Ads 468x60px

Senin, 14 Oktober 2013

Shyka dan Buku Ajaib

www.google.com

Hari itu seperti biasa Shyka pergi ke toko buku untuk membeli alat tulisnya yang mulai habis. Beberapa meter di depan pintu masuk, sekeluarnya ia dari toko buku, sebuah buku teronggok di depannya. Ia memungutnya dan segera membawanya ke rumah. Ia mulai membukanya. Buku itu berisi berbagai macam ilmu pengetahuan. Tidak ada judul di kaver buku itu. Shyka pun menamakannya dengan 'Buku Ajaib'.


Gadis kelas 2 SMP itu tidak pernah terpikirkan untuk mencari tahu pemilik asli buku itu. Berhari-hari, berbulan-bulan bahkan dua tahun lebih ia buku itu berada di sisinya. Setiap hari ia selalu menuliskan cerita baru di lembar kosong buku itu. Setiap kali itu pula, buku itu balik memberinya pengetahuan baru tentang apapun, mulai dari tentang sains dan ilmu umum lainnya.
"Aku tidak tahu siapa pemilikmu. Tapi jika memang kamu harus kembali pada pemilikmu suatu hari nanti, aku ikhlas." sebetulnya Shyka agak ragu dengan kata-kata ini, namun ia berusaha cuek.
Namun suatu hari saat Shyka tengah bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang ketua OSIS di SMP, Buku Ajaib tak merespon apapun. Esok harinya saat ia menuliskan cerita lainnya, lagi-lagi buku itu tak bereaksi. Saat itu pula, salah seorang sahabat Shyka, Ticha ingin menginap di rumahnya karena kedua orangtua Ticha sedang berada di luar kota sedangkan di rumahnya hanya ada ia dan pembantunya. Shyka yang merupakan anak tunggal, tentu saja senang memiliki teman tidur. Beberapa jam sebelum Ticha datang ke rumahnya, Shyka sengaja menyembunyikan Buku Ajaib. Ya, ia tak ingin ada orang lain yang mengetahui keberadaan buku itu kecuali ayah dan bundanya.
Sepanjang sore hingga malam hari Shyka dan Ticha mengobrol. Hingga bunda menyuruh keduanya tidur karena besok mereka harus sekolah. Malam harinya ketika Ticha sudah tertidur, Shyka mengambil Buku Ajaib. Ia mulai menulis. Namun betapa terkejutnya ia ketika Buku Ajaib membalasnya dengan sebuah tulisan.
"Aku adalah milik Ticha."
"Maksudmu?" Shyka balas menulis.
"Aku adalah milik Ticha."
Shyka segera menutup Buku Ajaib, menyimpannya dan pergi tidur. Ia berharap kata-kata si Buku Ajaib hanya bunga tidur belaka.
Tiga hari sudah Ticha berada di rumah Shyka. Selama itu pula Shyka tidak bercerita apapun pada si Buku Ajaib. Memang sesekali ia sempat membuka itu namun yang dijumpainya masih tulisan yang sama. Ia mulai merasa sedih.
"Shyka, besok orangtuaku sudah pulang."
Entah kenapa Shyka merasa senang. Ia berharap dengan kembalinya Ticha ke orangtuanya dapat membuat Buku Ajain berhenti menuliskan nama Ticha. Namun harapan hanya sekedar harapan. Malam hari setelah pulangnya Ticha, Shyka mencari Buku Ajaib. Ia yakin tak salah menempatkan namun tak ditemuinya buku itu. Ia mulai pasrah, duduk terkulai lemas.
Tiba-tiba pikirannya kembali ke masa-masa kemarin. Saat Buku Ajaib terdiam setelah ia menuliskan cerita. Saat Buku Ajaib terus menerus menggaungkan nama Ticha. Saat ia berkata ia rela kehilangan buku itu. Itu semua ternyata sebuah pertanda!
"Tidak! Kamu punyaku, bukan Ticha! Aku tidak mau kehilanganmu!" ucapnya tertahan.
Semakin air matanya mengalir, semakin ia menyadari buku itu memang bukan miliknya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ticha. Awalnya ia tak mau mengangkat, tapi itu bukanlah pilihan yang bijak.
"Ya, Tich?"
"Shy, kamu harus tahu. Di tasku ada sebuah buku..."
Belum sempat Ticha melanjutkan kata-katanya, Shyka menyanggah. "Itu punyamu, Tich. Itu milikmu."
"Maksudmu?"
Tidak. Shyka tidak sanggup lagi. Ticha tidak boleh tahu buku itu pernah menjadi temannya. Ticha tidak boleh tahu ia menangis hanya karena kehilangan buku itu.
"Shy? Shyka?"
Klik!
---
Semua berlalu begitu cepat. Kini Shyka sudah berada di negeri lain, Jepang, untuk pertukaran pelajaran. Terpisah dengan Ticha. Terpisah dengan Buku Ajaib. Tidak ada satupun buku yang seperti Buku Ajaib, mampu merespon setiap memoar yang dituliskannya. Tak ada lagi tempat untuk menulis kisah-kisah itu. Satu hal yang penting;
jika memang bukan milikmu maka sekeras apapun usahamu untuk menahannya, tak akan pernah bisa membuatnya bersamamu selamanya...

0 comments:

Posting Komentar

 

Mathematics is...

"Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratunya Matematika."
-Gauss, a mathematician-

I Have A Dream...

Jika kamu memiliki mimpi, maka tuliskanlah, tempelkanlah di tempat strategis dan berikhtiarlah! Man Jadda Wa Jadaa! Mestakung!