Ads 468x60px

Kamis, 28 Juni 2018

Penerapan Sekolah Ramah Anak: Dari Tawuran, Jadi Persahabatan

sumber: shutterstock

Sekolah adalah rumah kedua bagi seorang anak. Bayangkan, setidaknya 4-8 jam dihabiskan anak di sekolah. Tentu tergantung dari grade anak. Semakin tunggi kelasnya, semakin banyak waktu yang dihabiskan di sekolah. Maka sudah selayaknya sekolah menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. 

Tapi nyatanya di Indonesia masih banyak anak merasa "Sekolahku Nerakaku". Mengapa? Tentu ada banyak sebab di baliknya. Salah satunya adalah senioritas di sekolah, khususnya SMP-SMA. 

Untuk itulah muncul istilah Sekolah Ramah Anak. Apa itu Sekolah Ramah Anak?


Yakni sekolah yang memperhatikan kebutuhan anak/siswa, tanpa menimbulkan kecemasan daa ketakutan pada diri siswa. Kali ini saya mau berbagi pengalaman seorang kepala sekolah yang menerapkan Sekolah Ramah Anak di sekolahnya. Beliau adalah Ibu Ratna Budiarti yang kini menjabat Kepala sebuah SMA Negeri di Jakarta. 

Berawa pada tahun 2014 saat masih menjadi kepala SMA 29 Jakarta beliau bersama komponen guru dan orangtua menjamah wilayah 'hitam' yakni tempat sering terjadinya perundungan (bullying) hingga akhirnya terwujud Sekolah Ramah Anak. Prestasi itu membuat SMA 29 dikunjungi menteri pendidikan dari negara lain.

Kemudian pada 2015, beliau dimutasi ke SMA lain yang terkenal penuh konflik dan berita negatif. Bagaimana tidak? Sebelumnya setidaknya 4 kepala sekolah (kepsek) dimutasi. Beragam kasus hadir seperti munculnya peraturan kakak kelas yang melarang para junior menikmati fasilitas tertentu, bahkan hingga aksi kekerasan. Orangtua umumnya tidak tahu, karena anak tak berani melapor. Kalaupun ada orangtua yang tahu, kebanyakan mereka memilih bungkam karena ingin anaknya tetap bersekolah di SMA unggulan tersebut.

Beliau berpikir, tugas utamanya adalah MEMUTUS mata rantai senioritas. Lantas apa yang dilakukan pertama kali?

Pertama, membuat deklarasi bersama semua pihak yang terdiri dari guru, staf/karyawan dan orangtua murid untuk melawan perundungan.

Selanjutnya beliau bersama pihak yang terlibat dalam deklarasi menggagas GENAB (Gerakan Anti Bullying) yang berisikan psikologi alumnus UI & Universitas Trisakti yang juga alumni dari sekolah tersebut.
international students read the books
sumber: shutterstock
Apa yang ingin dicapai?

Anak berangkat bahagia, pulang pun bahagia. Artinya, anak dilepas (berangkat) oleh orangtua dengan senyuman, pelukan dan sarapan. Para guru menyanbut di gerbang dengan sukacita. Pun ketika pulang dilepas oleh para guru dalam keadaan bahagia.

Selanjutnya, sosialisasipun dilakukan pula pada guru dan karyawan mengenai hak anak. 
Breakfast. One line drawing
sumber: shutterstock
Sekolah Ramah Anak memang fokus pada penghapusan tindak perundungan, tapi Ibu Ratna dan tim juga peduli masalah gizi pada anak didik. Ada istilah sekolah standard gizi, artinya sekolah yang memperhatikan kebutuhan gizi peserta didik. Dalam mewujudkan Skolah Standar Gizi, beliau bersama tim mengundang tim Kemenkes untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya sarapan sehat bagi anak. Bukan sekedar banyak nasi yang mengindikasikan banyak karbohidrat terserap. Hal itu justru membuat anak cepat mengantuk di atas jam 9 pagi.
Students stand in line to receive food in the school cafeteria.
sumber: shutterstock
Langkah riil selanjutnya, beliau juga secara berkala mengadakan program sarapan bersama seluruh komponen sekolah.

Selain sekolah standar gizi, beliau juga menggalakkan program sekolah sadar hukum. Diundanglah pihak Kejaksaan Agung dalam Hari Anti Korupsi untuk mewujudkan Sekolah Sadar Hukum. Goalnya, seluruh elemen sekolah teredukasi soal tindak pidana dan sanksinya sehingga mencegah terjadinya hal tersebut karena adanya kesadaran diri.

Ada pula gerakan Kantin Kejujuran, yang mungkin sebagian dari kita pernah mendengarnya. Ya, kantin kejujuran merupakan program jual beli dimana siswa membeli apa yang dijual kemudian membayar dan mengambil kembalian sendiri. Program ini efektif melatih kejujuran dalam diri siswa.

Semua program-program yang dugagas semata-mata diklakukan untuk menunbuhkan karakter dalam diri ssiwa khususnya soal solidaritas sehingga yang tadinya predikat jago tawuran menjadi hubungan persahabatan.

Ide-ide di atas menurut saya sangat aplikatif bagi sekolah-sekolah lainnya. Semoga saja semakin banyak para penggerak Sekolah Ramah Anak, pun kian terwujud Sekolah Ramah Anak di Indonesia. 

1 comments:

  1. Aku nggak nolak sekolah disini walaupun bayarannya tinggi, soalnya.. aku korban bullying dulu T_T

    BalasHapus

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!