[Ulas Buku] Jelajah Perpustakaan 23 Negara: Menebar Semangat Membaca dari Lima Benua

 

Jika ada istilah,

"Buku adalah jendela dunia."

Atau,

“Membaca buku ibarat menjelajah kota atau bahkan negara lain.”

Aku setuju banget. Terlebih ketika membaca buku berjudul Jelajah Perpustakaan 23 Negara ini. Aku seperti diajak keliling dunia!

 

Judul: Jelajah Perpustakaan 23 Negara “Menebar Semangat Membaca dari Lima Benua”

Penulis: Wonderland Family Regional Luar Negeri

Penerbit: Wonderland Publisher

ISBN: 978-623-7268-94-9

Tahun Terbit: Maret 2020

 

Tentang Buku Jelajah Perpustakaan 23 Negara

Berawal dari  postingan promosi buku terbaru miliki seorang senior di kampus, aku tergerak untuk memilikinya (walau akhirnya diberikan gratis sebagai kado. Thak you Kak Vina!). Sebuah buku yang beliau tulis bersama teman-temannya di komunitas Wonderland Family Regional Luar Negeri.

Tampilan Kaver Buku Jelajah Perpustakaan 23 Negara
(sumber: dokumen pribadi)


Dengan tebal 216 halaman, buku ini terdiri dari 6 bab yaitu Benua Asia, Benua Australia, Benua Afrika, Benua Amerika, Benua Eropa dan Serunya Belajar di Luar Negeri sebagai bonus. Ya, kisah dalam buku ini dibagi berdasarkan benua letak negara tersebut berada.

Secara fisik, buku ini berukuran 18cm x 23 cm dan terbilang lebar. Awalnya aku bertanya-tanya mengapa dibuat begitu lebar? Tapi begitu membaca kisah-kisah di dalamnya dengan sudut pandang anak dan konten yang sangat aman untuk anak, aku memahaminya. Buku ini diperuntukkan juga untuk anak-anak khususnya usia pra remaja. Sehingga dengan ukuran yang ideal seperti ini, memudahkan anak membaca sendiri maupun bersama orangtuanya.

Ada 27 orang yang menjadi kontributor bab jelajah perpustakaan dan 5 orang kontributor bab serunya studi di luar negeri. Meskipun ada dua negara ditulis oleh dua orang, namun point of viewnya berbeda sehingga benar-benar menambah khasanah pengetahuan para pembacanya. Buku ini ditulis oleh 90%-nya adalah para ibu (ini aku tahu setelah membaca profil kontributor di halaman terakhir). Somehow ku merasa bangga sebagai sesama ibu. Kesibukan sebagai ibu tetap menjadikan mereka produktif lewat tulisan.

Daftar Isi Buku Jelajah Perpustakaan 23 Negara
(sumber: dokumen pribadi


Plus para ibu ini sebagain sedang meanjutkan studi, mengikuti suami studi ataupun bekerja dan alasan lainnya. You are so strong Moms! Tinggal di negeri orang emang ngga mudah, tapi pengalaman hidupnya bisa jadi bekal buat diri, anak dan keluarga. Banget.

Membaca buku Jelajah Perpustakaan 23 Negara ini membuatku seolah sedang keliling perustaaan yang ada di negara-negara tersebut. Oh ya, negara-negara yang ada dalam buku ini antara lain

  • Benus Asia: Indonesia, Malaysia, Qatar, Arab Saudi, Taiwan, Korea Selatan, Kuwait, Jepang, Sudan
  • Benua Australia: Australia
  • Benua Amerika: Amerika Serikat, Kanada, Ecuador
  • Benua Eropa: Finlandia, United Kingdom, Estonia, Jerman, Spanyol, Belanda, Austria, Swedia, Norwegia, Perancis

 

Beberapa Kisah dalam Buku Ini

Sebetulnya setiap kisah dalam buku ini memberikan ilmu baru buatku. Dari kesemuanya, ada beberapa yang ingin aku share.

Pertama, cerita jelajah perpustakaan di Finlandia. Ternyata Finlandia sudah memanfaatkan robot untuk membantu kerja para pustakawan dan membantu para pengunjungnya. Perpustakaan bukan sekadar berisi buku tapi juga beragam kegiatan menarik lainnya seperti area menjahit & merajut, memasak, bermusik hingga pertukangan!

Kedua, cerita jelajah perpustakaan dari Swedia, Kanada, Belanda dan Estonia. Perpustakaan dari kedua negara tersebut ternyata berasal dari museum zaman dahulu kala yang disulap menjadi perpustakaan atau pusat sastra anak. Bahkan di Belanda, ruangannya berupa life-sized book. Berasa ada dalam cerita di dalam buku itu.

Salah Satu Cerita dalam Buku Jelajah Perpustakaan 23 Negara
(sumber: dokumen pribadi)


Ketiga, cerita jelajah dari Kanada. Perpustakaan disini kegiatannya terdiri dari kegiatan untuk anak, remaja & pra remaja serta dewasa. Yang uniknya lagi, karena perpustakaannya menyatu dengan museum, perpustakaan ini menyiapkan satu Minggu ticket pass gratis untuk kunjungan ke seluruh museum di Kitcehenr-Waterloo.

Ke-empat, tentunya Indonesia dong, dengan perpustakaan tertinggi di dunia. Kita sebagai warga Indonesia patut bangga! Dan sering-sering berkunjung kesana ya!

Ah banyak banget kisah menariknya yang rasanya Ngga muat ditulis dalam blogpost ini, hehe. Oh ya, perpustakaan yang diceritakan hanya mengambil sampe 1-3 perpustakaan yang sekitarnya mewakili kondisi perpustakaan pada umumnya di negara tersebut 


Oh ya, ada beberapa quote tentang buku yang menjadi pengawal hampir di setiap kisah dalam buku ini. 

"Reading is a world in your head!" (Sebastian Mettler)
 

"Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca itu sebuah kebahagiaan." (Goenawan Muhammad)
 

"Ketika kamu ragu akan sesuatu, carilah di perpustakaan." (Stephen Hawking)

Dalam beberapa cerita jelajah di perpustakaan lainnya ternyata juga mengusung konsep yang sama, bukan sekadar ruangan berisi buku. Namun benar-benar dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan masyarakat. 

Quote Buku
(sumber: dokumen pribadi)


Hampir di semua negara ternyata memiliki pekan perayaan literasi setiap tahun. Bahkan beberapa kali dalam setahun seperti pekan komik, bazaar buku, parade buku, dan sebagainya. Perpustakaan benar-benar hidup! Harapannya semoga di Indonesia khususnya perpustakaan Indonesia kegiatan semacam ini semakin membumi.

Anak-anak di negara-negara tersebut pun dibuat sesering mungkin "bersinggungan" dengan buku. Misalnya dengan diadakan kompetisi membaca. Para orangtua juga diberikan reading log/reading record yaitu rekam jejak bacaan anak. Biasanya kemampuan membaca anak dibagi menjadi beberapa level. Mulai dari dibacakan buku (biasanya usia baby/toodler), membaca lalu menceritakan karakter dalam buku hingga membaca kemudian menceritakan kembali keseluruhan isi buku.

Namun ada beberapa hal yang menjadi masukan untuk buku ini yaitu ada foto yang captionnya "keluar" dari wilayah foto serta beberapa kesalahan pengetikan. Tapi tidak mengurangi esensi dan pesan yang coba disampaikan dalam buku ini.

Sebetulnya lebih menarik fotonya berwarna tapi tentu harganya akan lebih mahal (pengalaman pribadi๐Ÿ˜).

Bonus: Serunya Belajar di Luar Negeri

Bab ini diklaim sebagai bonus. Terdapat empat kisah. Satu di antaranya adalah tentang studi bachelor & master di luar negeri, dalam konteks ini adalah Sudan. Beberapa hal yang menarik seperti adanya kafilah dakwah (di Indonesia disebut KKN--Kuliah Kerja Nyata), selalu menjaga syariat islam dan juga ada pepatah yang  dari kisah di Sudan ini.

"Barangsiapa yang bisa hidup di Sudan, maka dia akan nisa hidup dimana saja."

Karena ternyata di Sudan adalah tempat belajar kesederhanaan. Empat kisah lainnya studi di luar negeri bagi anak usia sekolah seperti di Malaysia, Amerika dan Qatar. Bagiku yang dulu sempat menjadi pejuang kuliah di luar negeri, ini terasa seperti angin segar~ 

Keunggulan Buku

Sejujurnya ini kali pertama aku menemukan buku yang berkisah tentang eksplorasi perpustakaan, terlebih perpustakaan manca negara. Beberapa hal yang aku notice sebagai keunggulan buku ini antara lain.

  • Membuat pembaca seperti keliling (perpustakaan) dunia
  • Ditulis berdasarkan pengalaman & riset
  • Ada lembar “Aku Sudah Membaca 100 Buku” yang bisa diisi pemilik buku
  • Dilengkapi dengan foto penunjang

 

Hikmah Setelah Membacanya

Beberapa hikmah atau pembelajaran yang kudapatkan pasca menamatkan buku ini antara lain:

Menumbuhkan semangat mengajak anak mencintai membaca dan buku

Nyaris seluruh kisah para orangtua dalam buku ini adalah mereka yang memilki anak gemar membaca. Atau setidaknya tidak asing dengan dunia buku, literasi dan membaca.

Menumbuhkan semangat menjelajah beragam negeri

Setidaknya jika belum sampai ke negaranya, para pembaca bisa mengetahuinya lewat kisah para pemukimnya. Buatku pribadi, justru setelah membaca kisahnya, jadi semangat meraih mimpi kesana. Entah bagaimana caraNya kelak. 

Buat pemerintah/pihak berwenang, memberikan inspirasi

Aku harap buku ini dibaca oleh pihak-pihak berwenang seperti pengelola Perpustakaan Perpusnas dan jajarannya, Kemdikbud dan jajarannya bahkan Presiden. Pasalnya dalam buku ini diceritakan juga bagaimana upaya pemerintah negara-negara di luar sana berusaha menanamkan kecintaan membaca pada anak-anak sejak dini. 


Finally..

Baru juga membaca sepertiga buku ini, kesanku adalah

“Selepas Corona nanti, aku dan keluarga akan menjelajah lebih banyak perpustakaan”. Sebenarnya ide ini sudah muncul sejak lama, tapi realisasinya masih maju mundur. Terlebih perpustakaan ada di kota, semntara kami tinggal di kabupaten. Itu juga jadi pertimbangan kami dalam kondisi berbayi.

Ngga bisa berhenti!
(sumber: dokumen pribadi)


Semoga akan ada seri lanjutan dari buku ini yang berisi cerita jelaha perpustakaan dari negara lainnya. Sungguh ku penasaran. 

Terimakasih untuk para kontributor buku Jelajah Perpustakaan 23 Negara!

Jadi, apakah Moms suka berkunjung ke perpustakaan? Sudah berniat mengagendakan keluarga berkunjung ke perpustakaan selepas pandemi?

 


21 komentar:

  1. Seru sekali ya dan setuju banget nih soal buku adalah jendela dunia apalagi disaat pandemi seperti sekarang ini, jadikan buku sahabat kita. Saya juga pengen bangetz berkunjung ke perpustakaan yang ada di seluruh dunia, seru kayaknya ๐Ÿ˜

    BalasHapus
  2. Anak saya suka banget kalau diajak ke perpustakaan. Kalau ke CFD, betah ga bisa beranjak dari lapak buku yg bersetakan di tanah lapang. Itu sebelum pandemi, memang.

    Saya penasaran dengan kontributor Taiwan, siapa dan perpustakaan mama yg diceritakan dalam buku ini. Sudah lama saya tidak update tentang Taiwan, setelah 12 tahun saya tinggal di sana...

    BalasHapus
  3. Alhamdulillaah aku sekeluarga termasuk orang2 yang gemar membaca buku. Memang sih mungkin masih menjadi angan2 ketika kita baca traveling ke berbagai belahan dunia atau kegiatan lainnya. Namun hal itu bisa memicu kita bersemangat menggapai impian bisa menjadi nyata.

    BalasHapus
  4. Duh jadi kangen ke perpustakaan lagi hehe, terakhir keperpustakaan itu pas lagi cari bahan buat skripsian. Mau kesana lg eh keburu terhalang sama virus corona ini. Semoga lekas pulih biar bisa marn ke perpus lagi ;)

    BalasHapus
  5. suka banget ke perpustakaan. berasa surga dunia liat banyak buku dan pengen tinggal di situ aja seharian baca buku kalo bisa :D

    BalasHapus
  6. Saya rencananya juga tadinya begitu. Mau mulai berkunjung ke berbagai perpustakaan. Sayang aja keburu ada Corona. Sekarang kayaknya makin asik main ke perpustakaan

    BalasHapus
  7. Keren ya Finlandia. Pekerjaan para pustakawan sudah dibantu oleh robot. Mungkin ini juga ya yang membuat pendidikan di Finlandia termasuk bagus, sebab urusan perpustakaan saja sudah secanggih itu.

    Penerbitnya Wonderland Publisher. Wow. Ini dari komunitas keren nih.

    BalasHapus
  8. Jadi kayak travelling ya mak๐Ÿ˜
    Seneng kalau baca cerita berbagai negara ini ๐Ÿ˜
    Bisa bikin kita tahu, ternyata ya banyak sekali indahnya dunia luar

    BalasHapus
  9. Ingat Perpustakaan pasti langsung ingat juga ke masa kecil hingga remaja, yang selalu punya jadwal rutin untuk ke PU sekitar 2 kali seminggu. Bisa berlama-lama disana karena PU jadi tempat paling asik, dan bisa bawa saya untuk "Keliling Dunia" walau hanya dengan membayangkannya saja. Hal itu juga yang bikin saya ingin punya Perpustakaan sendiri walau mini di rumah, untuk Keluarga terutama Anak-anak.

    BalasHapus
  10. Bukan main, perpustakaan di 23 negara.... salah satu me time yang paling asyik menurutku di perpustakaan :)

    BalasHapus
  11. Setelah menyimak review Evi, sepertinya buku ini menarik. Karena mengekspos perpus-perpus di luar negeri. Tapi saya tidak ingin membacanya. Karena saya takut jadi iri kepasa negara lain yang budaya perpustakaannya bagus-bagus.

    Di dekat rumah saya ada perpustakaan milik pemerintah provinsi. Sebetulnya senang karena di sana anak saya bisa membaca gratis. Tapi saya tidak suka tempat itu. Sebab pegawai-pegawainya judes-judes.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bsa jadi perbandingan buat perpustakaan di Indonesia menurutku Kak Vicky

      Duh kalo judes gitu jadi bikin ngga terlalu semangat ke perpustakaan yah

      Hapus
  12. Buku yang menarik mba, apalagi tentang perjalanan jelajahi perpusatakaan di 23 negara. Aku mau cari bukunya, biar anak-anak baca. Soalnya sampai sekarang ga pernah aku ajak ke perpusatakaan, kecuali disekolahnya.

    BalasHapus
  13. Keren yaah kak ternyata, aku aja paling perpus kampus aja haah. Jadi inget aku mau ke Perpusnas belum kesampen sampek sekaraang heuu :(

    BalasHapus
  14. Ini merupakan salah satu keinginan terbesar saya juga mengunjungi perpustakaan-perpustakaan di negara lain. Dan yakin bakalan nggak mau pulang soalnya sejak kecil udah suka banget main ke perpus.

    BalasHapus
  15. Aku suka banget ke perpustakaan termasuk perpustakaan pribadi teman-temanku hehe. Jadi terinspirasi buat ke perpustakaan tiap ke suatu daerah. Makasih idenya, Teh :)

    BalasHapus
  16. Yg dikangenin anakku selama pandemi ini adalah berkunjung ke perpustakaan anak. Btw,buku ini bisa dibacakan juga untuk anak2?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga Mbaaak huhu.

      Bisa banget mulai usia 5 the ke atas

      Hapus
  17. wah bukunya bagus ya, cuma sayangnya anak2 aq pd gak suka membaca

    BalasHapus
  18. Wah bagus neh kyknya bukunya. Bisa jado referensi bacaan saat di rumah aja kayak saat ini.

    BalasHapus
  19. Jadi kita berpetualang ke perpustakaan. Perpustakaan makin maju dan canggih. Ah, andai di Indonesia pakai robot juga. Dengan begitu minat baca akan bertambah.

    BalasHapus