Kolaborasi PARFI '56 & Dompet Dhuafa dalam 'Meradjoet Sendja' untuk Donasi Kemanusiaan



Di suatu hari saat sedang membuka Instagram, di linimasaku muncul sebuah konten yang kurang lebih redaksionalnya begini:

Memperingati 17 Agustus bukan karena merayakan Indonesia sudah sepenuhnya merdeka, tapi untuk memperingati kondisi Indonesia yang seperti ini. 

Aku sepakat. Kalau kamu, bagaimana? 


Tapi, jujur, menurutku kita jangan sampai patah harapan. Tetap bangun harapan untuk Indonesia yang lebih baik di usianya yang sebentar lagi menginjak 81 tahun, diiringi dengan praktik mulia. Sebagaimana yang dilakukan oleh Olivia Zalianty bersama segenap kru Merajoet Sendja. 

"Wah, apa tuh, Merajoet Sendja?"

Kalau saja tidak hadir di Seminar Kebangsaan yang digelar pada hari Jumat 14 Agustus 2026 kemarin, mungkin aku juga tak akan tahu apa itu Merajoet Sendja. Beruntungnya aku mendapat kesempatan itu. Kegiatan ini diawali dnegan menyangyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dibuka oleh Teuku Zacky selaku MC.

sumber: dokumen pribadi

Berlanjut ke sesi selanjutnya yaitu Seminar Kebangsaan yang menghadirkan Prof Yudi Latif dan KGPH Ndaru Kusumo selaku pengarah & penasehat Meradjoet Sendja. Tak ketinggalan Olivia Zalianty selaku sutradara turut hadir. 

sumber: dokumen pribadi

"Meradjoet Sendja" adalah pementasan teater yang menceritakan perjalanan Republik Indonesia dalam lima babak, melibatkan Siti Soendari, Soekaeno, Sutan Sjahrir dan Tan Malaka. Ini merupakan sinergi besar antara PARFI '56 (Persatuan Artis Film Indonesia) dan Dompet Dhuafa yang mengusung konsep pertunjukan seni sekaligus aksi sosial nyata.

Pementasan yang akan digelar pada 26 Agustus 2026 ini memiliki misi mulia, di mana seluruh hasil penjualan tiket akan didonasikan melalui Dompet Dhuafa.

Pementasan ini melibatkan transformasi para aktor papan atas yang akan menghidupkan karakter-karakter ikonik sejarah:

✅Marcella Zalianty sebagai Siti Soendari (tokoh penggerak perempuan).

✅Arswendy Bening Swara sebagai Ir. Soekarno (Sang Proklamator).

✅Luthfi Ardiansyah sebagai Mochammad Hatta (Sang Dwitunggal).

✅Edopaha sebagai Sutan Syahrir (Sang Diplomat Ulung).

✅Tantan Ginting sebagai Tan Malaka (Bapak Republik yang Revolusioner). 


Dalam Seminar Kebangsaan, ada pertanyaan reflektif yang menjadi poin diskusi: Di usianya yang ke-81, apakah Republik Indonesia sudah sesuai dengan yang dicita-citakan para pendiri bangsa dahulu?

sumber: dokumen pribadi


Oh ya, ternyata pementasan ini merupakan karya Olivia Zalianty setelah vakum selama hampir lima tahun karena melahirkan dan membesarkan anak pertamanya. 

Setelah Seminar Kebangsaan, dilanjutkan dengan konferensi pers "Meradjoet Nissan" yang menghadirkan kembali Olivia Zalianty, dan para cast: Marcella Zalianty, Arswendy Bening Swara, Luthfi Ardiansyah dan Tantan Ginting. 

sumber: Suara Merdela/Zayanul

Menjelang akhir konferensi pers, momen yang dinantikan tiba. Setiap cast menampilkan sekelumit dialog yang paling berkesan, membuat ruangan riuh dengan tepuk tangan para hadirin. 

Di tengah-tengah konferensi pers juga ditampilkan video kontribusi PARFI 56 kepda masyarakat dan pekerja seni. Sungguh bikin terenyuh :") 

Setelah konferenai pers, resmi diluncurkan Social Fund PARFI 56 x Dompet Dhuafa yang diwakili oleh Ketua PARFI 56 yaitu Marcella Zalianty. Selamat! 

sumber: netralnews.com


Penasaran dengan sinopsisnya? 

Sinopsis:

Pementasan ini terbagi dalam 5 babak yang bercerita mulai dari Siti Soendari yang hadir  dalam Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda. Salah satunya adalah janji  untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia. Soendari kemudian  belajar bahasa Indonesia dan berpidato 2 bulan kemudian dalam Kongres Perempuan II dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Lalu diikuti dengan dialog antara Soekarno,Hatta dan Sjahrir mengenai Indonesia sebagai sebuah cita-cita. Kemudian ketiganya ditangkap dan diasingkan: Soekarno ke Ende, Hatta dan Syahrir ke Boven Digoel lalu ke Banda Neira. Ketiganya kemudian dibebaskan dan berpisah jalan pada masa pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan, terjadi dialog hangat antara Soekarno dengan Tan Malaka yang menginginkan Indonesia Merdeka 100%. Babak terakhir merupakan monolog Soekarno yang merenungi perjalanannya dan perjalanan Republik yang menyertainya dari masa muda hingga berakhir menjadi “tahanan rumah” di Wisma Yaso setelah meletusnya G30S. Jalan cerita ini berupaya menghadirkan kembali pemikiran-pemikiran para pendiri bangsa untuk mempertanyakan kembali: Apakah di usianya yang ke-81, Republik Indonesia sudah seperti yang cita-citakan dulu? Bagaimana juga kita mengisi kembali  kemerdekaan dengan cita-cita kita tentang Indonesia? Apa saja hal yang bisa kita upayakan sebagai sebuah bangsa?

Kru Produksi:

Pengarah dan Penasehat : Yudi Latif dan KGPH Ndaru Kusumo

Produser Eksekutif : Marcella Zalianty

Sutradara : Olivia Zalianty

Pemain : Marcella Zalianty (Siti Soendari)

 Arswendy Bening Swara (Ir. Soekarno) 

 Luthfi Ardiansyah (Mochammad Hatta)

 Edopaha (Sutan Syahrir)

 Tantan Ginting (Tan Malaka)


Membeli tiket teater ini berarti ikut merawat sejarah sekaligus mengulurkan tangan bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama para pekerja seni melalui Social Fund PARFI 56 x Dompet Dhuafa. Panduan cara pembelian tiket dan mekanisme penyaluran donasi, silakan pantau linimasa @dompetdhuafaorg dan @parfi56.

0 komentar: