Tampilkan postingan dengan label Marriage Edition. Tampilkan semua postingan

Tips Komunikasi Efektif Suami Istri dan Pembagian Peran dalam Rumah Tangga



Sebagai seorang introvert, dulu nyaris ngga pernah terbayangkan bagaimana ketika menikah, hidup dengan orang lain. Bagaimana berkomunikasi? Dan lain sebagainya. Setelah menikah, barulah semua terpampang nyata di hadapanku. Apalagi aku dan suami belum pernah berkomunikasi sebelumnya. Tentunya menjadi tantangan bagi kami.

Belum lagi "sifat bawaan" wanita yangsuka mmmerajuk dan pembawa kode-kode layaknya pramuka. Duh duh duh, apakah Moms juga demikian?

Temen Kondangan: Ketika Kerusuhan di Kondangan (Mantan) Berbuah Hikmah





Kalau sebagian orang bilang, masa SMA paling berkesan. Bagiku?  Masa kuliah, masa penuh kisah. Unforgettable!

Di tahun pertama dan kedua, fokus di organisasi, akademik dan perlombaan karya tulis ilmiah. Di tahun ketiga, mulai magang ngajar di Sekolah sambil nyusun proposal skripsi. Di tahun ke-empat, mulai deh dapat kiriman undangan pernikahan. Ups!

Memaknai Romantisme Rumah Tangga dari Film 3 Dara 2


Sebagai seorang parenting and marriage enthusiast aku selalu tertarik pada hal-hal berkaitan dengan dunia pengasuhandan  rumah tangga. Buku yang kubaca maupun film yang kutonton ngga jauh jauh dari itu. Menurutku keduanya bermanfaat banget untuk aku dalami, secara sesuai banget dengan posisiku sebagai orangtua dan istri dari seorang suami.

Nah, beberapa hari lalu aku mendapatkan kesempatan buat nonton film 3 Dara 2. Lantas apa hubungannya film ini dengan niche-ku: marriage enthusiast. Eits tentu ada dong! Yuk simak review  no spoiler dariku. Ngga nyesel deh!

Dont worry, Just Marry! (Jangan Panik, Nikah Aja!)


Nikah? 
Browsing instagram,  isinya foto orang nikah. Pindah ke Facebook,  isinya foto orang honeymoon.  Ga punya rasa jomblo-wi ya! 

Eits ngga usah galau bin dilema gitu,  bro 'n sis. Sebab pernikahan itu bukan untuk digalaukan,  menghabiskan waktu dan tenaga tapi untuk DIPERSIAPKAN. Nah lho,  gimana mempersiapkannya ya?  

Kala Jumpa Pertama



Bismillahirrahmanirrahim
Visya, jadi kapan mas Andi boleh datang ke rumahmu? Doi udah bertanya-tanya nih hehe.

Sebuah chat dari Mbak perantara menyapaku. Akupun membalasnya.

Sebentar ya Mbak, belum ada jawaban dari bapak.

Sepekan setelahnya..

Mbak, tolong bilang ke mas-nya, datang ke rumahku. Ditunggu tanggal (3^2 + 0! + sin 30’- v1/4) – 07 – 16, pukul (3^2 + 0! + sin 30’- v1/4).07 WIB.
No online transportation.

Setelah sekitar sepekan menggantung pertanyaan si mas calon suami, akhirnya keluarlah waktu yang dinanti olehnya (dan aku juga hehe). Yap aku sengaja menuliskannya dalam bentuk rumus. Coba tebak jawabannya tanggal berapa? hehe. Dan ya, aku mensyaratkan dirinya tidak boleh menggunakan kendaraan online atau yang bersifat mengantar pribadi. Bermodalkan alamat dan rute kendaraan umum yang kukasih saja.

Saat itu aku tak tahu bahwa ternyata beberapa hal ia korbankan demi menemui aku dan orangtuaku.. :')

Datangnya Tak Terduga Tapi Tandanya Nyata (Marriage Edition by VisyAndi)


Bismillahirrahmanirrahim..
Lama rasanya ga nulis tema marriage, kebanyakan tentang parenting. Maklum aja, tuntutan 'profesi' hehe. Tulisan ini terinspirasi dari kunjungan dua orang ukhti ke rumah, yang sempat 'menginteregoasi' 😅 Selamat membaca!

Menikah. Pernikahan. Rumah Tangga. Rasanya sebagian besar perempuan single usia 20-25 tak pernah bosan membahas tema ini--atau setidaknya pernah sekali membahas tema ini. Termasuk diriku. To be honest, saat SMP aku pernah punya pikiran
"Aku ga mau nikah ah.." entah mengapa, tanpa alasan yang jelas (alhamdulillah Allah ga mengijabahnya 😅).

Berbicara tentang pernikahan juga, tidak jauh-jauh dari target pernikahan; mau nikah usia berapa? Kalau targetku sendiri....

Akhirnya (Setengah) Aku Berada di Perbatasan RI-Malaysia!


Bismillahirrahmanirrahim..
Setiap manusia berhak untuk menuliskan rencana dan target-target hidupnya. Tapi pada akhirnya Allah lah yang berhak mengedit dan mengeksekusinya di akhir. Sebagaimana yang terjadi dalam hidupku.. Kembali kucoba tuangkan kisah dalam secarik kertas menggunakan tinta-tinta kenangan. Semoga ada hikmah yang terkandung di dalamnya.

Agustus 2016
Pada suatu hari, sekitar dua pekan sebelum pernikahanku, Mbak Ila, Mbak perantara kami, meng-chat-ku.
“Tolong tanyakan Visya, dia lebih suka pergi Nunukan atau NTT?”

Tak perlu waktu lama bagiku mengetahui itu adalah pertanyaan dari kak Andi yang diajukan untukku melalui Mbak Ila. Yap beginilah cara kami berkomunikasi, selain di grup Whatsapp yang diisi olehku, Kak Andi, Mbak Ila dan saudariku. Namun untuk hal-hal yang bersifat privasi biasanya CPP (Calon Pengantin Pria) akan menjapri Mbak Ila untuk diteruskan padaku.

Tunggu.. Mengapa Kak Andi mengajukan pertanyaan ini padaku? Saat itu aku sungguh tak mengerti maksudnya. Meski aku tahu Nunukan dan NTT adalah dua dari beberapa daerah penempatan guru konsultan oleh sebuah NGO di bidang pendidikan. Itupun kuketahui bukan dari ia bercerita langsung, melainkan di tahun 2015, setahun sebelum aku mengenalnya, lewat kenalan-kenalanku yang terlibat di dalamnya. Jadi, apa maksudnya ya?

Tanpa berniat bertanya balik, akupun langsung menjawab.
“Nunukan. Sebatik. Sekolah Tapal Batas.”

Dari CV, Lanjut ke Janji Suci, Baru Turun ke Hati (Marriage Edition)


Bismillahirrahmanirrahim..
Siang ini saat aku tengah asyik mengeksplor Instagram, mataku tertumbuk pada sebuah postingan sebuah akun dengan hashtag #DariCVTurunKeHati. Waaah.. apa yaa maksudnya??

Segalanya Masih Bisa Berubah… (Marriage Edition)


Pernahkah ga sih kamu membuat jadwal harian atau janjian sama seseorang tapi tiba-tiba karena satu dan lain hal jadwal tersebut tidak terlaksana sesuai rencana atau janji tersebut harus dipending atau bahkan dibatalkan? Sepertinya sebagian besar dari kita (tentu) pernah yaa..

Nah di postingan kali ini aku akan sedikit share tentang “Segalanya masih bisa berubah”. Ehm, lebih menjurus ke tentang pernikahan sih, hehe. Sebelumnya aku ingin mengawali sebuah kisah. Kisah ini kudapatkan beberap hari lalu dari seorang yang mengalaminya secara langsung, sebut saja Ukhti A. Mari kita simak kisahnya…

Pengganti Untuk Yang Pergi, Pengganti Untuk Membersamai


Awal tahun 2013
Ini memasuki semester ke-empat masa-masa warna-warni alias dunia kuliahku. Di saat-saat ini aku sedang merasakan momen-momen penuh semangat, di luar akademik yang mulai kian menantang; mengikuti beragam konferensi dan kompetisi, bergabung di organisasi jurusan. Dan tentuny aku mulai terbiasa dengan jalur perjalanan rumah-kampus-rumah selama 4-5 jam. Tak seperti memasuki semester pertama yang rasanya sekujur tubuh kerap memberontak. Aku bahagia? Tentu saja.

Yang lebih membahagiakan adalah bertemu dengan teman-teman sevisi misi di dunia keilmiahan, dunia yang sudah kucemplungi sejak masa putih abu-abuku. Salah satu dari mereka kupanggil Kak Fitri, Pendidikan Biologi 2009. Kampus MIPA menjadi tempat mula kami dipertemukan. Di sini pulalah perjuangan kami di bidang keilmiahan dimulai dan menjadi saksi olehnya. Saat itu Kak Fitri sudah satu tahun diamanahi sebagai Ketua Umum Science Club FMIPA. Akupun tercatat sebagai anggota baru disana.  Ia menjadi orang terdekatku di MIPA. Seorang kakak yang selalu menopangku kala lelah, menjadi penguatku kala lemah, menjadi penyemangat atas segala perjuangan yang sempat ingin kuakhiri...