Ads 468x60px

Jumat, 01 Juli 2016

Tiga Puluh Hari (Telah) Berlalu


Aku selalu yakin, bahwa segala sesuatu yang tercipta di bumiNya, senantiasa berpasangan. Pada setiap pertemuan Allah ciptakan perpisahan. Entah teori dari mana. Entah sudah ada data yang akurat ataupun belum, sebagian besar orang begitu bahagia ketika mengalami pertemuan dan merasa begitu sedih juga kehilangan ketika menemui perpisahan. Hal itu kadang berlaku pada diriku, kadang juga tidak.

Aku bisa begitu bahagia dengan sebuah pertemuan; entah itu dengan orang lama ataupun orang baru. Aku bisa begitu sedih karena sebuah perpisahan. Tapi aku juga bisa begitu biasa saja pada perpisahan. Cerita kali ini tidak dimaksudkan untuk tenggelam dalam kesedihan. Sebab ku tahu Allah tak menyukainya. Semoga ada yang bisa dipetik dari kisahku kali ini.


Sejak beberapa bukan lalu aku sudah rancang target hidupku selama satu semester (6 bulan). Ya, itulah yang biasa kulakukan setiap 6 bulan sekali. Aku hanya tak ingin waktuku terbuang sia-sia, tanpa progress, tanpa pencapaian. 

Salah satu rencana hidupku adalah aku akan menghabiskan bulan Ramadhan di kota lain, di tempat perantauan.

Waktu berjalan. Kebimbangan sempat menyelimuti membuatku maju mundur dengan rencanaku itu. Hingga akhirnya Allah teguhkan hati dan komitmenku. Juni 2016, pertengahan tahun 2016 yang huga bertepatan dengan bulan Ramadhan, aku berangkat seorang diri. Meninggalkan rumah. Memohon restu ayah ibu. Pergi ke tanah rantau guna menuntut ilmu.

Meski ada perasaan takut, apalagi setelah kulihat maraknya berita kriminalitas di TV, kucoba kembali pada azzamku. Sebelum dan sepanjang perjalanan ku panjatkan doa agar Allah beriku teman-teman baik.

Waktu terus bergulir. Kulalui hari bersama orang-orang baru. Di tempat yang baru. Tanpa ada yang kukenal sebelumnya. Bersama lalui hari dalam naungan haus akan ilmu. Dalam bingkai kekeluargaan.

Aku mintanya teman-teman yang baik, Allah kasihnya keluarga terbaik.

Allah kabulkan doaku! Bahkan lebih! Diberikannya aku keluarga disini; yang saling peduli dalam kondisi apapun, yang saling menyemangati di kala lelah dan sedih, yang saling berbagi tawa dan materi tanpa pamrih.

Aku sungguh menikmati masa-masa ini. Bulan Ramadhan yang berbeda. Bersama keluarga seperjuangan.

Merantaulah. Maka kau akan mendapatkan pengganti keluargamu.

Merekalah keluarga yang telah Allah kirimkan untukku. Ah, bagaimana hatiku tak tersentuh? Bahkan aku ingin terus brrsama mereka, tak terpisahkan!

Hingga tiba hari itu.. Hari harus melepasnya. Bagaimanapun ada keluarga utama yang menanti kehadiran di rumah.

Menjadi yang ditinggalkan memang tak mengenakkan. Dan itu kurasakan. Meski aku kerap bepergian ke beragam kota dan menghabiskan hidup dengan orang-orag baru tapi kali ini rasanya sungguh berbeda!

Tangisku pecah. Entah mengapa seperti ada yang sakit dalam hatiku. Sebab aku tau semua tak akan terulang dengan sama persis. Ada kesedihan yang begitu terlarut. Tak hanya aku, tapi yang lain juga rasakan.

Malam itu aku kayuh sepedaku. Membelah jalanan Brawijaya dari ujung ke ujung. Agar tangisku ikut terbawa dinginnya angin yang menerpa wajah. Agar sakitku lenyap tak berbekas. Tak pernah kurasa sesedih ini dengan perpisahan.... Begitu cepat satu bulan berlalu.. Tak pernah aku merasa sakit dengan perpisahan, selain kali ini. Betapa tiga puluh hari kini telah penghabisan..

Biasanya malam hari kami bercerita hikmah bersama, tertawa karena candaan. Kini sekelilingku sepi.. Aku rindu..

Hingga aku tersadar...

"Pada setiap pertemuan, Allah selipkan perpisahan. Jika perpisahan membuat hatimu begitu terluka dan matamu menggenang berhari-hari, coba periksa hatimu. Tentang keikhlasan. Tentang keyakinan akan takdir terbaik dariNya. Semoga jika tidak di dunia, kita bisa bertemu di syurgaNya..."

ya Allah.. betapapun aku mencintai mereka, jangan kau buat cintaku nelebihi padaMu dan RasulMu.. 

Karena melepasmu adalah belajar tentang keikhlasan. Terimakasih atas segala kenangan dan pembelajaran..
Karena melepasmu adalah belajar tentang keyakinan akan takdirNya. Aku tak mau berlarut dalam kesedihan, bukan berarti melupakan. Terimakasih telah jadi bagian hidupku...

Selamat kembali pada ayah ibu. Aku akan sangat rindu pada kalian.. 
Teruntukmu,

Kediri, 2 Juli 2016

0 comments:

Posting Komentar

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!