Negara ini sedang krisis keteladanan. Itulah mengapa orang tua di rumah sangat cemas. Anak bisa jadi jahat walaupun ayah dan ibunya di rumah telah membekali dengan segala kebijaksanaan”
Kita merasa dibohongi selama puluhan tahun oleh slogan-slogan yang rutin dijejalkan. Nyatanya, sumber kekayaan alam ternyata hanya memperkaya segelintir elite dan menghadiahi banjir bandang untuk orang miskin. Sesama warga negara ternyata jauh lebih berbahaya dibanding antek-antek aseng.
Buku ini adalah upaya Kalis Mardiasih memperlihatkan kaitan antara beban pengasukan anak dengan situasi politik. Bagi Kalis, lingkungan yang kurang baik bagi tumbuh kembang anak mula-mula muncul dari kebijakan politik yang tak berpihak. Anak jadi kehilangan ruang bermain yang aman, kesulitan memahami konsep kekayaan, sehingga tidak mengenal kerja-kerja perawatan.
Buku ini serupa doa sekaligus tuntutan bagi negara untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik bagi masa depan anak.
Itulah blurb dari buku terbaru Kalis Mardiasih, Parenting di Negara Gagal. sebua buku parenting dengan pov antimainstream, menurutku, bukan ngomongin tips and tricks pengasuhan secara teknikal tapi dari sudut pandang orangtua yang melek kebijakan publik.
Berikut ini highlighted points yang kudapatkan dari buki tersebut
- Kesejahteraan material tetap harus diimbangi dengan tujuan hidup bermakna.
- Parenting bukan hanya soal teknik, fasilitas, maupun media pembelajaran. Tapi, parenting juga soal visi dan imajinasi dunia yang akan ditinggali anak di masa depan.
- Melalui interaksi komunitas, anak-anak tidak hanya menerima transfer pengetahuan dari keluarga inti, melainkan juga belajar cara hidup berdampingan dengan manusia lain. Pada momen inilah pewarisan pengetahuan tentang makanan, obat-obatan, alam sekitar, sistem sosial dan cara hidup lainnya, berlangsung.
- Dalam banyak budaya Asia, makanan adalah pengalaman tubuh. Makan dengan tangan berarti lebih hadir, lebih menghormati nakanan, lebih sadar proses. Selain itu makan pakai tangan adalah simbok kesetaraan, gotong royong, tidak adanya jarak sosial.
- Protes kepada pemerintah, yang diajarkan ke anak, bukanlah tentang marah-marah, tapi pengajaran dalam rangka memberitahu anak-anak bahwa mereka boleh menagih hak untik hidup yang lebih bersih, lebih layak, lebih sehat dan berkualitas.
- Tugas orangtua adalah merapat kesadaran dan pemahaman anak untuk memberi jarak antara diri mereka dengan idola.
- Memberikan pemahaman soal ketimpangan adalah satu hal. Memberikan pemahaman soal ketimpangan sembari melawan konten yang mempromosikan ide sebaliknya adalah hal yang luar biasa sulit.
- Ideologi pemerintahan patriarkis yang digerakkan oleh kultur maskulin menyukai aktivitas memproduksi materi baru dibandingkan merawat sesuatu yang telah ada.
- Laporan Greenpeace Indonesia pada tahun 2025 mengilustrasikan bagaimana pemerintah Indonesia menerbitkan 16 Izin Usaha Pertambangan di Raja Ampat, Papua Barat Daya, 13 di antaranya masuk wilayah Geopark Raja Ampat. Total ada 500 hektare hutan di Raja Ampat rusak akibat sedimentasi pertambangan.
- Degrowth menekankan pada pengurangan aktivitas produksi dan konsumsi demi meredam laju kerusakan bumi.
- Daya rawat dimulai dari ibu-ibu dan anak perempuan. Pada tahun 70-an, pada perempuan di Uttar Pradesh, India, mempromosikan gerakan memeluk pohon untuk menujukkan relasi antara manusia dengan alam dan melindungi pohon dari perusahaan kemaruk. Gerakan ini disbut Chipko yang berarti memeluk.
- Merawat selalu butuh waktu yang sangat lama sedangkan menghancurkan kehidupan hanya butuh nafsu merusak yang sekejap saja.
- Tidak ada cara lain untuk membentuk laki-laki yang memahami kerja perawatan selain memperkenalkan segala bentuk pekerjaan sebagai pekerjaan yang netral gender.
- Sudah waktunya anak mengenal konsep ekonomi perawatan. Laju pertumbuhan tidak selalu harus dengan cara memproduksi sebesar-besarnya. Laku kesejahteraan tidak selalu hatus diartikan dengan mampu membeli barang sebanyak-banyaknya.
- Anak-anak hari ini harus segera terlibat dalam percakapan sulit bahwa kolonialisme modern ada di mana-mana bahkan di dalam negara ini.
- Orangtua dapat mengajarkan bahwa anak tidak harus selalu berani saat berhadapan dengan pelaku kekerasan, akan tetapi anak mesti berlatih untuk mengelola keteguhan diri untuk tetap melawan.


0 komentar: