Hidup Minimalis dengan Enam Cara Meringankan Kadar Stress

 



Hidupmu milikmu, kamu yang merencanakan dan merancang, meski tetap Tuhan yang menentukan hasilnya, termasuk merancang bagaimana jiwa kita bisa bahagia.

Sebagian besar orang tentu menjadikan 'merasa bahagia dan tanpa stres' adalah hal yang diidam-idamkan. Dalam prinsip hidup minimalis, hidup dengan less stress termasuk bagian di dalamnya. Ya, minimalis bukan sekadar materi maupun barang-barang fisik, melainkan juga kondisi mental atau jiwa seseorang yag secara langsung berkaitan dengan kadar stres.


Berikut beberapa tips meringankan kadar stres yang aku sarikan dari buku Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan-nya Francine Jay.

1. Menolak dengan Ringan
Apakah kamu termasuk tipikal orang yang 'susah menolak'? Jika ya, kita setipe. Tapi itu bukanlah hal yang patut dipertahankan, terlebih jika didasari rasa tidak enakan. Dalam buku Lagom Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia, dijelaskan bahwa orang-orang Swedia adalah tipe yang terang-terangan menolak jika memang mereka tidak menyanggupi atau tidak pas untuk diri mereka.

Menolak bukan sekadar berkata tidak, tapi tetap harus memperhatikan adabnya. Menolak juga harus dipertimbangkan terlebih dahulu. Meskipun ada waktu-waktu kita diminta menjawab cepat, maka jawablah secepatnya tanpa menunda. Kalaupun pada akhirnya harus menolak, menolaklah dengan santun dengan tiga langkah.

1.  Ucapkan terimakasih
2. Lanjutkanlah dengan memberi alasan yang rasional
3. Ini bersifat opsional, jika kamu punya saran yang lebih baik, tak ada salahnya jika disampaikan.
Misal, ketika ditawari posisi tertentu dalam komunitas, pikirkan dengan penuh kesadaran. Setelah dipertimbangkan, ternyata kita harus menolak karena amanah saat ini menurut kita sudah pas. Dan kita melihat ada orang lain yang lebih cocok. 

Kurang lebih penyampaiannya begini,
"Terimakasih atas penawaranmu. Aku senang kamu mengingatku. Tapi mohon maaf aku belum bisa bergabung dikarenakan aku sudah ada prioritas lain, khawatir tidak bisa maksimal di komunitasmu. Jika kamu mau, aku punya rekomendasi orang yang cocok."

Kedengarannya lebih enak alih-alih langsung berkata tidak, bukan?

2. (Sesekali) Matikan Koneksi
Teknologi memang memudahkan banyak hal, apalagi di kala pandemi begini yang segala sesuatunya serba virtual, umumnya. Tapi pernah ngga sih kalian ngerasa ada kebisingan virtual yang seolah tak berhenti pada smartphone berkuota internet yang kita punya?
sumber: Norwood Themes from Unsplash

Sepertinya sesekali kita perlu mencoba memutuskan koneksi dengan cara berikut:
Bisa dimulai dengan mematikan nada dering atau notifikasi. Sebagai gantinya kamu bisa tetapkan waktu berkala untuk mengecek sosial media. Misal, pertiga jam sekali. Namun jika memang ada notifikasi yang sangat urgent yan sedang kamu bantikan, yak ada salahnya menyalakan notifikasi khusus tersebut.

Kalau mematikan ponsel sama sekali belum bisa dilakukan, bisa dicoba dengan mematikan paket data beberapa jam atau sehari di hari libur.

Buat rule bebas ponsel di waktu tertentu, misal saat makan atau saat bersama keluarga.

Naaah, manfaatkanlah momen ini untuk menatap wajah orang-orang tercinta, alih-alih menatap layar ponsel. Bahagia, bukan?

3. Meringankan Jadwal
Ada orang yang berprinsip 'menuliskan jadwal' adapula yang 'let it flow'. Aku termasuk tim menuliskan jadwal'. Lantas di antara keduanya mana yang paling tepat? Tentulah yang paling tepat adalah yang palig cocok bagi dirimu sendiri. Aku pribadi memilih menuliskan jadwal' lantaran aku tipe pelupa.

Gambar oleh Karolina Grabowska dari Pixabay

Tak harus menimpa jadwalmu dengan sepadat-padatnya, tapi seproduktif-produktifnya yang kamu bisa. Sibuk tak selalu berarti produktif. Pilah pilah kegiatan mana yang prioritas kamu lakukan, biasanya berkaitan dengan amanah profesional dan amanah domestik. 

Kayaknya untuk hal ini, sebagian besar sudah paham ya?

Oh ya kita juga bisa menikmati setidaknya satu hari tanpa jadwal', biarkan ia mengalun secara alami. Eh, tapi kalau bisa tetap berkegiatan positif ya, jangan wasting time, hehe.

Untuk di hari-hari biasa, supaya waktumu lebih efektif, Francine Jay menyarankan kita membuat "koreografi rutinitas", bagaimana pekerjaan rutin seperti mengepel, menyapu, dan lain sebagainya berjalan lebih efektif.

4. Membangun Jaring Pengaman
Setiap individu pasti memiliki kekurangan. Menyadari kekurangan dan berupaya mencari solusinya adalah sebuah langkah bijak. Itulah yang disebut jaring pengaman, sebuah upaya yang dilakukan ketika kita (terpaksa) harus terjatuh. Misal, seseorang dengan antibodi lemah, menerapkan gaya hidup sehat, mengkonsumsi obat tertentu.
sumber: Unsplash

Cobalah buat daftar jaring pengaman pada beberapa sisi kehidupan kita. Misalnya:

  • Untuk finansial, apakah kita susah memiliki cukup dana darurat dan asuransi terhadap aset-aset kita?
  • Untuk profesional, apakah kita memiliki jejaring rekan kerja yang luas serta skill yang bisa menghasilkan materi? 
  • Untuk medis, apakah kita sudah memiliki asuransi jiwa atau asuransi kesehatan?

Jika belum, ada baiknya mulai mengambil langkah membangun jaring pengaman. Misal, menabung dana darurat, memilih asuransi yang tepat dan lain sebagainya.

Baca Juga: Tujuh Langkah Meringankan Isi Rumah

5. Mengikuti Panggilan Hati
Mengikuti panggilan hati memang  kadang tak mudah, apalagi jika kita tahu pilihan yang menguntungkan justru yang tidak sesuai panggilan hati. Jika sudah begitu, perlu waktu memang, juga motivasi kuat apa yang kita dapatkan jika mengikuti panggilan hati.
sumber: Harald Arlander from Unsplash

Agar lebih mudah menemukan panggilan hati, cobalah untuk:
  • Menelaah apa yang membuatmu semangat. Pikirkan bagaimana hal tersebut mampu menghasilkan l kebahagiaan dan kedamaian.
  • Menelaah hal-hal yang menghalangi kita dalam menemukan panggilan hati, coba untuk menguranginya
  • Pikirkan dengan sadar apakah pekerjaan kita saat ini sudah selaras dengan panggilan jiwa kita? Jika tidak, coba temukan langkah yang bisa kita lakukan.

6. Meringankan Makna Sukses
Seringnya stres bersumber pada keinginan mewujudkan makanan sukses menurut ukuran konvensional. Padahal makna sukses setiap orang berbeda. Solusinya, rumuskan sendiri rumus dan ukuran sukses versi kita. Pilih yang lebih ringan tapi tak membuat kita menyepelekan melainkan bergairah. Sesuatu yang terkesan "biasa-biasa saja" seperti kebaikan hati, tubuh dan pikiran sehat ternyata juga bisa dimaknai sebagai "sukses".
sumber: Unsplash

Stres memang tak bisa benar-benar dihilangkan, tapi bisa diringankan atau diminimalisir serta dimanage. Dan.. pemeran utamanya adalah diri kita sendiri. Dari beberapa cara di atas, tentu yang utama selalu mendekatkan diri denganNya.

Yuk, hidup minimalis dengan ringankan kadar stresmu!

45 komentar:

  1. Setuju banget
    Internet emang banyak membantu sekaligus menyebabkan addicted penggunanya
    Dan yang namanya addicted pasti ngga baik, harus distop sebelum kebablasan

    BalasHapus
  2. Wah tips yang sangat bermanfaat utk hidup minimalis. Terutama makna tentang stres

    BalasHapus
  3. Saya berada di poin 2 mba, harus meminimalisir data seluler malah saat ini mulai memutuskan puasa medsos. terimakasih mba tercerahkan dari tulisan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat Mbaak! Walau orang yang berpenghasulan daru sosmed tapi sesekali patut dicoba juga puasa soamed

      Hapus
  4. Saya juga agak suka stress sih mbak, kadang bisa dikontrol dan kadang juga gak bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau merasa sudah (agak) parah baiknya menghubungu psikolog terdekat Mbaak, atau pakai aplikasi rilivπŸ™πŸ€—

      Hapus
  5. bahkan dalam islam pun disebutkan bahwa semakin sederhana justru jauh lebih baik ya mba, lebih tenang. dan aku merasakan dengan minimalus pun begitu.

    BalasHapus
  6. Saya termasuk yang susah sekali bilang tidak bisa jika diminta orang lain. Sepertinya harus belajar ya biar bisa hidup minimalis

    BalasHapus
  7. Aq tipikal org yg susah utk menolak huff.. thanks sharing ya sangat bermanfaat sekali

    BalasHapus
  8. Setuju dengan semua poinnya :).

    Kdgkala, stress itu datang Krn tingkah kita sendiri yg suka mempersulit diri. Padahal dengan hidup minimalis, kadar kerepotan dan segala yg bikin pusing bisa jauuuh berkurang. Kurangin gengsi dan perbanyak investasi, kadar stress Krn merasa kurang duit pasti jd hilang :D.

    So far aku belajar utk makin berani bilang tidak kalo emmang ga sesuai dgn Ku. Ilangin deh rasa2 ga enakan. Merasa ga enak nolak, tp diri sendiri malah stress ngerjainnya.

    BalasHapus
  9. November lalu aku sempat puasa insta, rasanya lebih plong. Terus aku kadang orang yg bikin+ngikutin jadwal kadang let it flow juga (mungkin ini yg bikin stres wkwk) we learn to be better everyday aja deh daripada dibawa pusing πŸ˜…

    BalasHapus
  10. Yang nomor 2 kadang masih susah mbak, dulu pernah akhir pekan off medsos, tapi karena ada beberapa kerjaan sekarang weekend pun harus online

    BalasHapus
    Balasan
    1. No worries Mbak. Bisa dikurangin dulu aja jam online nya hehe

      Hapus
  11. Nah point 1 dlu yg musti kurubah nih mba, "ga enakan" apakah smua orang jawa bgitu?

    BalasHapus
  12. Tipsnya bermanfaat bgt mba untuk belajar hidup minimalis, namun aku masih susah nih mba yang point 1 dan 2, susah buat nolak dan matikan koneksi, padahal yang biasa bikin stress emang point nomer 2 sih

    BalasHapus
  13. Sebagai orang yang overthinking, stres jadi makanan sehari-hariku hehehe. Kayanya aku perlu banget baca buku Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan-nya Francine Jay ini, Mbak

    BalasHapus
  14. Kebetulan bngt mba visya aku udah masukin buku ini di wishlist ku, eh jd udah ada gmbrn dikit nih sama isinya dgn review mba visya ini. Skrg lg baca bukunya leo babauta dlu..


    Beberapa konsepnya agak sama yaa, intinya emang compete with ourself first, gawai emang distraksi bgt yaa.. Makasih utk reviewnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah aku malah belum pernah denger Leo Babauta

      Hapus
  15. Menolak dengan ringan rasanya cukup sulit ya, mbak. Karena gak ada penolakan yang baik-baik saja.

    Tapi kalo masalah matikan jaringan. Ini ampuh banget. Aku sering nerapin ini kalo lagi sumpek πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya ringan, kita lakukan dengan ringan, tanpa overthinking :)

      Hapus
  16. Aku udah coba menerapkan no smartphone dalam sehari dan rasanya plong banget, jadi lebih produktif dan tenang. Sekarang pun, aku mematikan semua notif socmed, ternyata dampaknya besar di aku. Aku jadi gak kecanduan main socmed, so, aku bisa memanfaatkan waktu untuk hal lain yang lebih positif.

    BalasHapus
  17. aku nih yang belum pernah coba ya detoks dari medsos deh tapi kalau buka sosial media gak setiap saat juga sih. Pengen banget deh nyobain seminggu tanpa sosmed gitu.

    BalasHapus
  18. matikan koneksi! belakangan saya pun juga terapkan ini, biarin deh mati sejenak WAnya dan lain sebagainya biar ada me time juga sih dan beresin kerjaan domestik juga.
    saat HP dicharge belakangan saya wajibkan untuk mati total tuh barang gak diintip-intip lagi sampai full.
    dan yeaaay, tumpukan lipatan bisa berhasil beres jadinya, hihihih

    BalasHapus
  19. Kalo aku si let it flow yang mau coba buat terjadwal sekarang, karena sering lupa haha. Kalo untuk menolak kayaknya aku sering lakuin, Alhamdulillah jadi lebih ringan nggak ada beban.

    BalasHapus
  20. Bner banget nih soal target sukses.. dulu sblm nikah tuh aku termasuk org yg ambisius jdnya cepet stres trus sering migrain haha skrg sih udh engga soalnya udh ada penyeimbang yaitu suamiku

    BalasHapus
  21. Itu yang pertama dan yang kedua aku banget nih, pantesan aku tuh mudah stress, jadi mudah lelah. Mesti di upgrade ulang nih kayak hape, merubah perilaku supaya bisa santai dan enjoy jalanin hidup.

    BalasHapus
  22. Kalo menolak ajakan mungkin relatif lebih doable daripada menolak barang pemberian. Apalagi dari orang dekat (mis. Keluarga).

    Ditolak itu bikin berantem, diterima itu mau disimpan di mana.

    Ini yang sampe hari ini masih dilematis buat saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. AhhAiya juga yaa.

      Barangnya bisa banget duhibahkad lho Kak. Saya masuk grup hibah gitu, kalo mau join juga bisa

      Hapus
  23. yess yang bisa mengontrol kadar stress hanya diri sendiri dan kita yang tau kemampuan kita mengerjakan sesuatu, kalau bisa apapun yang dikerjakan harus membuat hati senang, biar nggak jadi stress juga
    aku termasuk orang yang susah nolak mba, mungkin kalau bener bener nggak suka, baru aku buat penolakan

    BalasHapus