Mengenal Sekilas Tentang Therapy Play dan Play The Danish Way

 


Saat itu, Februari 2019, aku mengambil beasiswa short course Montessori yang kudapatkan dari Montessori Haus Asia. Salah satu teman sekelasku ternyata adalah teman blogger, namanya mom Gesi. Dia bercerita, dia juga sedang (atau sudah?) mengambil course therapy play. Disitulah kali pertama aku mendengar istilah therapy play. Hanya sekadar disitu.

Hingga akhirnya di bulan Desember 2020 aku mendapatkan kesempatan mengenal lebih jauh soal therapy play. Bermula saat salah satu penerbit mitra Birupink Bookstore menerbitkan buku Play The Danish Way. Setiap pembeli masa PO mendapatkan kesempatan ikut Kuliah Telegram (kultel) bertema Therapy Play.


Sebelum kultel, aku sempat mencaritahu apa itu Therapy Play hingga aku berkesimpulan, theraplay diperuntukkan hanya untuk anak berkebutuhan khusus.

Tapi itu terbantahkan ketika aku membaca penjelasan narasumber kultel, Mbak Astrid Wen. For your information, Astrid Wen adalah praktisi pertama therapy play di Indonesia lho!

Hubungan Theraplay dan Buku Play the Danish

Oh ya, sebagai intro, buku Play The Danish yang ditulis oleh Iben Dissing Sandahl adalah buku  yang menceritakan "keajaiban" bermain bebas bagi anak dalam perspektif Danish (warga negara Denmark). Tahu sendiri dong, Denmark dikenal sebagai negara paling bahagia dunia!

danish way


Ternyata therapy play (theraplay) dan konsep bermain dalam buku tersebut memiliki persaman lho! Sama-sama mendukung adanya waktu bermain bagi anak. Dalam buku Play the Danish, penulis mendukung untuk orangtua memberikan waktu bermain bebas tanpa struktur untuk membantu anak mengekspresikan dirinya dan juga mengasah kreativitas. 

Ada salah satu prinsip dalam bermain ala Denmark (Danish way) yaitu relasi, artinya saat anak bermain bebas, orangtua dapat mengobservasi kebutuhan emosi anak. Pada akhirnya orangtua dapat mengisinya melalui perhatian, afirmasi, kata-kata yang mewakili perasaan dan pikiran anak saat anak sedang bermain bebas tersebut.


Mengenal Therapy Play

Secara bahasa therapy play berarti terapi bermain. Secara harfiah, therapy play atau kerap disebut theraplay adalah permainan dengan semi-struktur (artinya pakai struktur dari orangtua, tapi ga strict-strict banget, jadinya semi-semi situ namanya). Ada dua jenis theraplay; bermain theraplay dan intervensi theraplay.



Bermain Theraplay adalah bermain dengan prinsip Theraplay yang bertujuan untuk membangun dan meningkatkan hubungan antara anggota keluarga, khususnya antara orangtua - anak. Sedangkan intervensi terapi Theraplay adalah intervensi yang dirancang khusus oleh terapis Theraplay dengan menggunakan permainan-permainan Theraplay untuk tujuan bukan hanya membangun dan meningkatkan, tetapi juga memulihkan dan memperbaiki hubungan antara orangtua-anak.

Pada intervensi terapi, terapis merancangnya khusus sesuai kekuatan setiap keluarga dan untuk memenuhi kebutuhan emosi anak. 

Theraplay dapat dilakukan untuk segala usia, baik sejak masih dalam kandungan hingga saat lansia. Iya, lansia. Meski intervensi theraplay sendiri dalam bentuk terapi keluarga paling efektif dilakukan untuk usia 3 - 14 tahun. Untuk anak atau dewasa di atas usia 14 tahun, theraplay biasanya dikombinasikan dengan intervensi terapi lain dan juga dilakukan secara berkelompok. 

Mengapa? 

Karena saat individu telah mencapai usia 14 tahun ke atas, mereka lebih sering memilih untuk konseling langsung atau bersama-sama dilakukan secara berkelompok dengan teman-teman sebaya. Di Turki, Theraplay Group diberikan kepada para pengungsi. Sedangkan di Amerika, Theraplay Group diberikan kepada para lansia dan juga para tahanan penjara. Theraplay memiliki satu visi yaitu membentuk bonding antar anggota yang menjalani Theraplay, meningkatkan kepercayaan dan menguatkan kelompok sebagai satu unit secara positif.

Nah.. theraplay menekankan prinsip relasi yang telah dipaparkan di atas. Dalam theraplay, relasi antara orangtua dan anaknya yang menjadi pusat perhatian. Apapun konsep kegiatan bermainnya, baik melalui Danish way atau theraplay way, keduanya dibutuhkan anak. Anak membutuhkan adanya kegiatan bermain bebas (tanpa campur tangan orangtua). Ia pun juga membutuhkan kegiatan bermain yang bersama-sama lekat dengan kita. Lengkap, bukan?

Hal ini sama seperti orang dewasa seperti kita saat sedang mendalami hobi. Ada saatnya kita senang melakukannya sendiri. Ada saatnya kita ingin ada pasangan atau mentor atau teman sehobi yang sungguh bersama-sama dengan kita dan memberikan kita komentar atau dukungan yang membuat kita merasa berharga dan bersemangat.


Tanya Jawab

Untuk lebih memberikan gambaran jelas tentang theraplay, berikut tanya jawabnya.

1. Apabila anak sudah duduk di bangku kelas 2 SMA, 6 SD dan 1 SD adakah metode Theraplay yang dapat diterapkan?

Jawab:

Tergantung peruntukkan theraplay-nya. Jika bermain Theraplay saja, maka Theraplay biasanya paling cocok untuk anak usia 1 dan 6 SD diatas. Sedangjan untuk yang anak 2 SMA, libatkan dia sebagai kakak dan pendamping kita dalam melakukan bermain theraplay bersama-sama dengan adik. Untuk intervensi terapi Theraplay, terapis melihat bahwa anak usia 2 SMA masih sangat membutuhkan hubungan koneksi dengan orangtuanya, maka bermain theraplay di bawah supervisi terapis akan menjadi intervensi yang tepat baginya.


2. Bagaimana jika anak bermain cross gender? Apakah ini akan mempengaruhi kondisi psikologis si anak nantinya?

Jawab:

Hai Ibu, untuk pertanyaan diatas, menurut buku Play The Danish Way, anak-anak tidak apa-apa bermain cross gender. Saya mendukung ini. Yang paling penting sebenarnya kita perlu melihat lebih jeli. Dalam permainan tersebut, seperti salah satu prinsip Play The Danish Way yang lainnya yaitu mengedepankan kesetaraan, maka kita perlu melihat permainan yang dilakukan oleh anak-anak di lingkungan tinggal kita; apakah saat mereka bermain, baik bermain tembak-tembakan atau bermain bola, mereka memperlakukan temannya satu sama lain secara setara (tidak ada yang di bully atau direndahkan oleh teman-temannya) atau tidak?

Jika kita memiliki anak perempuan, kita tidak perlu khawatir karena sebenarnya selain anak kita bermain dengan anak-anak tersebut, ia juga bermain dengan kita orang-orang di rumah kita. Ia juga akan bermain bebas secara sendiri. Ia juga mungkin akan bermain dengan teman-teman perempuan di luar kompleksnya. Pada waktu-waktu yang lain, Ibu boleh memfasilitasi dengan permainan-permainan yang lebih lembut ritmenya dan lebih rileks. Ibu juga boleh menambahkan kegiatan yang lebih banyak mengandung peran gender perempuan. Dan berikan waktu bermain bersama-sama dengan dia.

Saat kita sesama perempuan, perempuan dewasa bermain dengan anak perempuan, dengan relasi yang positif dan menyenangkan, akan membawa dia untuk mengamati, menyerap, memilih, dan juga mencontoh cara-cara kita berperan sebagai perempuan setiap harinya. 

Semoga penjelasan ini menenangkan Ibu dan memberikan informasi yang membantu ya Bu.


3. Bagaimana tips agar anak bisa bermain bebas tanpa harus takut bullying?

Jawab:

Jika Ibu melihat bahwa permainan yang dimainkan oleh anak-anak lelaki di lingkungan tinggal Ibu rentan dengan bully dan Ibu kerap melihat anak perempuan tetangga sering ditinggal, bisa jadi anak perempuan tersebut bukannya tidak punya skill tetapi juga merasa tidak nyaman untuk terus bermain bersama ya Bu. Dan jika ia tidak terus dipanggil bermain bersama juga tidak apa-apa karena menjauhkan ia dari lingkungan rentan kekerasan. 

Tips agar anak bisa bermain bebas tanpa harus takut dibully adalah:

  • hargai ekspresi anak dalam bermain
  • mendengarkan anak lebih sering
  • hargai diri kita juga, beri pengetahuan mengenai batasan pribadi setiap orang
  • tumbuhkan budaya apresiasi dalam keluarga. 

Budaya bully jangan sampai dibiarkan tumbuh di keluarga. Hindari kebiasaan nyinyirin anak atau memalukan diri anak di depan orang. Bully biasanya rentan terjadi pada anak-anak yang pendiam, kurang percaya diri, dan tampak lemah. Dengan kita membangun budaya saling menghargai aturan dan batasan, saling menghargai, dan mendukung masing-masing anggota keluarga kita, kita akan meminimalkan resiko bully terjadi pada anak kita.

Jika anak malas bermain dengan kita, kita perlu secara aktif dan peka untuk mencari koneksi dengan anak terlebih dahulu. Artinya aktif bukan menerobos personal space anak ya, tapi secara lembut dan kita observe kira-kira dimana ya kita bisa cari kaitan koneksi secara aman?

Misalnya jika anak asik bermain mobil-mobilan, kita bisa bermain disampingnya, main mobil2an juga. Tak perlu terburu-buru mau bermain bersama, tapi cukup bermain masing-masing berdekatan tidak apa-apa.

Contoh lain, jika anak lagi asik bermain dengan binatang peliharaannya, misal dia sedang mengelus-elus si kucing, kita bisa katakan "hmm nyaman sekali si Miaw (sebut nama kucingnya) di elus." Berikan notifikasi-notifikasi ringan, misalnya ketika ia bermain dengan sang kucing hingga tertawa, kita bisa ikutan tertawa juga. Samakan ritme dan level ketertarikan kita dengan anak. ibarat radio (cieh radio.. siapa disini masih anak radio? atau sudah spotify?), kita lagi nyobain satu frekuensi dulu dengan dia.

Atur ekspektasi kita dengan  cukup rileks dan santai, tulus ingin berikan perhatian pada anak. Biasanya akan membawa ketertarikan anak pada kita.

Oh ya apabila Moms membutuhkan buku Play The Danish Way, Moms bisa hubungi Birupink Bookstore atau klik link disini. Buku bisa dibeli dengan harga di bawah normal lho!

Dan... Dalam waktu dekat, Mbak Astrid Wen akan menerbitkan buku Therapy Play lho! Stay tuned ya di Instagram @birupinkstore agar tidak ketinggalan infonya!



Selamat bermain bersama si kecil Mom!

34 komentar:

  1. menarik banget banyak insight yang aku dapat nih soal theraplay, aku pikir tadinya ini untuk terapi anak kebutuhan khusus ternyata memang untuk umum yaaa

    BalasHapus
  2. Seru banget pembahasan therapy play ini dan memang sangat dibutuhkan bagi orang tua jaman now, yang kebanyakan sibuk bekerja diluar ato di dalam rumah. Meningkatkan kedekatan dan bonding dengan anak dengan sebuah terapi bermain semoga bisa menciptakan hubungan yang harmonis keluarga.

    BalasHapus
  3. begitu denger therapy play iya aku mikirnya untuk anak dengan kebutuhan khusus, eh ternyata gak ya. bermain bagi anak emang penting ya mba, bukan soal asa mereka anteng dan senang tapi banyak proses tumbuh kembang yang mereka lalui melalui bermain. termasuk seperti cerita ketika anak main dengan kucing di atas, persis saya dan anak - anak saya yang kebetulan emang melihara kucing. sejak awal di ajari secara tidak langsung untuk sayang hewan, memberi makan dan bertanggung jawab jika sakit, kotor dan belum makan juga gak menyakiti hewan.

    kalau kita sebagai orangtua ikut main dengan anak, selain terpantau kalau saya sih ikut seneng juga dan ketawa bersama anak kalau ada hal yang lucu dan konyol. jadi kebahagiaan tersendiri, hehe

    BalasHapus
  4. Menarik sekali ada buku khusus untuk anak berkebutuhan khusus yang disebut dengan Therapay Play. Pasti sangat berguna dan bermanfaat bagi mereka yang membutuhkannya.

    BalasHapus
  5. Senang banget baca tulisan keluarga muda karena penuh ilmu baru
    Seperti Danish way, theraplay way, semua untuk mendukung kualitas anak Indonesia

    BalasHapus
  6. Tips nya mau aku share ke temen2 ah. Soalnya kasian juga kan anak-anak yang ingin bermain tapi rentan terkena bully-an. Semoga tips nya bisa diterapkan oleh para orang tua dimanapun yah mba ;)

    BalasHapus
  7. Nice infonya mbak, buku itu bermanfaat sekali untuk anak-anak sebagai therapy meningkatkan hubungan orangtua dan anak

    BalasHapus
  8. aku baru tau nih tentang theraplay, informasi yang menarik.
    Makasih ya infonya :)

    BalasHapus
  9. "Budaya bully jangan sampai dibiarkan tumbuh di keluarga. Hindari kebiasaan nyinyirin anak atau memalukan diri anak di depan orang. Bully biasanya rentan terjadi pada anak-anak yang pendiam, kurang percaya diri, dan tampak lemah."

    Duh Saya setuju banget point yang ini, kadang secara tidak sadar orangtua sendiripun melakukannya. Maksudnya baik ,tapi caranya salah. Semoga bisa diadaptasi banyak orang

    BalasHapus
  10. Cara mendidik anak ternyata bisa beragam jenis dilakukan ya. Kalau bisa calon orangtua dan yang sudah menjadi orangtua memang perlu menambah wawasan artikel seperti ini agar bisa diterapkan dalam keluarga

    BalasHapus
  11. mba gesi alisa mbak grace melia yaa ini tuh mbak.. aku pernah ikutan kulwapnya dia, akhirnya setelah itu jadi sindir2an sama suami kalau kita tiba2 sibuk sama gawai, karena kita harus jadi playful parents saat bermain dengan anak. bermain itu sarana yang baguuus bgt yaa, sayagnya orang masih ngira main itu nggak guna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbaak.

      Hihi. Being playful is a must yah.

      Hapus
  12. Sekarang buat kebutuhan dan mengenal anak jadi lebih banyak metodenya. Secara gak langsung pola didik anak pun ikut berkembang dan bisa tahu kapan mereka berargumentasi ya.

    BalasHapus
  13. Di daerah rumah ku susah untuk mengaplikasikan kesetaraan. Padahal udah coba mengajarkan anak supaya bermain tanpa pandang bulu, tapi susah kalau lingkungan tidak mendukung

    BalasHapus
  14. Saya setuju point anak bermain cross gender. Mungkin bahasa Indonesia nya bertukar peran ya kak? Emang sih budaya di beberapa suku Indonesia masih tabu kalau anak perempuan mengerjakan pekerjaan anak laki maupun sebaliknya tapi ya perekmbangan zaman sepertinya tidak tabu lagi deh ya tentang pertukaran peran ini karena jadi bisa saling menghargai ya

    BalasHapus
  15. ternyata bermain pun bisa jadi bentuk terapi dan proses pendidikan tumbuh kembang anak juga ya mba, makanya sebagai orang tua perlu banget nih membuka diri dan cari info seluasnya tentang parenting ya, soalnya aku punya pengalaman, orang tua yang ga terlalu pro kalau anak main huhu

    BalasHapus
  16. Aku blum prnah therapyplay ke anak ku nih mba, pdhal dah 3th, tpi aku suka tanya gmna perasaan anak dri aktifitas harian, jdi selain observ aku jga tanya ke anak langsung

    BalasHapus
  17. Jadi kepikiran buat bikin permainan dan semakin banyak terlibat sama kegiatan anak-anak.

    BalasHapus
  18. Baru pertama kali dengar istilah therapy play, jd nambah ilmu nih terima kasih mba Visyaa

    BalasHapus
  19. Sesungguhnya aku baru tahu ni hal beginian, nanti kalau udah punya anak coba diterapkan ah

    BalasHapus
  20. Ini menarik mba, ada di dalam buku itu ya. Mau beli ah, biar bisa dibaca dan dipelajari

    BalasHapus
  21. temenku ada yang ikkutan theraphy play ini cuma tadinya kupikir ini buat anak kebutuhan khusus eh ternyata buat semua anak bisa semua ya mak baru tahu banget ini

    BalasHapus
  22. Bermain memang punya peran yang sangat penting buat anak, ya. Kalau ga cukup main, pas udah gede malah minta main terus dan susah serius jadinya

    BalasHapus
  23. Wah info baru ini mbak ;) bener ya sesempurna apapun gaya parenting yg mau kita terapkan, tetap aja harus menyamakan dulu frekuensi yg pas sama anak :)

    BalasHapus
  24. Wah seru sekali mba. Kalau boleh tau dimana ikut pelatihannya ya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Montessori kah Mbak? Atau Theraplay-nya? Kalo Theraplay ini aku ikut kuliKu Telegram hehe

      Hapus
  25. tuh kan bermain bersama anak itu penting. Itu bakalan terekam di memori mereka selamanya.

    BalasHapus
  26. Jadi pengen praktek Therapy Play ini ke keponakan deh.

    Paling suka sama orangtua yang selalu membimbing anaknya ke arah pembentukan emosi dan psikologis supaya anak tersebut bisa sehat mental kelak usianya sudah dewasa..

    BalasHapus