Tanya Jawab Seputar Pengalaman Ta'aruf-ku dan Contoh Studi Kasusnya (Bagian 1)

 

Tanya Jawab Saat Taaruf


Pengalamanku melakukan ta'aruf membuatku ingin terus berbagi soal ta'aruf. Akupun beberapa kali menerima beragam pertanyaan tentang ta'aruf khususnya dari para muslimah yang sedang (menuju) melakukan hal tersebut.

Dalam hal ini posisiku sebagai seorang perempuan yang diajak menikah oleh lelaki yang belum pernah kukenal sebelumnya, meskipun kami ada beberapa kesamaan circle pertemanan.

Oh ya soal ta'aruf itu apa dan bagaimana, pernah aku bahas disini secara visual, dan lengkapnya disini.

Berikut beberapa pertanyaan umum yang sering ditanyakan dan studi kasus. Aku jawab sesuai pengalaman & kondisiku waktu itu, meskipun mohon maaf, untuk detail, tidak bisa benar-benar membeberkan.


1. Apakah ini pengalaman pertama melakukan ta'aruf?
Ya. Sebenarnya pernah nolak pas ditawarin dulu banget tengah-tengah kuliah. Langsung nolak aja gitu tanpa mau tau namanya.

Qadarallah saat suamiku ngajak ta'aruf, sebenarnya aku sempet mau langsung nolak. FYI, yang waktu itu jadi perantara adalah temen kami (seniorku & juniornya di organisasi) atas permintaan (calon) suami. Tapi perantara kami menyuruh aku istikhoroh terlebih dahulu.


2. Apa yang dilakukan ketika memutuskan untuk menerima ajakan taaruf/lamaran selain istikhoroh?
Di saat itu aku berusaha mencari benang merah kejadian-kejadian yang menimpaku sejak awal tahun itu dan doa-doa yang belakangan sering kupanjatkan. Aku berusaha mencari hikmah & benang merahnya, apakah ada? Mencari bukan mencari-cari (dibuat buat๐Ÿ˜…).

Sampai pada suatu kesimpulan, insya Allah ini adalah solusi atau cara Allah menjawab doaku. Kuputuskan terima ajakan taarufnya. Dalam hal ini, aku baru menerima untuk mengenal lebih jauh, belum tentu menerima lamarannya.

Tak lupa aku juga memberitahu orangtuaku, ada yang mengajak ta'aruf, sebelum aku memutuskan menerima ajakannya atau tidak.

Baca Juga: Segalanya Masih Bisa Berubah

3. Apakah memlih calon suami harus yang sama passion-nya?
Sebenarnya yang menyatukan bisa banyak hal, ngga mesti passion sama. Yang utama, agamanya. Perempuan dinikahi karena agamanya, laki-laki pun juga demikian. Barulah merembet ke hal lain seperti kesamaan tujuan hidup, penerimaan oleh masing-masing keluarga,  sifat dan karakter yang sekiranya bisa saling melengkapi, dan lain sebagainya.

4. Ketika melakukan ta'aruf, bagaimana bisa yakin dia jodohmu? 
Sejujurnya aku dan dirinya belum pernah ketemu maupun kontak-kontak-an sebelumnya jadi belum ada bayangan dia seperti apa. Nah barulah pas tukar CV, baca semua tentang dirinya. Passion kami kurang lebih sama,  khususnya di bidang literasi, keilmiahan & pendidikan. Itu juga yang menjadi awalan dia "mendatangiku". Aku pun merasa ada keyakinan padanya. Baru merasa-rasa yakin lho belum yakin-yakin banget.

Barulah saat dia datang ke rumah, semacam "dibisikkan" oleh Allah "Dia lho jodohmu". Bagi orang yang belum pernah menikah atau belum pernah ta'aruf, mungkin terlihat absurd ya. Akupun pernah berada di posisi mereka ketika mendengarkan cerita temenku begitu. Eh,  ngerasain sendiri pas giliranku.

Selain itu juga aku lihat perjuangannya demi bertemu orangtuaku pasca lebaran. Saat itu dia dari Sulawesi, sampai harus rela lebaran di kampung temennya di Jawa, supaya hemat ongkos. ๐Ÿ˜…

Lalu saat bertemu langsung, baru Allah kirimkan semacam sinyal di hati. Kecenderungan pada dirinya. Oh ya trus prinsipku juga saat itu, salah satu hadits nabi kurang lebih isinya.
"Jika ada lelaki shalih yang kau ridhoi agama & akhlaknya, janganlah kau tolak..."

Ini pemaknaannya bisa luas. Ngga berarti "yang penting Islam" lalu diterima begitu saja. Memilih yang sama-sama beragama Islam itu penting, namun Nabi menyuruh menerima yang kita ridhoi, artinya yang kita setuju/sepakat dia memenuhi kriteria kita.

Baca Juga: Kala Jumpa Pertama

5. Apakah memang sudah ada rencana menikah di tahun itu?
Keputusan menikah adalah keputusan yang sangat menggolakkan batinku, mengingat posisi dan berbagai permasalahan yang kuhadapi sejak awal tahun itu. Sejujurnya ngga pernah kepikiran nikah di tahun itu.

6. Pernah galau saat memutuskan untuk ta'aruf/menikah?
Pernah. Aku pernah merasa  galau menerima ajakan taaruf atau ngga, dan saat menerima lamarannya atau ngga, berakhir dengan tangisan, takut salah ambil keputusan, takut mengecewakan banyak orang. 

7. Pernah merasa ragu karena asal daerah berjauhan dan perbedaan usia? 
Aku sama doi juga beda domisili, beda pulau juga. Beda usia beberapa tahun. Sebenarnya dulu aku berdoa agar jodohku beda 1-2 tahun eaja. Eh tapi pas menjalani prosesnya (terima ajakan taaruf), aku melupakan perbedaan geografis & usia itu. Udah bukan masalah lagi. Kupikir Allah  sengaja kasih yang usianya beda d atasku, karena tahu aku kadang masih childish, harus yang jauh lebih dewasa yang memimpinku. 

Dewasa bukan soal usia aja, memang, selain itu bisa juga lihat dari pengalaman hidupnya yang menimpanya yang berpotensi membuatnya bisa berpikir lebih jauh dan dewasa.

8. Apakah laki-laki yang datang mengajak menikah bisa jadi sebuah godaan?
Sebenarnya aku sempat berpikir demikian di awal. Mengingat saat itu aku masih kuliah, belum lulus. 
"Ah jangan-jangan dia hadir buat mengujiku apakah aku mau fokus skripsi atau nikah?"
Tapi aku menyesal telah berpikir begitu...

Kehadiran laki-laki yang mengajak nikah, menurutku bukanlah godaan iman, sebab muaranya pernikahan. Menurutku godaan iman itu semasa single, ada laki-laki bilang memilih kita tapi kita disuruh nunggu tanpa kejelasan waktu.


Studi Kasus
8. Ada seseorang di masa lalu, kembali. Menawarkan hubungan pernikahan, apa yang harus dilakukan?
Kalau aku jadi kamu, mungkin yg pertama kulakukan, mereview kembali orang tersebut. Apakah orang ini secara agama udah baik? Karena kita mengenalnya lebih lama, tentunya sedikit banyak kita tahu seperti apa agamanya (sholatnya apakah berjamaah tidak, tepat waktu tidak, dan lain-lain).

Kita harus bisa menyelisihi (membedakan) mana  hawa nafsu, mana kecenderungan hati karena iman.

Jangan sampai kita tergerus nafsu, jadi berpikir ah mumpung dia sudah balik ke kita, terima ajalah~ don't let it happen :')

Apakah dia tahu ada orang lain yg juga datang? Jika ya, bisa jadi dia mengubah pikirannya dan "kembali" lantaran takut kehilangan atau gengsi maskulinitasnya. Wallahu'alam.

Baca Juga: Perempuan Butuh Kepastian

9. Apakah salah wanita memberi penegasan-penegasan tertentu di awal untuk memastikan kembali niat si lelaki? Seperti misalnya, saya masih kuliah, apakah sanggup membantu saya lulus kuliah? Saya masih terikat kerja, apakah bisa LDR atau mengikuti saya?

Menurutku yang kamu lakukan sudah tepat, memberi penegasan di awal. Meskipun ada orang-orang tertentu ketika diberi penegasan menganggapnya seperti diragukan atau bahkan membuatnya ragu (kalau pada akhirnya dia memang ngga masalah dengan hal itu, dia akan kembali dengan yakin).

Yakinkan dirimu, kamu tidak perlu merasa bersalah atas apa yg udah kamu katakan. Nothing to lose. Kalau dia kembali dan tetap yakin, mari dilanjutkan, semoga Allah lancarkan. Jika dia bilang tidak yakin, baiklah sampai disini. Yakinkan dirimu, "aku tidak merasa kehilangan. Karena kita tidak saling menjanjikan (apapun), apalagi memiliki."

Definisi kehilangan adalah rasa yang timbul karena sesuatu yang kita miliki lenyap.

Tidak perlu juga ilfil atau suudzon, barangkali dia memang punya hal-hal lainnya yang kamu ngga tau yang tiba-tiba membuatnya harus mengambil keputusan itu. Mungkin klise, tapi percayalah.. Jika memang ia jodohmu, dia akan kembali, sejauh apapun ia pergi. Jika bukan jodohmu, bagaimanapun ikhtiarnya, tidak akan Allah persatukan.


Demikian tanya jawab yang sering kuterima selama menerima konsultasi pra nikah. Bagi teman-teman yang ingin sharing denganku seputar persiapan nikah atau apapun berkaitan dengan pra nikahz my pleasure, aku akan senang hati. Insya Allah keamanan terjamin. Sst, ini bukan menawarkan jasa lho. Free.

Menikah bukanlah kompetisi siapa cepat dia menang. Namun ketika kecenderungan hati sudah ada, bersegeralah. Jika belum siap, berpuasalah. Hanya kamu yang paling paham dirimu.

Coba deh baca dan resapi ini dengan mindfulness (penuh kesadaran).

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku” – Umar bin Khattab

0 komentar: