Tujuh Langkah Awal Meringankan Isi Rumah Untuk Hidup Minimalis


Gaya Hidup Minimalis

Menjalani hidup dengan ringan, siapa yang tak ingin? Bukan berarti bebas masalah, namun mampu mengelolanya dengan baik. Bukan berarti ngga punya aktivitas, melainkan mampu mengatur jadwal dengan efektif. Ngomongin hidup ringan, dari buku Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan yang aku baca beberapa waktu lalu memaparkan definisi hidup ringan. Salah satunya adalah meringankan isi rumah.

Wah maksudnya gimana? 


Rumah adalah tempat tinggal, tempat kembali, tempat keluarga berkumpul. Rumah seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan, alih-alih tempat yang dihindari. Salah satu indikator menyenangkan versiku adalah rasa nyaman melihatnya secara fisik dan menghabiskan hidup dengan orang terkasih.


Kira-kira kalian lebih betah berada di rumah yang terasa lapang atau pengap karena begitu banyaknya barang? Tak peduli berapa ukuran rumah, rasanya sebagian besar kita lebih nyaman berada dalam rumah yang terasa lapang.

Kata kuncinya adalah benda. Percaya atau tidak, benda-benda bisa menjadi pemicu emosi seseorang. Syukur-syukur emosi positif, tapi bagaimana kalau emosi negatif?

So, yuk kita mulai meringankan isi rumah dengan tujuh tips ini. Bersiap ya!

1. Kumpulkan dan Kelompokkan
Bukalah wadah-wadah penyimpanan seperti lemari baju, laci, rak dan sebagainya. Oh ya, kamu bisa mulai dari ruangan tertentu, misalnya kamar. Keluarkan seluruh isinya. Duh lega gitu ngga sih melihat wadah penyimpanan kosong melompong? Meskipun ternyata di sekitarnya berantakan akibat barang-barang yang baru aja kita keluarkan.

Oke, selanjutnya kelompokkan. Baju dengan baju, aksesoris dengan aksesoris dan lain sebagainya. Kadang kita bakal dibuat kaget karena ternyata kita menyimpan barang yang tak seharusnya atau justru bahagia karena menemukan barang yang lama tak ditemukan. Dengan mengelompokkan barang dalam menyimpannya, tentunya memudahkan kita mencari barang. Imbasnya anti stress saat nyari barang deh.

2. Kurasi!
Jengjeng inilah saat mendebarkan, menentukan barang mana yang mau kamu pertahankan atau lepaskan. Nah buat yang masih sulit melepaskan coba pakai indikator: simpan hanya yang kita benar-benar butuhkan dan membuat hidup lebih ringan serta bahagia.


Masih banyak juga? Gini deh, yakin aja kita sebenarnya hanya perlu 20% dari barang yang kita miliki sekarang. Insya Allah hidup akan terus berjalan tanpa barang-barang itu. Misal, ada syal kesayangan sementara wilayah tinggal kita beriklim tropis, jelas kemungkinan besar kita ngga membutuhkannya.
Tujuan kurasi adalah hidup dengan barang yang kita butuhkan.

3. Siapkan Kotak Barang Keluar (KBK) dan Kotak Barang Ditunda (KBDt)
Merasa ngga sih menambah barang baru lebih mudah ketimbang mengeluarkan barang lama? Alasannya karena bingung mau ditaruh dimana? Mungkin kamu bisa membuat sebuah Kotak Barang Keluar, sebuah kotak berukuran sedang yang menampung barang-barang yang sudah pasti tidak lagi kamu butuhkan. Jangan lupa sambil mencari informasi "majikan baru" bagi mereka. Misal, buku-buku untuk taman baca, pakaian anak untuk diikutkan garage sale dan lain sebagainya.

Atau… kamu masih sayang atau masih ragu suatu saat bakal terpakai? Siapkan juga Kotak Barang Ditunda, kotak berisi barang yang kamu masih ragu membuangnya. Masukkan barang-barang yang membuat kamu ragu ke dalamnya. Sst ini juga berlaku untuk orangtua dengan anak balita. Biasanya anak balita tidak rela mainannya dibuang.

Coba, letakkan beberapa mainan lamanya ke KBDt ini. Konsep kerja KBDt adalah tunggu sampai 3 bulan apakah dalam rentang waktu itu kita atau anak akan mencarinya? Jika tidak, fixed, sudah layak masuk Kotak Barang Keluar!

4. Berikan Wadah Tetap Bagi Barang-barang
Kurasi sudah dilakukan, saatnya memberi rumah bagi barang-barang tersisa yaitu wadah. Tentukan wadah yang tepat. Misal untuk wadah mainan anak menggunakan box berukuran sedang, pakaian dalam satu lemari satu pintu dan lain sebagainya. Jadikan ini fixed room alias ukurannya ngga akan membesar (syukur-syukur ukurannya mengecil, misal lemari pakaian dua pintu menjadi satu pintu). Wadah tetap membatasi barang-barang kepemilikan kita.

Susun dengan baik dan mudah terlihat, mulai dari barang yang paling sering diperlukan sampai yang hanya momentum tertentu, Misal, wadah paling bawah untuk cangkir tamu, di atasnya untuk piring-piring makan.

5. Lakukan Sistem Ekonomi Sewa-Pinjam dan Jual Beli Preloved
Tips ini sebenarnya lumayan ampuh dalam mengurangi kepemilikan barang. Coba biasakan ketika membutuhkan sesuatu, alih-alih langsung membelinya, jika memang barang itu sesuatu yang tak masalah dalam kondisi bekas sekalipun, cobalah meminjam, menyewa atau membeli preloved-nya. 

Masih bingung mencari referensinya? Kalian bisa browsing aplikasi sewa menyewa, komunitas Saling Beri, komunitas Tukar Baju. Jika ada info terkini, akan aku update ya.

6. Disiplin Mengembalikan Barang
Setelah semuanya telah tersusun rapi dan kita bisa dikatakan hidup hanya dengan barang yang diperlukan dan membuat bahagi serta ringan, selanjutnya buat aturan yang berlaku tak hanya diri kita, tapi juga semua penghuni di dalam rumah: mengembalikan barang kembali ke tempatnya begitu selesai digunakan. Salah satu penyebab berantakan adalah karena barang tergeletak tidak dalam wadahnya dan ini menjadi permasalahan umum. Mulai sekarang, yuk, lebih disiplin dengan hal ini. 

7. Tahan Diri
Ujian ketika kita menjadi seorang minimalis adalah datangnya godaan berupa promo atau diskon barang tertentu. Misalnya beli 2 dapat 3 atau beli 2 lebih hemat, memang sih kita butuh barang itu tapi yang dibutuhkan hanya 1. Memang harganya lebih murah atau dapatnya lebih banyak, tapi sisa barangnya mau dikemanakan? Kecuali kita bersepakat dengan orang lain untuk membeli barang yang sama. Nah ini untung.

Tips di atas menurutku bukanlah kondisional atau berlaku pada kondisi tertentu. Dalam artian pada dasarnya setiap orang bisa mewujudkannya, mereka yang belum ataupun sudah menikah, punya anak balita atau tidak dan berapapun jumlah anggota keluarga di rumah.

Oh ya tips di atas juga jadi pedomanku setiap kali melakukan kegiatan bebenah. Ya, meringankan isi rumah kurang lebih sama artinya dengan berbenah.

Manusia dan barang-barang memang ngga bisa dilepaskan. Manusia membutuhkan barang, tapi harus tahu juga seberapa banyak jumlahnya. Coba deh, cek lemari pakaian kita. Apakah terasa sesak sementara kita masih membutuhkan pakaian lain?

Jika ya, maka saatnya ada barang yang harus dilepaskan~

Selamat meringankan isi rumah!

Inspirasi: Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan (Francine Jay, 2019) dengan modifikasi penulis berdasarkan pengalaman.



56 komentar:

  1. Susahnya emang di kurasi dan godaan pas diskon! Ibuku pun lagi usaha kurasi baju-baju dan buku. Soalnya pusing lihat lemari yg penuh

    BalasHapus
  2. Bagus banget nih tipsnya, aku juga lagi menerapkan gaya hidup minimalis Mbak. Hidup jadi lebih tenang karena barang yang dimiliki tidak begitu banyak. Dulu aku hobi banget koleksi lipstik, sekarang ngeliat lipstik yang masih ada di rumah jadi pikir-pikir lagi kalau mau belanja. Lumayan deh menghemat budget.

    BalasHapus
  3. Menarik banget mbak bahasannya. Kalau buat aku pribadi yang paling sulit pasti di langkah nomor 6, yaitu mengembalikan kembali barang yang sudah diambil. Kadang lupa atau karena satu dan lain hal memindahan barang tersebut... malah jadi lupa menaruh barangnya dimana saja. hehehe

    BalasHapus
  4. Pengen mulai deh hidup minimalis. Punya barang yang bener-bener kepake. Bismillah

    BalasHapus
  5. Masalahnya, saya selalu merasa berat untuk melepaskan barang yg sudah pernah dipakai, atau ada di rumah. Hehehe
    Harus dikuatkan lagi niat dan komitmennya nih ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tipe sentimentil kayaknya teh Okti kayak aku hehe

      Hapus
    2. Oalah, baru tahu ada tipe sentimentil gitu?
      Belum lagi nih baik anak atau suami, kalau ambil sesuatu itu jarang dibaliknya ke tempat semula. Udah saya bawelin, baru deh nyimpn balik meski sambil ngedumel hehehe

      Hapus
  6. Kotak barang keluar dn kotak barang ditunda. Wooww aku baru tahu nih mba. Patut dicoba ini ya. Emang meminimalisir barang itu penting banget.

    BalasHapus
  7. Sebelum puasa sempat bebersih lumayan besar-besaran karena sekalian pindahan rumah, dan memang kerasa sih, kok barang jadi banyak ya huhuhu. Yang paling susah dilepas itu masih buku. Merasa ntar bakal perlu gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga Mbak Lei :') bismillahirrahmanirrahim semoga dimudahkan

      Hapus
  8. Ini dia nih, kemari baru aja ngelakuin dcluttering isi lemari sih mba, plus gemes banget aku pengen decluttering isi lemari dapur mama, banyak banget ya ampun wadah-wadah plastik itu semua disimpan di lemari padahal gak semuanya kepake

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi jdi lebih lega ya Mbak abis decluttering

      Hapus
  9. Kalau kurasi gitu suka bingung juga sih, ah sayang nih.. Eh masih bagus, haha. Hanya aja demi memudahkan dan keringkan beban lemari, semua dapat terselesaikan

    BalasHapus
  10. Kalau kurasi gitu suka bingung juga sih, ah sayang nih.. Eh masih bagus, haha. Hanya aja demi memudahkan dan keringkan beban lemari, semua dapat terselesaikan

    BalasHapus
  11. Kalau kurasi gitu suka bingung juga sih, ah sayang nih.. Eh masih bagus, haha. Hanya aja demi memudahkan dan keringkan beban lemari, semua dapat terselesaikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akupun pas awal awal demikian, hihi. Kuncinya diubah ke digital ajaa biar tetep ada

      Hapus
  12. Ini beneran practical tips nya. Kalau mau meminimilasir barang dirumah. Kadang suka banyak barang gak perlu. Dijual atau diberikan sama yg membutuhkan lebih baik. Mesti tega

    BalasHapus
  13. Bener banget mba kita juga bisa hidup lebih menyenangkan hanya dengan 20% dari barang2 yang kita punya saat ini. Sebagai penjaga gawang di rumah, wajib banget deh melakukan 7 langkah tadi ;)

    BalasHapus
  14. Love banget tips nya Mba. Saya suka kurasi dan walau berat tapi demi kesehatan jiwa raga saya berusaha carikan majikan baru buat barang2 tereliminasi itu :D

    BalasHapus
  15. Tips nya mantap nih...aku belum terlaksana
    Pernah sih udah beberapa menyisihkan eh, malah ga berlanjut. Kadang ya itu kayanya sayang kalau harus disingkirkan seperti akan butuh suatu saat nanti

    BalasHapus
  16. cakep ni tipsnya bikin pencerahan buat kita2 agar dapat mengatur tata letak rumah agar lebih rapi dan nyaman

    BalasHapus
  17. meski belom sepenuhnya jalani gaya hidup minimalis ini, sejak baca buku ttg gaya hidup minimalis, ku dah mulai praktekkin dr sejak 2 tahun lalu sekalian mengeluarkan banyak furniture kayu (dan isinya) yang kena rayap...terasa lbh lega rumah dan juga pikiran sih mengurangi banyak barang dri rumah. Cuma mmg kudu konsisten...BTW tipsnya kece banget nih wajib dipraktikin

    BalasHapus
  18. Alhamdulillah aku ga termasuk orang yang tergoda untuk beli barang2 yang promo buy 1 get 2 atau promo dapat tambahan barang lain. Aku mikirnya mubazir karena cuma mau pake 1 barang. Jadinya aku lebih milih promo cashback atau diskon biar ngurangin jatah belanja hehe

    BalasHapus
  19. Bagian disiplinnya masih kurang kalau buat saya. Kadang-kadang masih suka naro sembarangan. Abis itu lupa menyimpannya di mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Plus mensosialisasikan ke penghuni rumah yah Mbak. Akupun masihe effort nih hehe

      Hapus
  20. wah kayanya bner2 harus diterapkan nih hidup minimalis kaya gini. selain bermanfaat untuk diri sendiri juga bermanfaat untuk org disekitar

    BalasHapus
  21. Selama tiga bulan di rumah aja bareng suami dan anak, udah mulai juga tuh beres-beres dan milih- milih barang yang sudah ngga kepakai , dan hasilmya memang melegakan , apalagi kalo bisa berbagi barang yang sudah ngga kita pakai tapi masih bagus dan berguna buat orang yang kita kasih .

    BalasHapus
  22. Proses Kurasinya yang masih sulit, hikss. Padahal sebulan sekali aku selalu bongkar lemari dank

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah udah bisa konsisten bongkar lemari Mbak Hani 😁👍

      Hapus
  23. Proses kurasinya masih masih susah buatku, hikss. Padahal beberapa bulan sekali aku selalu bongkar lemari dan pisahin mana yg sudah gak terlalu diperlukan untuk diberikan ke yang lebih membutuhkan. Tapi pasti ada aja yang rasanya ingin tetap dipertahankan, haha. Memang perlu niat dan tekad yang bulat ya.

    BalasHapus
  24. Aku udah menerapkan hidup minimalis ini dari tahun lalu. Lebih nyaman ya rasanya. Di rumah emang sengaja ga ada gudang, biar ga kebiasaan numpuk barang.

    BalasHapus
  25. pekerjaan rumah saya yang terberat nih
    karena tinggal di rumah almarhum bude, jadi ngga leluasa
    Padahal rumah rasanya sesak dengan barang yang ga pernah digunakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mulai dari kamar sendiri mungkin, Ambu, hehe.

      Hapus
  26. Yaampun kak ini kok aku jadi diingetin lagi yah kalo harus beres-beres rumah hehe. Malesnya itu loh yang belum ada obatnya. Hehe momen kurasi ini loh yang membingungkan, mana yang harus dibuang (mantan) mana yang harus disimpan hehe :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkk yg pasti yang memberikan emosi negatif, hempaskanlah~

      Hapus
  27. Udh lama aku sbnrnya mau ngelakuin begini. Rasanya pengen ngebongkar seluruh isi rumah, trus brg2 yg ga dipake lgs dibuang aja. Tp masalahnya, suami beda pendapat. Dia tipe yg LBH suka menyimpan barang drpd membuang. Siapa tau butuh prinsipnya. Dan aku benci sbnrnya prinsip begitu.

    Jd kadang2 aku ngelakuinnya diem2 mba. Membuang barang2 dia yg menurutku udh ga dibutuhin. Toh emang kebanyakan ga dipake LG.

    Barang terlalu banyak itu malah jd sarang tikus. Dan aku paling takut kalo smpe rumah dimasukin tikus :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga Mbaak huaaah jijik sekali kalo ada mouse. Emang pe er juga ya Mbak kalo masih beda pendapat. Harus ada sesuatu berhikmah yg ditunjukkan hehe

      Hapus
  28. Bagian yang beneran bikin aku langsunh jengjengjeng untuk belajat hidup minimalis itu, bagian kurasi. Poin 2 aja udah nyiksa.

    Masalahnya adalah, kebanyakan barang di rumah itu pemberian dari mama dan bundo mertua alias aku jarang belanja barang saking hobinya dibeliin. Ada rasa nggak enak hati kalau barang barang (terutama untuk dapur dan perlengkapan lainnya) menghilang dari rumah dan pas mama atau bundo mertua datang dan nanyain kabar barang yang beliau berikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah well noted banget Kak. Tapi ngga semua barang sentimentil harus dieliminasi kok. Tetap boleh disimpan asal wadahnya fixed :)

      Hapus
  29. Evisyahida

    Dari hari kehari barang-barang dirumah makin banyak aja.
    Dari mulai perabotan dapur sampe pakaian.

    Dulu pernah pengen membuang beberapa barang yang emang jarang kepake karna bikin sumpek.
    Tapi masih kepikiran "Ah nanti kalau butuh barang ini lagi gimana?"

    Sekarang mau mantapin niat lagi ah... Buang barang yang gak perlu dan mulai hidup minimalis kayaknya lebih nyaman.

    BalasHapus