Ads 468x60px

Kamis, 12 September 2013

Kemajuan Bangsa di Tangan Wanita Bergelar Ibu


sumber: google.com

“Wanita adalah tiang negara.”
Kata-kata tersebut dikutip dari salah satu hadits dalam Islam. Empat buah kata yang bukan tanpa makna, bukan pula omong kosong belaka. Empat buah kata yang bermakna filosofis luar biasa. Empat buah kata yang sudah tak lagi asing di telinga bangsa Indonesia. Selayaknya yang kita pahami definisi dari tiang yakni penyangga atau penguat. Begitulah analogi yang diberikan untuk kaum hawa. Sebuah bangunan tanpa tiang tak akan mampu berdiri kokoh, bahkan mungkin bisa roboh. 

Banyak orang berbicara mengenai emansipasi wanita yang berarti persamaan gender. Padahal wanita dan laki-laki jelas berbeda. Sama sekali tidak dapat dipersamakan dalam hal kodrati. Berdasarkan fitrahnya, wanita jelas berbeda dengan laki-laki. Wanita dianugerahi beberapa hal yang tidak dianugerahkan pada laki-laki. Air matanya bukanlah merupakan kelemahan, melainkan kekuatannya. Adalah suatu hal yang kurang lazim jika wanita mengerjakan pekerjaan berat atau kasar seperti laki-laki. Sebab wanita cenderung menggunakan perasaan dibandingkan dengan otak. Ya, begitulah wanita dengan segala keunikan, kesederhanaan dan keistimewaannya.
Berbicara mengenai wanita, berbicara pula mengenai ibu. Seperti ungkapan salah seorang tokoh revolusi, Mohammad Hatta :
"Perempuan adalah ibu. Seorang ibu ibarat sekolah. Apabila kamu siapkan dengan baik, berarti kamu menyiapkan suatu bangsa yang harum namanya."
Ungkapan di atas tidaklah berlebihan dalam memuliakan wanita sebagai pembangun peradaban. Dari rahimnya akan lahir generasi-generasi bangsa. Jika ibunya baik, niscaya anaknya akan baik pula. Entah akan jadi seperti apa generasi tersebut, tapi peran wanita sebagai ibu tetap tak dapat dilepaskan. Oleh karenanya, merupakan suatu kewajiban membina diri ke arah kebaikan, sejak muda, sebelum terlambat dan menyesal.
Berbicara mengenai bangsa, berbicara pula mengenai sistem politik dan pemerintahannya. Memang tak banyak wanita yang turun langsung di bidang politik maupun pemerintahan. Akan tetapi mereka berperan aktif di belakang layar dalam mendidik putra putri bangsa. Meski tak dapat dipungkiri di zaman sekarang, semakin banyak bermunculan para politikus wanita yang menduduki kursi-kursi pemerintahan.
Pada zaman dahulu kala, begitu maraknya kasus nikah muda di kalangan wanita. Belum genap berusia seperempat abad, bahkan beberapa ada yang masih berusia belasan, menikah sudah menjadi putusan mereka. Semata-mata hal tersebut tidak hanya disebabkan kemauan wanita, akan tetapi lebih kepada asumsi masyarakat awwam mengenai wanita yang mengharuskan hidupnya berakhir di dapur, bukan sekolah. Sungguh tragis, padahal baik laki-laki maupun wanita memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan. Terlebih wanita kelak akan menjadi ibu, sebab itulah penting bagi mereka mengenyam pendidikan sebagai bekal mendidik anak-anaknya.
Di era modern seperti saat ini, tak sedikit wanita yang sudah menikah memutuskan untuk menjadi wanita karier. Namun, tak sedikit pula yang menjadi ibu rumah tangga tulen. Sebetulnya di antara keduanya tidak ada komparasi signifikan yang mengundang polemik selama mereka mampu mengutamakan keluarganya. Masalahnya adalah apakah para ibu yang menjadi ibu rumah tangga tersebut dapat menggunakan waktunya dengan baik?
Kebanyakan ibu yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, cenderung menghabiskan waktunya untuk berbincang-bincang atau dalam bahasa yang agak kasar adalah ‘ngerumpi’. Mulai dari urusan dapur hingga apa saja dapat menjadi bahan perbicangan. Jika memang memutuskan diri menjadi seorang ibu rumah tangga, jadilah seorang ibu rumah tangga yang cerdas luar dalam.Jangan mau menjadi ibu rumah tangga yang hanya paham persoalan dapur dan ranjang.
Menduduki peran sebagai ibu rumah tangga bukan berarti mengakhiri peran di dunia luar. Menduduki peran sebagai ibu rumah tangga bukan pula berarti menjadikan dapur dan ranjang sebagai pembatas. Ibu rumah tangga pun dapat turut  berkiprah bagi bangsa, dimulai dari lingkungan sekitarnya. Hal ini pula yang mengilhami menjamurnya industri rumah tangga yang ditekuni oleh beberapa ibu rumah tangga. Tentunya sebelum terjun ke dunia industri, mereka harus dibekali berbagai ilmu. Ilmu tersebut bukan sekedar ilmu menghitung, namun juga ilmu marketing. Pada proses ini, kecerdasan intelektual seorang ibu diasah kembali.
Tak hanya industri rumah tangga yang bernilai finansial, namun juga kerap dijumpai para ibu rumah tangga yang bergerak di bidang sosial. Mereka turut aktif dalam berbagai organisasi sosial dalam bidang pendidikan, lingkungan, kesehatan dan sebagainya. Finansial bukanlah tujuan utama mereka. Tujuan mereka tak lain dan tak bukan adalah untuk kemajuan bangsa. Kegiatan-kegiatan tersebut secara tidak langsung melatih kecerdasan sosial sebab berkaitan erat dengan hubungan sosial antar manusia.
Selain cerdas secara sosial dan intelektual, seorang wanita bergelar ibu pun harus cerdas spiritual. Kajian agama yang digelar setiap beberapa pekan sekali menjadi sumber energi spiritual bagi para ibu.
Meski diliputi banyak aktivitas di luar rumah, namun kebutuhan keluarga menjadi prioritas utama bagi seorang wanita yang bergelar istri dan ibu tersebut. Akan menjadi hal yang sia-sia jika urusan eksternal berjalan dengan baik, sementara urusan internal kacau balau. Dengan ditunjang ketiga kecerdasan di atas yakni kecerdasan sosial, intelektual dan spiritual, semakin lengkaplah peran seorang wanita bergelar ibu dalam memajukan bangsa. Hal itu tentu dapat diterapkan dalam mendidik anak-anak mereka sehingga kelak akan dihasilkan generasi cerdas dan bermoral. Generasi tersebut kelak akan memimpin tonggak peradaban bangsa.
Jangan mau menjadi wanita yang biasa-biasa saja, jadilah wanita yang luar biasa. Jangan mau menjadi wanita yang berlebih-lebihan, jadilah wanita dengan segala kesederhanannya. Usia, ras, suku, agama bukanlah pembatas untuk berkarya. Saatnya wanita turut berkontribusi. Saatnya wanita Indonesia berdedikasi. Untuk kemajuan bangsa, bangsa Indonesia. Majulah wahai, wanita Indonesia! Majulah, para wanita bergelar ibu!

0 comments:

Posting Komentar

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!