Ads 468x60px

Selasa, 16 Juni 2015

Creative Metamorphing Sebagai Model Pendekatan Saintifik dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 (Dipresentasikan di Universitas Tanjungpura Pontianak Mei 2015)


Creative Metamorphing Sebagai Model Pendekatan Saintifik dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015
Evi Syahida
matematika.kimia@gmail.com
Universitas Negeri Jakarta

sumber: gurupembaharu.com

Abstrak. Beberapa puluh tahun yang lalu Indonesia seolah tak pernah habis akan kelahiran para pemikir dunia. Sebut saja Habibie, Soekarno, Gusdur, Susilo Bambang Yudhoyono dan lain sebagainya. Namun seiring ebrkembangnya waktu, kini amat jarang generasi penerus mereka, individu yang dibedakan oleh cara berpikirnya. Di satu sisi para siswa atau peserta didik lah yang akan menjadi generasi penerus tersebut. Setiap peserta didik dilahirkan dengan potensinya masing. Berdasarkan UU Mengenai Sistem Pendidikan Nasional tercantum bahwasanya setiap peserta didik memiliki hak untuk mengembangkan potensi dirinya semaksimal mungkin. Creative Metamorphing hadir sebagai model pendekatan saintifik bagi peserta didik. Creative metamorphing adalah strategi berpikir kreatif dan jenius. Ada beberapa tahapan di antaranya koneksi, penemuan, penciptaan, aplikasi dan revisi. Pada setiap tahapan tersebut dapat dikorelasikan dengan pembelajaran di kelas sehar-hari. Di sisi lain saat ini Indonesia akan menghadapi Masyarakat Eknomi ASEAN atau MEA 2015 dimana seluruh aspek kehidupan bersinergisitas menjadi satu dan daya saing menjadi kian tinggi. Kemunculan Creative Metamorphing amat membantu dalam menyiapkan sumber daya manusia yang jenius dan berpikir kreatif sebagai pemimpin masa depan di Indonesia khususnya dalam menyongsong MEA 2015.
Kata Kunci      : Creative Metamorphing, MEA 2015, pendekatan saintifik.



Jika ditanya mengenai tokoh-tokoh besar ilmuwan pengubah dunia, barangkali jawaban kita tak jauh-jauh dari Einstein, Galileo Galilei dan lain-lain. Tak hanya orang non lokal, namun juga orang lokal yang namanya tak lagi asing di telinga dunia seperti B.J. Habibie, Soekarno, Arief Rachman Hakim dan lain-lain. Mereka adalah individu-individu dengan komitmen dan motivasi hidup yang luar biasa. Apa yang membedakan mereka dengan orang-orang lainnya? Jawabannya adalah cara berpikir atau yang kerap disebut mindset.
                        sumber: liveyourmagics.com           sumber:artsfuse.org

Setiap orang dilahirkan dalam keadaan sama. Pada beberapa kondisi tertentu, pernyataan tersbeut berlaku. Misalnya sama-sama diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, kesempatan yang sama. Namun dalam kondisi lain, tidaklah lagi berlaku. Tanpa bermaksud mendikotomikan pihak tertentu, tak dipungkiri cara berpikir dapat mempengaruhi kehidupan seseorang secara signifikan. Mereka yang memiliki cara berpikir A, tentu berbeda dengan mereka yang memiliki cara berpikir B.
Indonesia saat ini tengah mengenyam model kurikulum baru yaitu Kurikulum 2013 atau Kurtilas. Penekanan dalam kurikulum ini terletak pada pendekatan yang digunakan yakni pendekatan saintifik. Secara lebih luas, pendekatan saintifik dimaknai dengan keaktifan siswa dalam mengamati, menanya, menciptakan dan mengaplikasikan. Siswa dituntut untuk belajar dengan model student-centered dan guru sebagai fasilitator. Berbagai tugas proyek atau project based learning serta problem based learning menjadi dasar pembelajaran di dalamnya.
sumber: lppm-jatim.net

Sudah jelas tertuang dalam UU No.20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional bahwasanya pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik semaksimal mungkin sehingga mereka mampu menjadi pribadi yang religius dan berintelektual. Cara berpikir dapat mempengaruhi peserta didik dalam mengembangkan dirinya. Ia akan mampu berkembang di tempat yang ia nyamani sehingga mampu membuatnya berkreativitas lebih dalam dan lebih luas. Dalam hal ini guru dituntut untuk menciptakan beragam penyelesaian dri suatu permasalahan. Sayangnya dewasa ini diakui tak banyak munculnya para pemikir besar seperti zaman dahulu. Dibutuhkan sebuah pendekatan dan pembelajaran kreatif agar menciptakan cara berpikir kreatif juga pada diri siswa. Creative Metamorphing adalah jawabannya.

Creative Metamorphing
Metamorphing berasal dari kata meta yakni melampaui dunia nyata dan phora yang berarti transfer. Creative Metaphorming merupakan strategi dalam rangka menuntun peserta didik untuk berpikir kreatif. Creative metamorphing dapatdiimplmentasikan menjadi konsep pembelajaran secara formal di kelas. Kreativitas merupakan manifestasi dari kejeniusan seseorang. Orang yang jenius adalah yang memiliki cara pikir jenius sehingga membuahkan kreativitas. Disitulah letak creativity pada creative metamorphing. Metamorphing dapat diaplikasikan pada berbagai jenjang pendidikan, baik itu usia dini, menengah pertama maupun menengah akhir. Metamorphing tak serta merta muncul melainkan terdapat beberapa tahapannya.

          Tahapan Creative Metamorphing
Pertama, koneksi. Adalah sebuah aktivitas menghubungkan gambar, simbol, dan lain sebagainya menjadi sebuah pengetahuan yang utuh. Dalam tahap ini guru menyampaikan pemahaman yang dimilikinya serta tujuan dari pembelajaran kepada siswa. Koneksi juga berkaitan dengan hubungan antara mata pelajaran tersebut dengan ilmu-ilmu lainnya seperti fisika, ekonomi, sosial dan lain sebagainya.
Kedua, penemuan. Setelah guru mampu mengkoneksikan antara pemahaman yang dipunya serta tujuan dari pembelajaran, selanjutnya siswa dituntun untuk menemukan sesuatu yang baru seperti implementasi materi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu implementasi nyatanya adalah mata pelajaran Matematika pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel pada pembelian beberapa barang yang sebelumnya tidak diketahui harganya
Ketiga, penciptaan. Hasil dari daya pikir kreasi diteruskan dengan usaha disebut penciptaan. Pada tahap ini setelah siswa menemukan sesuatu selanjutnya ia menciptakan sesuatu yang baru atau termodifasi. Siswa dapat juga merealisasikan penemuannya dalam bentuk hal konkret. Misalnya siswa menemukan menemukan kemudian menciptakan cara penyelesaian suatu permasalahan matematika yang baru atau termodifikasi.
Keempat, aplikasi. Dari hasil imanjinasi, pengamatan, penemuan, pengembangan ciptaan maka dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata atau pengembangan ilmu lainnya. Misalnya siswa mengaplikasikan ilmu ukurnya di dunia fisika dengan menghitung benda berukuran nano menggunakan alat yang sudah ditentukan. Aplikasi merupakan hal yang penting sebab menjadi ajang ‘pembuktian’ atasu penemuan dan penciptaan yang telah dilakukan.
Kelima, revisi. Pada konsep metamorphing yang telah ada sebenarnya hanya sampai pada tahap aplikasi. Namun pada creative metamorphing yang digagas ini, penulis menambahkan tahap terakhir yaitu revisi. Tidak semua aplikasi di lapangan dapat berjalan lancar. Berbagai kendala mungkin saja muncul. Misalnya siswa yang lupa terhadap materi yang diajarkan atau kekurangan dalam manajemen kelas bagi guru dan lain sebagainya. Oleh karenanya setelah aplikasi dilakukan, diperlukan revisi sebagai tahap evaluasi dan perbaikan.
Sebelum Creative Metamorphing benar-benar direalisasikan di dalam pembelajaran di kelas, guru hendaknya membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).  Guru dapat menjadikan Creative Metamorphing sebagai metode pembelajaran pada RPP dan pendekatan pada silabus. Pertanyaan selanjutnya, apa kaitan antara Creative Metamorphing dengan MEA 2015?

Korelasi Creative Metamorphing dan MEA 2015
Menurut Global Competitiveness Index dari World Economic Forum 2012-2013, Indonesia berada pada posisi ke- 50 dari 144 negara dalam hal daya saing negara, dari posisi ke-46 pada 2011. Di kawasan ASEAN, Indonesia hanya menempati urutan ke-5 di bawah Singapura (2), Malaysia (25), Brunei (28), dan Thailand (38). Ada beberapa faktor pendukung daya saing, yaitu institusi, infrastruktur, makroekonomi, kesehatan, pendidikan dasar, pendidikan tinggi, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pasar keuangan, kesiapan teknologi, besaran pasar, dan inovasi. 
sumber: pusakaindonesia.org

Berdasarkan data yang telah dipaparkan di atas menunjukan bahwa negara yang berada di ASEAN dan Indonesia khususnya sangat berpotensi besar untuk menggeser kekuatan ekonomi dunia yang sekarang masih berpusat di Eropa dan Amerika. Beberapa usaha juga telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Salah satunya di bidang pendidikan dan sumber daya manusia.
Indonesia membutuhkan pemimpin dengan cara berpikir jenius, bukan sekedar mereka dengan titel ‘sang jenius’ atau ‘manusia ajaib’. Merekalah pemimpin dengan cara berpikir dan ebrnalar yang baik dan kreatif. Sebab cara berpikir jenius mampu mengantarkan seseorang pada strategi yang matang dalam mencapai tujuan. Tujuan yang dimaksud disini adalah menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tidak hanya siswa, guru juga dapat meningkatkan daya kreativitasnya melalui Creative Metamorphing.
Patut disadari bahwasanya guru dan siswa menjadi sumber daya manusia yang amat penting dalam suatu negara. Pembelajaran di sekolah dengan metode konvesional mau tak mau membuat siswa cepat merasa jenuh. Creative Metamorphing hadir sebagai konsep penbelajaran yang amat mungkin direalisasikan. Jika konsep Creative Metamorphing bukan tidak mungkin akan muncul kembali generasi orang-orang jenius. Dalam hal ini diperlukan kolaborasi dukungan semua elemen seperti orangtua, guru dan pemerintah. Pada akhirnya siswa dapat menikmati konsep Creative Metamorphing. Sehingga para pemimpin masa kini tak perlu lagi meragu dan cemas akan keberlangsungan kepemimpinan mereka di tangan roang yang salah. Merekalah yang mampu memegang tonggak Indonesia dalam menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Referensi           :
Sunito, Indra, Syukur, Ramlan, dkk. 2013. Metamorphing: Beberapa Strategi Berpikir Kreatif. Jakarta: PT Indeks.
Butterworth, B. The Mathematical Brain. Macmillan : 1999.

0 comments:

Posting Komentar

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!