tapi kini....

"Prestasi terbaik bagiku bukanlah medali emas, best paper, ataupun piagan lainnya. Prestasi terbaik bagiku adalah melahirkanmu secara normal dalam keadaan sehat wal'afiat, Abrisham Dzakir Ahnaf. I love you."



4 comments:

  1. Berasa ada disana ngebacanyaaπŸ˜‚πŸ˜„,

    Wellcome to the world Ahnaf 😍😍😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu emang selalu di hati Mii #ciee

      Halo, auntie Silmi πŸ’™πŸ‘Ά

      Hapus
  2. Subhanallah... Luar biasa perjuangan seorang ibu... Selamat ya Dek Visya... :)

    BalasHapus

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!