Menjadi Ibu Teladan Ngemil Bijak Bagi Anak dengan Mindful Snacking

 

#NgemilBijak

Kita perlu bangga hidup sebagai warga negara Indonesia atau yang memegang erat kebersamaan. Apa sih yang selalu ada dalam setiap kebersamaan atau perkumpulan?


Makanan. Coba deh kita ingat-ingat lagi, setiap kegiatan yang kita datangi, pasti ada jamuan makanan (kecuali jika di jam-jam puasa Ramadan). Rasanya hambar ya tanpa jamuan makanan. Maka bisa dibilang, makanan adalah  sesuatu yang mempererat kebersamaan.

Ada beberapa manfaat dari makanan selain menghilangkan rasa lapar seperti meningkatkan moo, meningkatkan hormon kebahagiaan dan shut down emosi negatif.  Karena makanan ada yang murah dan mahal. Sebagian besar pun mudah didapatkan.

Kebiasaan Ngemil dari Keluarga
Tempo hari aku mengikuti webinar #NgemilBijak yang diadakan oleh Mondelez dengan narasumber Thara De Thouars (psikolog klinis) dan Khrisma Fitriasari (Head of Corporate Communication Mondelez Indnesia) dan Alfa Kurnia (Ketua Divisi Blog Ibu Ibu Doyan Nulis). Dalam webinar membahas tentang kegiatan ngemil termasuk mindful snacking sebagai langkah ngemil bijak. Bicara soal makanan, camilan merupakan salah satu jenis makanan. Rasanya sebagian besar dari kita tak ada yang tak pernah makan camilan atau biasa disebut ngemil.
Virtual Sharing #NgemilBijak
(sumber: IIDN)


Sayangnya, terkadang tanpa sadar ngemil yang kita lakukan adalah sebuah emotional snacking/eating yaitu makan untuk pelarian. Tentunya ini badalah sesuatu hal yang harus dihindari. Alih-alih emotional eating, alangkah baiknya ngemil dilakukan dengan bijak. Dengan begitu, ngemil bisa menghasilkan emosi positif.

Nah, kabar baiknya, ngemil bijak bisa dimulai dari keluarga. Kenapa?

Keluarga adalah lini terkecil kumpulan orang. Keluarga juga merupakan pondasi awal membentuk beragam kebiasaan, termasuk kebiasaan ngemil.

Sebanyak 92% dari sebuah survei mengatakan bahwa camilan yang mereka berikan terinspirasi dari camilan yang diberikan orangtua. Misal orangtua ngeteh, anak demikian. Atau, aku pernah menemukan kebiasaan ngemil seseorang yang "agak aneh" ternyata dulu orangtuanya pun melakukan hal yang sama.

Baca Juga: "Sang Tiga Pilar Pendidikan"

Aku sendiri mengalami hal ini. Aku sangat suka minum es teh dan ngegadoin timun. Ternyata keduanya menurun dari bapak yang juga menyukai keduanya. Pengalaman ini juga didukung hasil survei State of Snacking 2019 dari Mondelez International menyebutkan, sebanyak 85% orangtua di Indonesia menurunkan kebiasan ngemil pada anaknya dan 89% menurunkan camilan kesukaan mereka pada anaknya. Nah jadi makin sadar ya betapa peran orangtua, terlebih ibu, berperan sekali dalam membentuk kebiasaan ngemil anak.

Tiga Peran Ibu dalam Kebiasaan Ngemil Anak
Ibu, digadang-gadang sebagai sekolah pertama bagi anak. Rasanya sebagian besar dari kita pun setuju. Segala yang dilakukan ibu sangat berpotensi menurun pada anak termasuk urusan ngemil. Ada tiga peran ibu dalam kebiasaan ngemil anak, antara lain:
1. Sebagai Role Model
Anak melihat perilaku orangtua terutama ibu, alam bawah sadarnya merekam hingga akhirnya motoriknya mengikutinya. Apalagi anak adalah peniru ulung. Oleh karenanya ibu harus menjadi role model yang baik dalam membangun kebiasaan ngemil.

2. Sebagai Penanggungjawab
Meski tanggungjawab membangun kebiasaan ngemil yang baik bukan hanya tanggung jawab ibu melainkan juga ayah, tapi disadari atau tidak, ibu paling memegang peran terlebih jika ibu adalah stay at home mom.

3. Sebagai Tuntutan Lingkungan
Tuntutan lingkungan membuat ibu harus memberikan camilan yang baik.
Biasanya komentar lingkungan lebih didengar. Misal anak sehat anak chubby, padahal belum tentu. Atau anak kurus dianggap kurang gizi padahal bisa saja pengaruh genetik.

"Kondisi psikilogis ibu akhirnya membuat ibu berpikir, ada beban tanggung jawab ibu untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan kelurga. Hal inipun membuat kecemasan tersendiri." ungkap Thara.
Peran Ibu dalam Ngemil Bijak
Peran Ibu dalam Kebiasaan Ngemil Anak
(sumber: dokumen pribadi)

 

Nah, nah, disinilah solusi dibutuhkan.

Mindful Snacking: Tahap, Tips & Manfaat
Emotional snacking adalah ngemil karena nafsu, pelarian dan keinginan semata tanpa adanya kesadaran dan kebutuhan. Sedangkan mindful snacking, kebalikannya, ngemil dengan penuh kesadaran karena butuh serta memanfaatkan seluruh pancaindera saat melakukannya. Hadir penuh dan sadar penuh, kuncinya.

Mindful snacking bisa menjadi solusi jitu dalam membangun kebiasaan ngemil bagi ibu yang berefek bagi keluarga. Ada tiga tahap nemulai mindful snacking yaitu:

Pertama, kenapa ngemil? Temukan alasan mengapa  kita harus ngemil. Apakah karena lapar (kebutuhan fisik) atau karena sekadar ingin.

Kedua, camilan apa yang saya inginkan. Pahami camilan yang cocok sesuai alasan mengapa ingin ngemil. Misal karena lapar, perlu camilan yang lebih berat atau makan manis mood baik. Ngemil untuk sekadar menunggu makanan sementara sudah masuk jam makan pun tak masalah, bisa dengan camilan yang ringan.

Ketiga, bagaimana saya menikmatinya. Ngemillah secara sadar. Fokus ngemeal tidak menyambi hal lain. Manfaatkan seluruh indera. Inilah poin penting dalam mindful snacking.


Ada beberapa tips ngemil bijak dengan mindful snacking antara lain:
Cek Sinyal Tubuh
Kita adalah yang paling mengenal tubuh kita sendiri termasuk sinyal-sinyal yang diberikannya.
Ingin ngemil apakah  karena lapar? Butuh berapa banyak?

Lakukan Relaksasi
Emosi dan logika ngga mungkin jalan bareng, sebabnya ketika ingin ngemil artinya emosi sedang naik. Oleh karenanya penting menggunakan rasionalisme kita dengan relaksasi lalu tanyakan pada diri: apakah saya benar-benar membutuhkannya?

Bagaimana melakukan relaksasi?
  1. Tarik nafas 4 detik, tahan 4 detik, lepaskan 4 detik, tahan 4 detik.
  2. Turunan emosi dan naikkan logika. Apakah ini tepat untuk saya? Apakah pilihan terbaik? Sesuaikan dengan kebutuhan? Action apa yang diperlukan?
  3. Kalau jawabanmu tetap makan no problem, keputusan terbaik.

Fokus pada Kegiatan Ngemil
Pernahkah kamu ngemil sambil membaca buku, menonton film atau beraktivitas lainnya? Ngemil sambil beraktivitas lain nyatanya membuat jumlah camilan yang kita makan berlebihan, tanpa sadar. 
Maka dari itu, pastikan saat ngemil kamu banya ngemi supaya bisa fokus dan tidak berlebihan.

Fungsikan Kelima Indera
Ini adalah poin penting dam mindful snacking, memanfaatkan fungsi kelima indera. Misalnya peraba untuk meraba camilan, penciuman untuk mencium bau camilan, penglihatan untuk melihat rupa camilan, pengecapan untuk merasakan camilan dan pendengaran untuk mendengar bunyi kunyahan dalam mulut. Nikmati ngemil dengan perlahan, tak perlu terburu-buru. Makan terlalu ceoat secara tidak langsung menyebabkan berat badan naik karena membuat seseorang lama kenyangnya.

Delay Gratification
Mana yang kita lebih pilih; mengutamakan kesenangan saat ini tapi tidak peduli ke depannya atau menahan sebentar agar dapat keuntungan setelahnya. Rasanya opsi kedua adalah pilihan yang bijak, ya. Nah opsi itu juga cocok dilakukan sebelum ngemil. Oleh karenanya penting melakukan delay gratification. Bagaimana caranya?

Tunggu 15 - 20 menit sebelum ngemil atau sebelum nelanjutkan ngemil. Dalam rentang waktu itu, perut akan mengirim sinyal ke otak apakah kita sudah benar-benar kenyang atau belum. Alih-alih kita langsung ngemil atau lanjut ngemil terus tanpa jeda.

Ngemil Bijak
Narasumber mengajak audiens mempraktikkan mindful snacking
(sumber: dokumen pribadi)


Bersyukur
Apapun makanan yang sudah masuk ke dalam mulut, syukuri alih-alih menyesal. Hanya membuat destruktif. Selanjutnya boleh membuat perencanaan, misal:
"Saya akan menakar cemilan berikutnya."
"Besok malam saya ngga ngemil karena sudah ngemil "

"Kampanye #NgemilBijak merupakan inspirasi agar masyarakat memilih camilan yang tepat, mengonsumsinya pada waktu yang tepat, serta menikmati camilan tersebut dengan cara yang tepat pula." ungkap Khrisma Fitriasari (Head of Corporate Communication Mondelez Indonesia).
Mindful Snacking
Tahap, Tips dan Manfaat Mindful Snacking
(sumber: dokumen pribadi)



 

Lantas, apa sih manfaat dari mindful snacking?

  • Meminimalisir kenaikan berat badan berlebih akibat ngemil
  • Kegiatan ngemil jadi lebih menyenangkan dan tanpa penyesalan
  • Bisa menurunkan kebiasan ngemil bijak pada keluarga terutama anak

Pengalaman Menurunkan Kebiasaan Ngemil di Keluarga
Benar adanya bahwa kebiasaan ngemil oragtua sangat berpotensi menurun pada anak. Aku sadari itu. Maka sejak anak kami, Abrisham, mulai MPASI, kami benar-benar selektif memilihakan makanan untuknya. Goalnya waktu itu Abrisham terbiasa makan sayur dan buah. Goal ini berhasil diraih.

Tapi tak ada tujuan tanpa tantangan, terlebih ketika semakin ia tumbuh besar, ia mulai mengenal camilan kurang sehat lewat anggota keluarga lain dan teman-temannya. Mulai dari es gopek-an, chiki berMSG dan lain sebagainya pernah masuk ke tubuhnya berulang kali. Tak hanya soal jenis camilan tapi juga snacking time yang sungguh berantakan. Akibatnya berdampak pada jam makan besarnya.

Akhirnya aku dan suami mulai bersepakat kembali membuat daftar camilan "yes" dan "no" dan yang boleh sesekali dimakan. Kami juga tidak menaruh camilan di tempat yang dijangkaunya terutama ketika jam makan besar tiba.

Sebagai ibu, ada harapan terselip nantinya Abrisham akan bisa melakukan mindful snacking saat waktunya tiba.

Menjadi Teladan Ngemil Bijak Bagi Anak
Beberapa saran yang disampaikan Mbak Thara dam menjadi teladan ngemil bijak bagi anak antara lain:
1. Membenahi perilaku makan orangtua sehingga  menjadi contoh yang baik untuk anaknya. Lakukan mindful snacking dan mindful eating.

2. Mengatasi kecemasan dan perasaan bersalah yang justru membuat ibu tidak memberikan yang terbaik. Kebutuhan atau keinginan adalah love VS pity.

3. Mengutamakan apa yang lebih baik untuk anak, bukan sebatas apa yang diinginkan oleh anak.

"Mengajarkan kebiasaan ngemil yang baik, keluarga sehat dan happy tanpa rasa bersalah terhadap camilan." ujar Thara menutup sesi webinar.

Semoga kita bisa ya, Moms!

Tentang Mondelez
Mondelez nerupakan perusahaan multinasional yang bergerak dalam bidang industri makanan merek makanan Kraft Foods serta produsen minuman  terkemuka dunia yang berpusat di Amerika sejak 1923. Mondelez dikenal sebagai pemimpin global di kategori cokelat, biskuit, permen, dan minuman bubuk. Mereka memiliki berbagai merek yang sudah menjadi ikon global, seperti Oreo, keju Kraft, Cadbury Dairy Milk, dan Toblerone.  Pada tahun 2013, Mondelez International berhasil masuk dalam daftar Fortune 500, sebuah daftar peringkat perusahaan berdasarkan pendapatan kotornya yang disusun oleh majalah Fortune setiap tahunnya. 
Mondelez
Brand Mondelez International



Di tahun 2020 Mondelez hadir dengan tagline #NgemilBijak, sebuah ajakan pada masyarakat untuk mengkonsumsi camilan secara bijak.  Menyadari pentingnya peran keluarga dalam membentuk kebiasaan baik, Mondelez Indonesia mengajak para orangtua utamanya ibu untuk menerapkan kebiasaan #NgemilBijak, Harapannya Mondelez bisa menjadi inspirasi untuk melakukan ngemil bijak sehingga lebih baik untuk pikiran, hubungan yang lebih positif dengan camilannya.

Tulisan ini dikutsertakan dalam lomba Ngemil Bijak yang diadakan oleh Ibu-Ibu Doyan Nulis

#NgemilBijak
(sumber: IIDN)


23 komentar:

  1. Ngemil itu juga nurun ya mbak. Betul juga soalnya cemilan yang aku buatin untuk anak juga banyak yang nyontek dari mama

    BalasHapus
  2. Membangun kebiasaan emang paling mudah di lini terkecil seperti keluarga. Saya ingat kalo ayah ngemil ya menyediakan biskuit. Akhirnya saya pun begitu .
    Di rumah kebiasaan ngemil emang harus sehat tanpa kelebihan kalori, tanpa MSG , pewarna dan pemanis buatan.

    BalasHapus
  3. Bener banget surveynya, Mba. Anakku nurun dari emaknya.

    Kalau aku ngemil biasanya karena pengen/laper. Nurun juga jadinya ke anak.

    Ternyata ada ya yg namanya mindful snacking. Menarik pembahasannya.

    BalasHapus
  4. Kalau ibunya mencontohkan ngemil yang nggak bijak maka si anak pun demikian ya akan meniru. Pembelajaran nih yang perlu dinggat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi bisa dipraktikkan ke orang terdekat Mbak Fen.

      Hapus
  5. saya suka banget ini ngemil, gak laper pun saya ngemil. Duh salah banget ya, coba deh saya perbaiki lagi untuk lebih bisa kontrol ngemil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jugaaa :D bismillahirrahmanirrahim perlahan ya Mbak

      Hapus
  6. aku nggak suka ngemil mba tapi anak bungsu ku tuh yang masih setahun lagi demen banget makan, mulutnya nggak mau berhenti kunyah-kunyah, bisa juga kah diterapkan untuk anak-anak mindful snacking ini ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa Mbak tapi diwesuaikdi usia anak. Kalau masih setahun lebih ke brainstorming dulu, hihi maklum kalo belum bisa ngikutin

      Hapus
  7. Huhu bener banget ini, aku baru nyadar kalo kebiasaan ngemil kita ngefek ke kebiasaan ngemil, bahkan kebiasaan makan keluarga. Aku sering ngeluh dan negur anak-anak dengan kebiasaan makan mereka yang gak bener. Ternyata mereka nyontoh dari kebiasaan aku yang ngemil sembarangan. Gak mindful banget. Kudu mulai diubah nih kebiasaan aku dalam hal ngemil. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menjadi orangtua memang menjadi Teladan ya Mbak :') semangat terus berproses :')

      Hapus
  8. Ah iya, ibu itu harus bisa jadi teladan bagi anak-anaknya ya mbak..
    Termasuk buat mindfull eating dan snacking

    BalasHapus
  9. Ngemil bijak ini banget ya Mbak, agar kita gak kalap kl ngemil hehe... mindful snacking ditanya dl ke diri sendiri ya sbenernya ngemil itu buat apa n jangan disambi yg lain biar gak kebablasan

    BalasHapus
  10. Mindful eating masih jadi PR besar buatku. Huhuu. Selama pandemi, kerjaan banyak ngemil yang enak, bukan yang sehat

    BalasHapus
  11. Ternyata ngemilnya aku ini mempengaruhi ngemilnya anak-anak dan seluruh anggota keluarga ya Mba, kadang aku kalo lihat snack discount asal beli aja padahal micin semua dan anak-anak jadi ikutan ngemil. Baru engeh aku kalo ngemil itu harus bijak, makasi sharingnya Mba.

    BalasHapus
  12. Bener nih ngemil harus bijak jadi ga hanya ngemil tapi harus sehat

    BalasHapus
  13. aku kalau ngemil kadang suka lupa diri. Sekali ngemil bisa habis 1 bungkus biskuit. he. Ini lagi berusaha menerapkan ngemil bijak biar nggak kebabalasan

    BalasHapus
  14. Berat ini kalau ngemil harus pakai kata bijak yang ada hap makan semua kalau saya

    BalasHapus
  15. Nah iya kita love or pity our body and our kids' body? Emang kesannya jahat sih melarang junkfood atau snack yang manis-manis. Tapi jangka panjang, our kids will thank us.

    BalasHapus
  16. Memang harus mulai bijak nih apalagi kalau udah berumur. Dulu waktu anak2 ngemil coklat 1 potongan kotak per hari cukup. Sekarang kok kalo ga 1 bungkus kurang puas 😂

    BalasHapus