Ads 468x60px

Rabu, 15 Juli 2015

Cerita dari Bumi Khatulistiwa #3 : Makin Cinta sama Kamu!

Bismillahirrahmanirrahim.
Kembali lagi di serial cerita backpacker Visya di Pontianak. Mau baca cerita sebelumnya?

Cerita dari Bumi Khatulistiwa #2 : Pontianak, I am In Love!

Cerita dan Bumi Khatulistiwa #1 : Selamat Datang di Kota P Pulau K, Muslimah Backpacker!

Sabtu, 9 Mei 2015

Huaah setelah bergelut dengan ‘ketegangan’ di hari Jumat, akhirnya refreshing juga. Yap, hari ini aku dan teman-teman finalis lainnya bakal diajak keliling Pontianak dalam agenda field trip. Yuhu! It’ll be very fun, of course

Pukul 06.00 panitia udah ngetok-ngetok pintu, mengingatkan jam 06.30 kita kumpul di ruang tengah. Aku pribadi udah bangun dari azan subuh. Anw aku kan disini tidurnya di ranjang bertingkat dan aku persis di atasnya Rona, ngeri ngeeri gimana gitu tiap naik atau turun tangga. -____-

Kita start dari penginapan sekitar pukul 08.00 WIB. Oh ya, WIB loh ya. Sempat ada finalis lain mengira dimensi waktu kita udah berubah ke WITA. Ngga kok, ngga, kita masih di dimensi waktu berbeda walau dimensi ruang berbeda :’) #apalahaku

Tujuan pertama kita adalah...TUGU KHATULISTIWA. Waah penasaran rupanya seperti apa..

Sepanjang perjalanan kami sibuk bercerita, ngebaur banget deh peserta dan panitia. Oh ya kami melewati namanya Stasiun Negara. Wah aku abru ingat kalo Kalimantan Barat ini berbatasan dengan negara tetangga alias Malaysia.

“Jadi kita bisa naik bus ke Malaysia?” tanyaku pada Liani, salah seorang panitia.
“Oh iya bisa. Tapi harus pakai pasport.”

Waaah kalo tau gitu aku bawa pasport deh.. Trus Liani mulai bercerita tentang pengalamannya menjadi jurnalis di perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia. Tentang perjuangannya dia berbaur dengan TKI disana, tentang dia yang nyaris ketahuan tentara perbatasan dan lain-lain. Asliii seru deh!
Kami juga melewati Jalan Khatulistiwa. Well sebenarnya pengen turun dan berfoto disana tapi ga enak lah, cuman aku doang. Hingga akhirnya tiba juga kami di Tugu Khatulistiwa. Hawa panas mulai begitu menyengat walaupun saat itu masih jam 09.30 WIB.

Kami masuk ke dalam museum, melihat beragam diorama dan pameran lainnya. Tentang makna Kota Khatulistiwa, dll. Well dulu aku sempat berpikir kota Khatulistiwa adalah Palu di Sulawesi Tengah, ternyata Pontianak, eh walau sebenarnya Palu termasuk juga tapi yang tepat berada di garis khatulistiwa ya Pontianak. Tepat di 0 derajat!


Puas mengorek informasi dan berfoto narsis, kami diajak ke sebuah tempat. Dan ternyata itu adalah tepi sungai Kapuas. Huaaa. Hmm sayangnya warna airnya kecoklatan gitu, atau memang sungai warnanya gitu? Entahlah *dasar anak Kota -___-

Oh ya, menurut informasi yang kudapat letak 0 derajat setiap beberapa tahun sekali bergeser. Dan tahun ini adalah pergeseran signifikannya. Makanya mulai dibangun tugu baru di luar museum letaknya. Hmm gitu toh.

Dari Tugu Khatulistiwa, kami beranjak ke Museum Kalimantan Barat. Sayangnya begitu tiba disana ternyata sudah ajm istirahat, jadilah kami ikut-ikutan istirahat. Anw selama di pontianak kami dikasih makan ayam mulu, wkwk. Kami lunch bareng lesehan di depan museum. Setelah itu, kami sholat. Paca sholaty tetiba aklu ngidam jajanan di samping museum. Eh ternyata Anggi dan Uswah juga.
“Kamu ndak bilang mau jajan, saya juga mau.” Kata Anggi. Kami pun jajan berdua.

Wah sisa tinggal sosis, harganya Rp 2500/buah, lumayan mahal juga, menurutku yang jarang jajan, hehe. Sementara Uswah membeli es campur, harganya sekitar 5000 rupiah kalo ga salah.

Tengteng, museum dibuka. Cukup dengan Rp 700/orang saja kami sudah bisa mendapatkan pemandau dan berkeliling museum yang tampak gelap, wowow. Ngomong-ngomong aku sempat lihat diorama penjelasan tentang Kuntilanak gitu. Lah iya, jangan-jangan ada hubungan antara Pontianak dan Kuntilanak?

Sebenarnya aku ga terlalu suka sejarah tapi rasa kepoku lebih ebsar dari rasa tidak sukaku, kudengarkan penjelasan pemandu kami. Di lantai 2 ada pameran baju adat KalBar, pelaminan ala Kalbar, prosesi kelahiran hingga prosesi kematian yang cukup bikin waswas ditambah suasana yang begitu gelap.  Jadi dulu itu penduduk KalBar dibunuh massal hingga tak tersisa penduduknya kemudian orang-orang dari Jawa berdatangan kesini makanya banyak juga suku Jawa mendiami daerah ini.

Lumayan lama kami di museum, sampai-sampai museum menunda penutupan karena masih ada kami. Pasalnya di weekend mereka Cuma buka setengah hari. Oke, selanjutnya kita kemana?

Rumah Radankg. Itu loh, rumah adat suku Dayak. Begitu tiba di sana, ternyata di bagian bawah lagi ada pameran batu mulia. O-M-G -___- Kami langsung naik ke atas. Wah kukira rumahnya dibuka, ternyata ditutup. Ngga apa-apalah, cukup puas menikmati pemandangan Pontianak dari atasnya.

Oia di sebelah rumah Randankg ada rumah Melayu, kirain bakal kesana, ternyata ngga karena hari semakin gelap. Well, gapapa, i think i still have time enough. Dari rumah Radankg kami segera menuju Masjid Raya Pontianak untuk menunaikan shalat ashar. Kalo kemarin, kami kemari dalam ekadaan gelap, nah sekarang versi terangnya. Waah bagusnya masjid ini. Lagi ada yang resepsi juga di aulanya. Btw saking lelahnya, aku sempat ketiduran di masjid ini saat menunggu adzan ashar, :’D
Kukira dari amsjid, kami langsung kembali ke asrama. Ternyata kami masih dibawa pergi. Kali ini ke tempat yang akan ‘menguras’ habis-habisan (?). Yap apalagi kalo buka pusat oleh-oleh. Duh lupa apa nama tempatnya -___-

Dalam hati aku bertekad untuk tidak menghabiskan uang lebih dari 100.000 rupiah untuk oleh-oleh makanan. Dan..berburu pun dimulai! Makanan yang terkenal disini adalah olahan khas dari lidah buaya. Well seumur-umur aku belum pernah makan lidah buaya, kalopun pernah, cuman buat rambut, haha. 

Ada nata de coco lidah buaya, manisan lidah buaya, dll. Aku memilih nata de coco, dodol dan beberapa snack. Cukup menguras, aku habis 78ribu rupiah~

Di sebelah toko makanan ada toko baju, mampir ah. Wah aku naksir rok batik pontianak, tapi harganya mahal, 100.000 rupiah T_T padahal aku mau beli 3, buatku, saudariku dan ibuku. Akupun minta tolong sama panitia buat ditawarkan. Ya biasanya kalo sama orang lokal, bisalah kasih murah. Eh etrnyata penjualnya teteup kekeuh tak terbantahkan, huhu.

Aku beralih ke gantungan kunci. Niatnya mau beli banyak kayak pas di Jogja. Tapi olala ternyata harganya per buah 2000 rupiah, cukup mebnguras ya, heemm.. Alhasil aku Cuma beli 3 buah aja. Eh ada gelang juga tapi lagi-lagi harganya kemahalan, haha, dasar otak ibu-ibu. Yang lain masih pada sibuk belanja, apalagi Rona dari IAIN Palembang. Secara dia dapat uang saku ratusan ribu rupiah :’)
Oia tadi pas lunch, Uswah sempat bilang dia ga bisa terus-terusan makan ayam, alhasil panitia nawarin kita menu lain.

“Disini ada yang mau beli kwetiauw?”
Nah kukira pada mesen semua, ikutlah aku pesan, kasih uang 25ribu.
“Sudah puas belum belanjanya?”
“Sudah...” kata peserta lain. Kami langsung kembali ke asrama, secara mulai kelelahan juga.

Begitu tiba di asrama, ternyata kwetiauw pesanan kami sudah datang. Ternyata yang pesanan kwetiauw hanya aku, Uswah dan Anggi. Aku mulai membukanya dan....jengjeng..

BANYAK BANGET. Asli banyak banget satu porsinya. Udah gitu pake daging kambing, aku ga suka daging kambing =_= Aku dan Uswah pun mulai memakan kwetiau kami, sementara yang lain masih pada asyik ngobrol di ruang tengah. Kusingkirkan lamb dan mulai memakan. Tetiba Liani masuk ke kamar dan mulai curhat seperti biasa. Kali ini tentang percintaannya, ciee :D

Lama-lama eneg juga makan kebanyakan, teman-teman lain mulai kembali ke kamar dan akhirnya ada juga yang ngebantuin aku dan Uswah makan, haha. 

Waah tak terasa malam ini malam terakhir kita bersama :’) Niat hati mau nobar tapi rasa lelah mengalahkan segalanya, haha. Have a nice sleep, friends. See you tomorrow ;)

Baca cerita selanjutnya disini:
Cerita dari Bumi Khatulistuwa #4: A Moment To Go

0 comments:

Posting Komentar

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!